PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Kabar Dari Pasar


__ADS_3

"Ciye! Yang habis didatangi dua cewek cantik!" ledek salah satu wanita saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar.


"Apaan sih, biasa aja kok," sungut Julian sembari membaringkan tubuhnya ke atas kasur dan mengecek ponselnya.


"Udah cantik, pakaiannya juga mantap. Mas Jul nggak kegoda? Tadi pahanya mulus banget loh, semut aja bisa terpeleset tuh," ledek Kamila.


"Nggak lah, nggak selera. Paling bekas banyak orang."


"Hust! Masih suka aja berpikiran buruk! Baru juga kenal," hardik Safira. Julian langsung cengengesan merasa tak enak sendiri. "Nih pakaian yang sudah di kemas, antar ke rumah baru satu persatu, Mas."


"Oke!"


Julian bangkit dari rebahannya lalu meraih dua dus berisi pakaian dan membawanya ke luar rumah. "Dek! Ambilin kunci motor!" teriaknya.


"Haiss! Kenapa tadi nggak sekalian," gerutu Namira. Dia langsung bangkit dan meraih kunci motor yang menggantung di dinding dekat pintu kamar.


Tak butuh waktu lama, kini Julian sudah berada di rumah barunya. Dua kardus bekas kemasan mie, dia angkat dan dibawa masuk ke dalam di taruh di atas. Setelah itu, Julian keluar rumah hendak kembali mengambil barang.


Di saat Julian menyalakan motornya, matanya menangkap sosok yang telah menfitnahnya. Julian menatap tajam sosok wanita itu hingga yang ditatap merasa tegang dan salah tingkah. Julian pun segera menyalakan motornya dan mendekat ke arah wanita itu. "Maksud kamu apa? Ngefitnah aku ke Bapakmu?"


Wanita bernama Mirna itu langsung pucat pasi. "Siapa yang ngefitnah kamu?" Kilahnya.


Julian tertawa sinis. "Berbohong saja sampai kamu puas! Dasar sok cantik! Dibandingkan dengan istri istri aku, lebih cantik mereka ketimbang kamu."


Mirna langsung saja merasa kesal. Baru kali ini ada pria yang berani membandingkannya dengan wanita lain. Sejujurnya yang membandingkannya banyak, cuma baru kali ini ada yang berani terang terangan.

__ADS_1


"Cowok mana yang mau sama cewek tukang fitnah kayak kamu, menjijikan!" hina Julian lalu dia langsung tancap gas meninggalkan Mirna yang diliputi penuh amarah.


"Kurang ajar! Awas kamu, Jul. Aku nggak akan tinggal diam atas penghinaan kamu!"


Sementara itu di hari yang sama, terlihat Bu Sukma sedang melayani beberapa pembeli di lapaknya. Wanita itu memang sudah memilki pelanggan sendiri. Lapak yang luasnya hanya sekitar dua kali tiga meter itu, terlihat barang dagangan yang tersedia sangat lengkap.


"Semuanya jadi berapa, Bu?" tanya si pembeli.


"Tiga puluh lima ribu, Bu," jawab Bu Sukma sembari menyerahkan bungkusan plastik kepada Ibu yang tadi bertanya. Bu Sukma menerima selembar uang berwarna biru, dan menyerahkan uang kembalian sebesar lima belas ribu kepada pembeli tadi.


"Makasih, Bu."


"Sama sama."


Setelah melayani beberapa pembeli, kini Bu Sukma bisa istirahat sejenak. Diraihnya botol minum yang dia bawa dan disedot isinya hampir setengah botol.


"Habis beli celana kolor, buat Bapak," jawab Bu Jum sembari duduk di balik belakang meja dagangannya.


"Di tempatnya, Mas Jiwo?"


"Iya lah, disitu kan harganya miring," jawab Bu Jum. "Hebat ya Mas Jiwo. Punya tiga belas istri tapi akur gitu, kompak. Seneng dengarnya."


"Bener!" salah satu tetangga lapak menimpali. "Jiwo benar benar bisa membimbing semua istrinya dengan baik."


"Hahha ..." Ibu pedagang yang lain ikut menimpali sembari mendekat dan berdiri di depan lapak Bu Sukma. "Padahal istrinya tiga belas ya? Tapi bisa tenang gitu rumah tangganya. Malah hidupnya makin maju."

__ADS_1


"Mungkin karena Jiwo benar benar bisa adil. Lagian kalau bukan karena pertolongan Jiwo, nasib tiga belas wanita itu pasti bakalan buruk. Secara mereka kan bukan orang negara sini."


"Iya yah, mungkin karena itu juga, mereka pada nurut sama Jiwo. Bagi mereka, Jiwo itu ibarat pahlawan."


"Bu Sukma, Julian sendiri gimana? Aman aman saja kan rumah tangganya?"


Bu Sukma yang sedari tadi terdiam, sedikit kaget saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan tetangga lapaknya. "Sampai saat ini sih baik baik saja. Doakan saja Ibu ibu, semoga Julian juga bisa bersikap kayak Mas Jiwo."


"Aamiin," jawab Ibu ibu itu serentak. "Poligami itu susah loh ngejalaninya," ucap salah satu Ibu.


"Ya iyalah. Aku aja nggak bakalan mau dipoligami."


"Ahahh .. sama."


Beberapa pedagang yang ikut bergosip atau yang sekedar mendengarkan, saling melepas tawa. Begitulah kehiduan di pasar kalau lagi sepi. Para pedagang saling berbagi cerita untuk melepas penat sambil menunggu pembeli.


"Eh tahu nggak? Katanya sebentar lagi di kota ini akan dibangun Mall yang sangat besar."


"Yang benar, Bu?"


"Gosipnya sih gitu. Katanya yang akan membangun Mall itu orang dari Italia."


Deg!


Bu sukma ternganga mendengarnya. "Jangan jangan ..."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2