PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Setelah Acara Syukuran


__ADS_3

Acara tasyakuran rumah baru berjalan dengan lancar dan selesai tanpa hambatan. Ucapan selamat serta berbagai doa dan harapan dari tetangga yang hadir mengalir deras untuk si pemilik rumah. Mereka kebanyakan turut merasa senang dengan apa yang diraih Julian. Setelah doa selesai dan acara menikmati hidangan yang ada berakhir, satu persatu warga yang di undang pada pamit undur diri.


Tak lama setelah para tetangga pada pergi, kini keluarga dari tiga istri Julian juga satu persatu pamit pulang. Sebenarnya Julian sudah meminta mereka untuk menginap, tapi berhubung jarak rumah mertua memang dekat, hanya beda desa saja, jadi tak ada satupun mertua yang mau menginap di rumah itu. Julian pun tak memaksa lagi karena itu semua keinginan dari keluarga para istri.


Sahabat Julian juga serentak pamit satu persatu setelah sedikit ikut merapikan kembali rumah Julian. Mereka sudah tidak mungkin sebebas dahulu yang bisa pulang seenaknya karena salah satu dari mereka sudah berkeluarga. Kini suasana rumah terlihat lengang setelah semuanya benar benar pergi.


"Barang barang yang kotor dicuci besok aja, Dek," ucap Julian menasehati ketiga istrinya. "Ini udah malam loh, apa nggak capek?"


"Ya capek, Mas," jawab salah satu dari mereka sembari duduk di sofa yang sama dengan Julian duduki. Diikuti dua istri yang lain.


"Ya udah mending istirahat. Kan itu bisa dikerjakan besok," balas Julian sembari mencomot tahu isi yang tersaji di meja.


"Mas, aku beberapa hari lagi nginep di rumah Rizka boleh nggak?" ucap Kamila juga sambil menikmati hidangan yang lainnya.


"Di rumah riska? Ngapain?"


"Ya dia kan mau nikah, Mas. Minta ditemenenin gitu. Dulu waktu aku mau nikah, sebelum kita akad, dia juga nemenin aku. Makanya dia minta aku nemenin dia."


"Sendirian? Aku nggak ikut nggak apa apa kan? Lagian aku juga mau bantuin di rumah Faiz."


"Ya nggak apa apa. Kalau Mas Jul ikut ya malah bingung akunya. Ninggalin Mas Jul di rumahku ya nggak mungkin. Kalau disini kan mending ada Safira sama Namira."

__ADS_1


"Ya silakan, kalau niat kamu begitu."


"Makasih, Mas. Ya udah, aku mau tidur dulu lah, capek," pamit Kamila sembari langsung beranjak menuju rumah sebelah. Kebetulan mereka saat ini berada di rumah yang tidak mangalami renovasi. Sedangkan kamar yang digunakan untuk tidur berempat ada di rumah yang satunya.


"Aku juga tidur dulu ya, Mas. Ngantuk," Safira ikut menyusul Kamila ke rumah sebelah setelah Julian mengiyakan.


"Mas Jul nggak ngantuk?" tanya Namira yang asyik menguyah tahu isi.


"Belum, Dek. Kalau kamu sudah ngantuk ya sana tidur, Dek. Nanti aku nyusul."


"Aku juga belum ngantuk, Mas." Namira mengambil tisu untuk membersihkan tangan dan bibirnya. Lalu dia bergeser tempat duduk menjadi lebih dekat dengan suaminya. Senyum Julian seketika terkembang saat sang istri menempel pada dirinya. "Berarti kita masih lama jualannnya ya, Mas?"


Julian menyenderkan punggungnya pada bagu sofa. "Ya gimana lagi. Pas rumah selesai eh bareng sama acaranya Faiz. Lagian Mas juga harus mengurusi Reynan juga kan."


"Ya semoga saja, Sayang. Ini juga demi nama baik kalian. Semoga saja, Pak Ferdi dan Pak Budi dapat bukti yang aku butuhkan."


"Aamiin," balas Namira, tangan yang melingkar diperut suaminya bergerak membuka lipatan sarung yang Julian pakai.


"Mau ngapain, Dek?" tanya Julian yang sempat terkejut melihat pergerakan tangan istrinya. Namira hanya tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan suaminya. Lagi pula tanpa dijawab juga Julian pasti tahu apa yang akan dilakukan istrinya.


"Hehehe ... belum bangun," ucap Namira saat tangannnya meraih benda yang ingin dia pegang.

__ADS_1


"Bentar lagi juga pasti bangun, Dek. Tuh udah mulai membesar," balas Julian yang pasrah saja saat sang istri memainkan benda kebanggaannya.


"Aku tuh masih heran, punya Mas Jul bisa gede banget kayak gini. Padahal gosipnya punya pria di negara ini ukurannya kecil kecil."


"Ya kan punyaku beda. Kamu sudah tahu jawabannya kan?"


"Berarti punya orang Italia gede gede ya, Mas?"


"Ya kemungkinan gitu, Sayang."


"Mas, Mas Jul nggak ingin mengulang kembali berhubungan badan?"


Julian menghembus nafasnya dengan pelan. Matanya terus menatap ke arah batang yang sedang sipijat lembut oleh tangan istrinya. "Ya yang pasti kepengin, Dek. Cuma kan aku bingung mau ngajak siapa? Mau ngajak salah satu diantara kalian, takut yang lain iri. Pengin ngajak tiga lawan satu, takut pada nggak mau."


"Kalau untuk main bareng kayaknya aku nggak siap deh, Mas. Kayak gimana gitu? Kurang romantis."


"Nah, maka itu, aku bingung. Mau ngomong, eh kebetulan kita sibuk pindah rumah dan menyiapkan syukuran."


"Ya udah, besok kita omongin. Biar kita bisa menemukan jalan yang terbaik. Kita pindah kamar yuk, Mas. Punya Mas Jul udah tegang banget ini."


"Dengan senang hati, Sayang!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2