
"Kenapa kamu jadi perhatian sama kami, Mas Jul? Apa kamu sudah mulai ada hati sama kami?"
Julian yag ditatap lekat oleh ketiga istrinya langsung gelagapan dan salah tingkah. "Katanya kalau di luar kamar kita harus terlihat seperti keluarga yang bahagia? Gimana sih? Serba salah menghadapi kalian," sungut Julian, lalu dia merebahkan tubuhnya miring memunggungi ketiga istrinya.
Kamila, Namira dan Safira langsung saling pandang sembar saling melempar senyum tipis mereka, lalu ketiganya juga merebahkan tubuh mereka. Sejenak keadaan terasa hening. Malam kedua mereka sebagai pengantin, kembali terlewati tanpa ada tanda tanda menuju ke hubungan yang lebih baik.
"Apa Julian sudah tidur?" tanya Namira, lalu dia bangkit dan menatap punggung suaminya dalam beberapa detik. "Sepertinya sudah tidur," Namira kembali berbaring.
"Dasar kerbau! Cepat banget dia teridur!" umpat Kamila sembari menaruh ponsel di lantai samping tempat dia berbaring.
"Mungkin Julian lelah, makanya tidurnya cepat," ucap Safira yang tidur miring memunggungi Kamila dan Namira.
"Lelah abis ngapain? Nyangkul? Orang sedari pagi nggak ngapa ngapain," sahut Namira.
"Lelah menghadapi kenyataan kalau dia sekarang telah menikah dengan kita," balas Safira santai. Namira dan Kamila malah langsung cekikikan mendengar jawaban asal dari Safira.
"Dasar pantat panci, bisa aja kalau ngomong, hahaha ..." maki Kamila.
__ADS_1
"Eh, eh, eh, tapi ada benernya juga, apa yang dikatakan Safira," ujar Namira. "Mungkin saja Julian memang lelah karena menikah dengan wanita yang dia benci. Lagian mana ada sih orang yang mau hidup bersama dengan orang yang kita benci? Aku aja ogah."
"Hahaha ... bener!" seru Kamila. "Mungkin Julian merasa apes kali ya. Udah diperkosa cowok, eh malah nikah sama cewek yang dia benci. Dia pasti merasa menderita banget."
"Nah! Iya tuh!" cetus Safira. "Sekarang aku tahu alasan Julian ingin menempati rumah hadiah itu."
"Alasannya apa tuh?" tanya Namira dan Kamila hampir bersamaan.
Sebelum menjawab, Safira memutar badannya menghadap dua wanita yang ada disana. "Disana kita cuma hidup berempat dan kita tidur terpisah. Terus Julian akan menyiksa kita secara lahir batin serta nganggap kita sebagai pembantu. Pasti itu!"
"Astaga!" pelik Kamila. "Emangnya kita sedang menjalani syuting sinetron? Aneh aneh aja kamu mikirnya."
"Astaga, Fira! Segitunya banget kamu sama novel online. Kejauhan kali mikirnya," sungut Kamila.
"Ya kan kali aja, Mila! Setidaknya kan kita harus antisipasi. Jika ternyata Julian beneran akan nyiksa kita gimana?" Safira masih teguh dengan pemikirannya.
"Ya tinggal kita lawanlah, orang kita bertiga, masa kalah lawan satu orang. Kita boleh cinta sama Julian, tapi jangan bodoh juga," oceh Kamila.
__ADS_1
"Ah, omonganmu sama persis kayak temanku. Dulu pas aku dengar rencana si Lehan untuk menjebak Julian, temenku juga bilang kayak gitu. Katanya aku jangan bodoh, mentang mentang suka sama Julian, mau aja nolongin tanpa mikiran Julian yang telah menghinaku habis habisaan saat pertama kali ketemu. Akibat kebodohanku memberi tahu kalian, aku malah terjebak pernikahan seperti ini. Parahnya, kalian jadi ikut terbawa juga, hahaha ..."
"Udah, nggak perlu terlalu dipikirkan terus," Namira berusaha menengahi. "Menyesal juga percuma. Semuanya udah terjadi. Sekarang kita jalani aja, apa yang sudah menjadi takdir kita."
Safira dan Kamila pun langsung terdiam, dan mereka setuju dengan ucapan Namira. Semua yang terjadi sama mereka, mungkin memang jalan takdir yang harus dilewati ketiga wanita itu. Mereka juga tidak punya pilihan lain, selain menjalani pernikahan yang di awali dengan rasa benci dan fitnah.
Tanpa ketiga wanita itu sadari, Julian mendengar semua percakapan istrinya. Saat obrolan para istri terdengar lucu, Julian diam diam ikut tersenyum mendengarnya. Begitu juga saat obrolan mereka terdengar menyedihkan, Julian pun ikut merasa tak enak hati. Julian tidak menyangka kalau dirinya benar benar terlihat buruk dimata para istri akibat hinaan yang dia lontarkan dulu. Bahkan hinaan itu masih membekas dan mereka malah menikah dengan pria yang menghinanya. Sungguh, misterti takdir tak ada yang tahu kedepannya bagaimana.
Hari pun kembali berganti, kini siang telah menyapa, menemani seluruh manusia menghadapi segala kisah hidupnya.
"Julian kemana? Kok nggak kelihatan?" tanya Bu Sukma pada menantunya yang sedang duduk di lapak jualan milik Julian.
"Nggak tahu, Bu. Katanya keluar sebentar, tadi bawa motor," jawab Namira.
Tak lama setelah Namira menjawab, sebuah mobil tiba tiba masuk ke halaman rumah Julian. Sontak Bu Sukma dan tiga istri Julian terlihat heran melihat kedatangan mobil yang tiba tiba.
"Mobil siapa itu? Bagus bener?"
__ADS_1
...@@@@@@...