PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Rasa Malu Dan Benci


__ADS_3

"Kenapa nggak ganti baju, Jul?" tanya Bu sukma saat melihat anaknya masih memakai pakaian pernikahanya.


"Malu, Bu. Ada cewek di kamarku."


"Astaga! Mereka kan istri istri kamu," jawab bu Sukma antara ingin ketawa dan juga kasihan melihat anaknya. Paman, bibi serta Sifa juga tak kuasa menahan senyum melihat Julian terduduk dengan wajah bingungnya.


"Ada gitu pengantin baru malu karena ada istrinya di kamar," ledek Sifa sambil menyuapi adik kembarnya dengan sepotong kue pernikahan yang ditaburi serutan coklat dan keju.


"Diam kau!" hardik Julian kesal.


"Semua syarat yang kamu minta, sudah kami penuhi loh, Jul. Masa masih malu terus? Masuklah sana. Bentar lagi maghrib, masa kamu mau begitu terus. Nggak mandi?" Paman Seno juga ikut bersuara.


"Tapi aku malu, Paman," rengek Julian masih tetap pada pendiriannya. "Paman sih pake milih nikah segala, jadi kan kayak gini."


Plak!


"Aduh! Sakit, Bu!" keluh Julian sambil mengusap lengannya yang kena tabok.


"Ya abis kamu ngeselin. Jangan selalu nyalahin paman kamu. Semua ini juga demi kebaikan kamu, harusnya kamu tuh bersyukur dapat istri cantik kayak mereka," dumel Bu Sukma.

__ADS_1


"Benar, Jul. Mereka udah jadi tanggung jawab kamu loh," Bibi Atikah ikut berbicara. "Kamu nggak mau kan orang tua mereka murka terus ngehina keluarga kamu? Mereka juga berat menjalankan pernikahan seperti ini."


"Ya itu kan resiko mereka, Bi. Kalau mereka nggak memperkosaku, mana mungkin ada pernikahan dadakan kayak gini," gerutu Julian masih tidak terima.


"Terus? Kamu mau jadi pria yang nggak bertanggung jawab gitu? Hanya gara gara kamu korban, kamu mau mengabaikan istri kamu? Kamu mau mereka bernasib sama seperti ibu" Bu Sukma mulai tersulut emosi.


"Bukan begitu, Bu. Astaga!" bantah Julian. "Tapi aku malu."


"Terserah kamu deh, Jul. Lama lama Ibu darah tinggi ngadepin kamu kayak gini," ucap Bu Sukma yang memilih langsung bangkit dari duduknya dan beranjak masuk kamar. Satu persatu keluarga yang lain ikut meninggalkan Julian di ruang tengah.


Wajah Julian benar benar terlihat frustasi saat ini. Beberapa kali dia mengacak rambut dan wajahnya karena kesal dengan nasib yang sedang menimpa dirinya. Julian tidak menyangka akan dihadapkan dalam pernikahan secepat ini. Dengan berat hati, Julian lantas bangkit dan beranjak menuju kamarnya.


Tok! Tok! Tok!


"Aku!" sahut Julian ketus.


"Astaga!" pekik wanita yang ada di dalam kamar. "Ngapain ketuk pintu, orang kamar sendiri juga."


Julian sontak mendengus kesal. Bisa bisanya dia bertindak bodoh seperti itu di depan para istri. Padahal itu memang kamarnya sendiri. Memalukan. Dengan tangan gemetar dan mengucap doa dalam hati, Julian memegang gagang pintu dan membukanya.

__ADS_1


Setelah pintu dibuka, Julian melangkah masuk kamar dengan perasaan yang masih tidak karuan dan tubuh agak bergetar. Begitu masuk kamar, Julian melihat tiga istrinya sedang berbaring di atas ranjang. Ketika para istri membalas tatapan matanya, Julian langsung berpaling memandang sisi kamar yang lain.


Julian masih tertegun dengan kondisi kamarnya saat ini. Lemari bajunya lebih besar dan ada dua. Kasurnya pun sudah lebih besar dan susun dua. Bagian bawahnya bisa ditarik sebagai tempat tidur tambahan jika ranjangnya tidak muat untuk tidur empat orang.


Kamar Julian terlihat cukup sempit, padahal sudah ditambah ruang yang biasa digunakan untuk kandang motor. Mungkin karena belum rapi soalnya persiapannya sangat mendadak jadi masih terlihat berantakan. Sedangkan untuk kandang motor, pindah ke tanah belakang tempat jualan Julian.


"Kalian bisa keluar dulu nggak?" tanya Julian tanpa memandang ke arah istrinya.


"Siapa yang disuruh keluar?" Kamila bertanya dengan perasaan sedikit kesal karena Julian memberi perintah tapi tidak memangdang ke areh mereka.


"Ya kalian lah, siapa lagi?" balas Julian dengan suara sedikit lebih keras.


"Oh, kita? Kirain tembok," sindir Namira. "Orang kita juga punya nama, main perintah seenaknya."


"Iya, mana nggak menatap ke arah sini lagi. Walaupun kita menjijikan di mata kamu, tapi kami punya nama. Apa kamu juga Jijik menyebut nama kami?" Safira ikut menimpali.


"Wajarlah, jika Julian tak sudi memandang ke arah kita, orang dimata Julian, kita itu kotor dan miskin, nggak pantes bersanding dengan Julian yang lebih sempurna," sindri Namira.


"Siapa yang mikir kayak gitu?" ucap Juian tak terima.

__ADS_1


"Kita lah, siapa lagi. Bukannya kita asal ngomong. Sebenarnya masih banyak yang ngomong kalau kamu lebih suka wanita kaya. Apa kamu mau, aku kenalkan wanita kaya raya yang sesuai selera kamu?"


...@@@@@@...


__ADS_2