
"Puas, Sayang?"
"Belum."
"Astaga!"
"Habis punya Mas Jul enak banget," ucap Kamila sembari tersenyum lebar. Kemudian dia bergeser hingga tengkurap di atas tubuh suaminya. Tubuh polos nan halus dengan dihiasi sisa keringat hasil permainan penuh rasa nikmat, dibiarkan menempel pada tubuh polos nan kekar milik suaminya.
"Tubuhku berat nggak, Mas?" tanya Kamila sembari merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
"Tidak, Sayang. Tubuh kamu ringan, seksi dan mulus. Mas suka," Julian membelai lembut rambut sang istri.
"Sekarang aku tahu, alasannya kenapa banyak wanita hamil diluar nikah."
"Kenapa emang?"
"Mereka pada ketagihan isi celana. Mungkin awalnya malu malu kayak aku. Pas udah tahu rasanya, malah minta nambah terus."
"Hahhah ... bisa aja kamu, Sayang. Untung kamu ketagihanya pas udah nikah ya."
"Iya. Aku dapat paket lengkap. Tampan, kekar, tajir dan isi celananya gede."
"Hhahaa ... gemesin banget sih kamu," Julian mencubit pipi istrinya.
Kamila sontak tersenyum lebar. "Mas, mandi yuk?"
"Mandi bareng?" kening Julian sedikit berkerut.
"Iya, ayuk."
__ADS_1
"Ya udah, ayuk." Julian tak kuasa menolak permintaan suaminya. Lagian tidak salah juga jika mandi bersama sang istri. Dia juga ingin merasakannya. Tentu saja itu bukan acara mandi biasa. Akan ada rasa nikmat lagi yang bisa mereka lakukan di dalam kamar mandi.
Sedangkan di tempat lain, terlihat dua pria dan dua wanita, saat ini sedang duduk di teras sebuah rumah yang lumayan besar. Di lihat dari letak duduknya, jelas sekali kalau mereka bukan pasangan kekasih yang sedang berkencan. Sepertinya mereka memang hanya berteman.
"Gimana, Feb, Lit? Kalian sudah berhasil belum mendekati Julian," tanya salah satu dari dua pria yang ada di sana.
"Gimana mau berhasil, orang dia aja belum jualan," jawab salah satu wanita berpakaian seksi bernama Lita.
"Ya kan kamu sudah punya nomer ponselnya. Pakai trik apa gitu biar ada komunikasi," pria bernama Reynan sedikit mendesak.
"Ya ampun, Rey! Kamu sakit hati banget sama dia atau gimana? Lagian kata Om Suryo, kamu mau dijodohkan sama wanita dari kampungnya Julian, kan?" sekarang giliran Febi yang bertanya.
"Aku dijodohkan juga gara gara Julian merebut pacarku. Wajar kan, kalau aku sakit hati."
"Iya, Feb, tolongin Reynan tuh. Aku aja yang hanya melihatnya, ngerasa ikut sakit hati," Lehan yang sedari tadi diam, ikut bersuara, mendesak dua wanita di hadapan mereka.
"Iya nanti kita usahakan. Lemah banget sih jadi cowok," cibir Febi gemas.
"Bersenang senang?" tanya Reynan dengan kening berkerut. Lita mengiyakan dengan tatapan menggoda. "Nggak ah."
Lita sontak cemberut. "Kenapa sih, Rey? Kalau aku ngajak bersenang senang selalu kamu nolak?"
"Iya, kalian ini aneh. Kalau kita ngajakin enak enak selalu nolak," Febi menimpali. "Kita itu cantik, seksi, memuaskan, tapi kok kalian kayak nggak suka sama cewek gitu?"
Tebakan Febi tentu saja membuat Reynan dan Lehan terkesiap mendengarnya. Mereka langsung saling pandang.
"Bukannya nggak doyan. Kita cuma nggak mau merusak wanita aja. Buktinya kita punya pacar," Reynan memberi alasan yang masuk akal.
"Cih! Sok suci."
__ADS_1
Kedua pemuda itu hanya bisa menyunggingkan senyumnya. Alasan seperti itu memang biasa mereka gunakan jika ada pertanyaan yang menjurus ke arah hubungan ranjang.
Sedangkan di rumah Julian, setelah selesai bermain di kamar mandi, Julian memperhatikan langkah istrinya yang terlihat berbeda. Kamila seperti menahan rasa perih karena serangan senjatanya yang terlalu ganas.
"Sakit banget apa, Dek?" tanya Julian sambil menikmati mie ayam yang dia beli di pertokoan depan kompleks rumahnya.
"Lumayan, Mas," balas Kamila sembari duduk di sofa dan mulai menikmati baksonya.
"Tadi kenapa nggak minta berhenti saja pas di kamar mandi?"
"Gimana mau berhenti, orang lagi enak enaknya. Lagian besok juga pasti udah sembuh."
Julian pun tak bisa berkata apa apa lagi. Dia hanya tersenyum tipis lalu kembali fokus menyantap hidangan yang ada di hadapannya. Bersamaan dengan itu, tiba tiba pintu rumah terbuka dan cukup mengejutkan sepasang suami istri yang sedang asyik makan.
"Ciee! Yang lagi pada pesta, aku nggak dibeliin," suara cempreng Safira langsung menggema begitu selesai mengucap salam.
"Orang tinggal minta sana, nanti juga Mas Jul yang bayarin," sungut Kamila.
"Oke!" Safira langsung kembali keluar rumah.
"Fir, aku juga bakso satu!" teriak Namira.
"Oke!"
Narima lantas masuk kamar untuk berganti pakaian, begitu selesai dia bergabung kembali bersama Kamila dan Julian yang hampir selesai menikmati makanannya. Tak lama kemudian Safira kembali dengan membawa nampan berisi bakso. Kamila bangkit dan beranjak untuk ambil air minum.
"Kamu kenapa, Mil? Kok jalannya pincang?" tanya Namira.
Tubuh Kamila sontak menegang, begitu juga dengan tubuh Julian. Safira dan Namira langsung menatap keduanya dengan tatapan bertanya tanya.
__ADS_1
"Kenapa reaksi Mas Jul dan Kamila tegang gitu?" Jangan jangan kalian habis berhubungan badan?"
...@@@@@...