
Dalam hening malam, Julian masih terdiam. Pikirannya menerawang dengan pembicaraannya bersama para istri. Ketakutan dan kekhawatiran para istri dan juga Ibunya, cukup menyita pikirannya. Julian sangat memaklumi. Karena sudah bukan rahasia umum lagi kalau orang yang berkuasa dan kaya raya, akan melakukan banyak cara demi tujuannya.
Namun bagaimana lagi, Julian tidak mungkin akan mundur. Sebagai laki laki dia juga punya harga diri yang harus dia junjung. Apa jadinya jika Julian mundur tiba tiba, sudah pasti harga dirinya sebagai pria dan juga suami, akan terjun bebas beserta hinaan dari pihak lawan. Tidak, Julian harus berjuang sampai akhir.
Karena merasa gelisah dengan segala pemikiran yang merasuk otaknya, mata Julian pun enggan terpejam. Padahal ketiga istrinya sudah terlelap di sisi kanan kirinya, tapi tidak bagi Julian, rasa kantuknya tak kunjung datang. Julian akhirnya memilih bangkit dan keluar dari kamar terus merebahkan badannya di sofa rumah sebelah.
"Kenapa nggak tidur di kamar, Mas?" suara salah satu istrinya yang tiba tiba terdengar, sontak mengejutkan Julian yang sedang hanyut dalam lamunan sejak beberapa menit yang lalu.
Julian seketika menoleh, "Loh, kamu nggak tidur?"
Sang istri duduk di sofa tepat di dekat telapak kaki Julian. "Ya tadi udah tidur, terus kebelet, eh ... Mas Jul malah nggak ada di kamar. Kenapa Mas Jul pindah kesini?"
"Suntuk di kamar nggak bisa tidur, jadi ya terpaksa pindah. Di sini sama saja belum ngantuk juga."
Mendengar alasan Julian, sang istri tersenyum. Senyum yang tadinya hanya akan ditunjukan sekilas, tiba tiba senyum itu malah melebar. Bukan karena ucapan Julian, tapi kolor yang dipakai Julian nampak begitu menonjol di bagia bawah perutnya.
"Emang Mas Jul sedang memikirkan apa sih?" tanya sang istri dengan tatapan fokus ke arah tonjolan suaminya. Sedangkan Julian tidak sadar kalau sang istri lagi menatap tonjolannya dengan tatapan lapar.
__ADS_1
"Nggak ada, Sayang. Nggak ada hal penting yang sedang dipikirkan," kilah Julian sambil mencoba memejamkan matanya dengan wajah menghadap langit langit rumahnya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Julian dibuat terkejut sampai matanya membulat saat dirinya merasakan ada yang meraba dan memijat isi celananya. "Sayang ... apa yang kamu lakukan?"
"Bikin suami senang, agar pikirannya bisa tenang dan cepat tidur," ucap sang istri nakal. Di keluarkannya isi celana sang suami dan langsung dimanjanya pakai tangan dan mulut. Julian hanya bisa pasrah. Nyatanya dia sangat menikmati batangnya dimainkan seperti itu. Dari kejadian tersebut bisa dipastikan kalau malam ini terjadi kembali penyodokan yang sangat menggelora.
Dan waktu terus bergulir sampai hari kini berganti lagi. Hari ini Julian berencana akan membuat laporan mengenai kasus yang menimpa dirinya. Ditemani oleh Budi dan Heru, Julian berangkat ke kantor polisi setelah kursus menyetir selesai.
Sementara orang yang sedang dilaporkan Julian, saat ini sedang berbahagia. Sebab hari ini adalah hari dimana dirinya akan berkunjung ke rumah teman ayahnya untuk melamar seorang gadis yang menurutnya sangat cantik.
Rey? Udah siap belum? Sebentar lagi kita berangkat!" seru seorang wanita dari luar kamar anaknya.
Sang anak lantas keluar dari kamar. "Orang aku udah siap dari tadi, Mamah aja yang kelamaan make up."
"Iya, iya terserah Mamah aja deh."
"Hahaaha ... gitu dong. Dah yuk gabung sama yang lain. Bentar lagi kita berangkat."
Ibu dan anak itu segera menyusul keluarganya yang sedang menunggu di ruang tamu. Keluarga Reynan memang dianggap sebagai keluarga terpandang di kabupaten tersebut. Selain sebagai arsitektur, ayahnya Reynan yang bernama Suryo juga memiliki benerapa bisnis di kabupaten ini. Karena nama besarnya itulah, banyak warga yang enggan berurusan dengannya.
__ADS_1
Tidak memakan waktu yang terlalu lama, keluarga besar Reynan akhirnya sampai dan di sambut penuh suka cita oleh keluarga Mirna. Suryo dan Rastam sangat senang karena pada akhirnya hubungan baik mereka akan semakin erat menjadi hubungan keluarga. Tentu saja salah satu syarat yang agar menjadi bagian keluarga mereka adalah harus memiliki harta yang banyak.
"Akhirnya, anak saya benar benar jatuh di tangan lelaki yang tepat seperti Reynan," ucap Rastam disela sela obrolannya bersama Suryo setelah acara tukar cincin selesai.
"Emang kenapa, Tam? Apa anak kamu tadinya menjalin hubungan dengan laki laki yang salah?"
"Bukan, Mirna dikejar dan dipaksa oleh anak kampung sini. Udah jelas jelas Mirna nolak, eh dia maksa maksa Mirna agar mau jadi istri keempatnya."
"Wah! Hahha ... rakus amat. Dia udah punya istri tiga? Bagaimana bisa?"
"Iya, padahal hanya penjual batagor tapi anaknya sok kaya banget."
"Hah! Penjual batagor punya istri tiga? Keren tuh! Namanya siapa?"
"Julian."
"Julian?"
__ADS_1
...@@@@@...