
Bu sukma nenghirup nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Mungkin ini karma karena perbuatan Ibu di masa lalu."
"Apa! Karma?" pekik Julian. Matanya menatap penuh tanya kepada sang ibu. Dia berharap wanita yang telah melahirkannya menjelaskan apa arti karma yang baru dikatakan Karma. "Karma apa maksud ibu?"
Ibu Sukma malah tersenyum. "Karena ibu dulu sangat menyayangi kamu dan membanggakan ketempanan anaknya. Ibu terlalu sombong, sampai kesombongan itu turun kepada anak Ibu satu satunya."
Rasa penasaran Julian langsung menguap berubah menjadi rasa tersindir dalam hatinya. "Tapi aku tidak sombong, Bu. Apa yang harus aku sombongkan?"
"Itu menurut kamu," balas Bu Sukma, sembari duduk di kursi sebelah anaknya. "Tapi beda dengan pandangan orang lain. Penolakan yang disertai ucapan kamu yang terlalu menghina wanita, menjadi pemicu orang orang dengan mudah memandang buruk tentang kamu. Bukankah kamu sendiri nggak rela kalau ada yang menghina ibu?"
"Tapi aku nggak bermaksud menghina mereka, Bu. Ucapan itu spontan keluar begitu saja saat aku sangat panik, ibu tahu itu."
Lagi lagi Bu Sukma mengulas senyum sembari menatap anak lelakinya. "Tidak semua orang mau mengerti keadaan kita, Jul. Orang tua yang tadi datang adalah perwakilan dari semua anak gadis yang pernah kamu hina. Mereka jelas lebih mau mengerti anaknya daripada keadaan kamu."
"Terus aku sendiri harus bagaimana? Aku sendiri juga bingung," keluh Julian sambil menunduk.
Ibu Sukma menatap anaknya dengan perasaan yang cukup sedih. Yang dia lakukan hanya berusaha menghibur sang anak. Selain memberi nasehat agar bisa mengontrol ucapannya saat panik sedang melanda.
Suara adzan terdengar berkumandang. Mau tidak mau, obrolan ibu dan anak pun berhenti. Bu sukma masuk ke dalam rumah, sedangkan Julian kembali meneruskan beres beresnya. Perasaanya sedikit lega saat sudah berbicara dengan sang ibu.
Hingga dua jam kemudian, kini Julian sedang merebahkan tubuhnya diatas kasur yang tergeletak di dalam kamarnya. Selain menghitung laba hasil penjualan, dia juga menyempatkan diri untuk bermain bermain Game.
__ADS_1
"Jul, ada temannya tuh?" teriak sang paman.
Julian yang sedang asyik dengan ponselnya, sejenak mengerutkan kening karena merasa heran. "Siapa, Paman?" balas Julian cukup keras.
"Nggak tahu. Ditungguin itu di warung," balas paman dengan suara keras juga.
Julian pun segera bangkit. Sebelum keluar, Julian melepas sarung yang dia pakai terlebih dahulu dan menggantinya dengan dua celana. Satu celana kolor dan satu underwear. Setelah selesai Julian bergegas keluar kamar.
"Jul, sejak kapan kamu punya teman kayak gitu?" tanya Bibi Atikah begitu melihat Julian keluar kamar.
"Emang kenapa, Bi?" tanya Julian mendadak bingung karena pertanyaan yang Bibi lontarkan.
"Kayak cewek, Bi?" tanya Julian tanpa mengurangi rasa terkejutnya.
"Lihat sendiri gih. Bibi harap kamu masih pria lurus, Jul."
Ucapan Bibi semakin membuat Julian bingung dan penasaran. Dia lantas segera keluar rumah menuju warung dengan rasa penasaran yang melanda di jiwanya. Begitu sampai tempat tujuan, kening Julian langsung berkerut melihat dua laki laki yang ada disana. Yang satu sangat jantan dan yang satu memang benar seperti yang diucapkan bibi.
Dua laki laki itu sontak tersenyum saat melihat Julian datang. Laki laki yang terlihat gemulai bahkan sempat melongo begitu melihat wajah tampan Julian yang diatas rata rata. Mereka sontak saling sapa dan bertanya.
"Aku yang tadi siang tanya tanya soal pesanan ituloh, Mas," ucap salah satu yang terlihat gagah. Berbeda jauh dengan laki laki yang satunya.
__ADS_1
"Oh, yang tadi!" seru Julian. "Sorry aku sempat lupa. Karena yang beli banyak banget."
"Oh nggak apa apa," jawab sang tamu. "Aku mau tanya lewat chat, takutnya kurang sopan, jadi mending datang langsung kesini."
"Oh gitu," balas Julian. "Nggak apa apa datang ke rumah, malah akan lebih jelas lagi kan? Ngobrolnya juga lebih enak."
"Nah itu dia, salah satu tujuan aku datang kemari, biar lebih leluasa."
Betul," seru Julian antusias. "Jadi gimana? Jadi pesannya?"
"Begini ..." sang tamu lantas menjelaskan apa yang dia mau dan Julian sepertinya sangat menyanggupi.
Tapi sayang, Julian tidak menyadari niat lain pria itu datang ke rumahnya. Itu semua bagian dari rencana buruk yang akan dia lakukan bersama teman yang lain.
"Namanya Julian? Ganteng juga," ucap pria gemulai begitu mereka pulang dari rumah Julian. "Aku juga mau kalau cowoknya setampan itu."
"Tidak boleh!" tolak pria itu. "Itu bagian saya dan Reynan. Kamu jangan mengincarnya."
"Astaga! Pelitnya!"
...@@@@@...
__ADS_1