
"Gimana caranya nolong Julian?" tanya Safira begitu Julian keluar kamar pamit untuk mandi. Ketiga wanita masih nampak kaget saat Julian mengatakan keadaan dirinya yang sebenarnya. Antara percaya dan tidak percaya, tapi memang itulah keadaan Julian saat ini. Ketiga istri Julian selama ini telah salah memahami pria itu.
"Aku sendiri bingung," balas Namira. "Kalian tadi dengar kan? Nggak ada solusi. Bahkan psikiater juga menyarankan Julian agar dijauhkan dari hal yang bisa membuat dirinya panik."
Ketiga wanita itu saling tatap dalam kebingungan. Lagi lagi hati mereka tergerak ingin menolong pria yang pernah menghina tiga wanita itu. Apa lagi setelah mendengar kenyataan, alasan dulu Julian menghina mereka karena apa. Tiga wanita itu bahkan seperti lupa akan rasa sakit hati yang pernah mereka alami.
"Kalau keadaan Julian seperti itu, berarti Paman Seno tahu dong, keadaan Julian bagaimana? Tapi saat kejadian pengerebakan dulu, kenapa dia malah memilih menikahkan Julian dengan kita? Bukan milih jalur hukum?" Kamila pun menyampaikan pemikirannya.
"Ah iya!" seru Namira. "Apa alasan Paman Seno malah memilih menikah? Sepertinya kita harus bertanya pada Paman Seno."
"Nah setuju! Kapan kita tanyanya? Sekarang?" ucap Safira.
"Jangan! Kalau sekarang nggak enak sama Julian, takutnya dia dengar gimana? Nanti salah paham lagi," balas Namira.
"Baiklah, kita cari waktu yang tepat nanti."
Bertepatan dengan itu suara adzan tanda isya berkumandang. Obrolan tiga wanita pun terhenti dan mereka segera keluar untuk menunaikan kewajibannya. Mereka juga sempat berpas pasan dengan Julian saat menuju kamar mandi.
Hingga beberapa menit kemudian, setelah mereka selesai menunaikan kewajibannya sebagai orang beragama, ketiga istri Julian kembali terlibat obrolan. Tapi kali ini mereka tidak hanya bertiga, karena Julian juga ada di kamar bersama mereka.
__ADS_1
"Mas Jul nggak keluar?" tanya Safira sembari melipat mukena yang dia pakai.
"Keluar kemana? Nggak ada tujuan," jawab Julian dengan mata yang masih menatap layar ponsel.
"Loh, emang teman teman Mas Jul dimana?" tanya Safira lagi.
"Ya di rumah, tapi kan mereka juga capek, butuh istirahat," balas Julian sembari menaruh ponsel di sebelah dia terbaring. "Apa kalian sedang ingin keluar?"
"Tidak, aku juga capek. Tahu tuh yang lain."
"Ya sama, aku juga, penginnya rebahan," balas Namira. Ketiga wanita itu menarik kasur yang ada dibawah ranjang tempat Julian berbaring sekarang. Kasur itu biasa digunakan untuk tidur mereka bertiga.
"Kalau aku sih lebih suka dibawah, lebih nyaman," jawab Kamila.
"Nggak usah, Mas Jul. Biar kita di bawah aja. Enak kok," cetus Safira.
"Eh, Mas Jul, nanti sih kalau kita menempati rumah baru, kita tidur terpisah apa bagaimana?" Namira bertanya.
"Tidak!" jawab Julian. "Nanti itu yang satu rumah, kamarnya akan aku buat jadi satu untuk kita, biar luas, terus aku tambahin kamar mandi. Terus rumah yang satunya, buat tamu yang menginap. Siapa tahu nanti orang tua kalian pengin nginap saat main dan jenguk kalian."
__ADS_1
"Oh ... kirain buat anak anak kita," celetuk Safira sambil meraih ponselnya. Seketika semua mata langsung menatap tajam ke arah dirinya. Merasa sedang diperhatikan, Safira pun mengedarkan matanya ke arah tiga orang yang menatapnya. "Kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?"
"Emang kamu mau punya anak?" tanya Kamila.
"Ya elah, wanita mana sih yang nggak pengin punya anak setelah menikah, Kamila?" balas Safira dengan nada yang lumayan tinggi. "Bukankah salah satu tujuan menikah agar memiliki keturunan?"
Namira menepuk keningnya sendiri. "Tapi kan keadaan pernikahan kita beda, Safira Sayang."
"Ah iya lupa," Safira ikutan menepuk keningannya juga. "Kita menikah bukan berdasarkan atas cinta."
Julian sendiri sebenarnya tersindir. Tapi mau bagaimana lagi, memang seperti itulah keadaannya saat ini. Julian juga sama, ingin memiliki anak dari hasil pernikahan bersama wanita yang dia cintai. Namun dia sadar diri, keadaan dirinya membuat Julian tidak ingin mencintai wanita manapun. Bahkan dia memilih memendam rasa cintanya saat Julian menyukai seorang wanita.
"Maaf, aku tidak bisa menjadi pria yang sempurna untuk kalian," untuk pertama kalinya pria berusia dua puluh empat itu mengucap maaf pada istrinya. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan bagi tiga wanita yang bersamanya saat ini.
"Nggak apa apa, Mas Jul. Aku juga minta maaf, karena tadi keceplosan soal anak, maaf ya," balas Safira merasa tidak enak.
Julian hanya tersenyum tipis lalu memutar tubuhnya memunggungi ketiga istrinya dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
...@@@@@@...
__ADS_1