
"Lehan! Kita pulang, nggak perlu kamu main sama anak sialan itu lagi!" hardik bapaknya Lehan sembari menarik paksa anaknya dengan segala rasa amarah.
"Pergi kalian dari sini! Dasar orang miskin! Benalu! Perusak anak orang!" teriak Suryo berapi api.
"Anak kalian yang rusak!"
Di saat adu mulut akan meletus kembali, para istri yang sedari tadi lebih banyak terdiam, langsung berusaha mencegah para suami agar bisa mengontrol emosinya. Lehan dan keluarganya segera pergi dari kediaman Reynan dengan perasaan campur aduk di dada mereka.
Di lain tempat, Pak Rastam juga memilih pulang terlebih dahulu. Dengan alasan karena tidak enak dengan keadaan keluarga Suryo, pria itu memilih pulang dengan tujuan ingin memberitahukan kenyataan yang baru saja Rastam dapat.
"Apa, Pak? Yang bener?" seru Mirna begitu mendengar cerita dari sang ayah. Begitu sampai rumah sejak beberapa menit yang lalu, Rastam memang langsung menceritakan apa yang terjadi selama mediasi.
"Jadi si Reynan nyimpang, Pak?" Istri Rastam pun ikut bertanya. Dia dan anaknya sama sama terkejut mendengar kabar dari kepala rumah tangga mereka.
"Berarti Julian dan istrinya benar, dong, Pak?" tanya Mirna lagi.
"Ya begitulah. Bapak benar benar nggak nyangka. Padahal Reynan terlihat orang yang sangat norrmal."
"Bapak lihat videonya tadi nggak?"
"Ya lihat, Bu, sedikit. Tapi serius, Bapak sampe merinding. Nggak nyangka, mereka benar benar malakukan hubungan layaknya suami istri. Katanya korban Reynan udah banyak."
"Lah terus pertunangan aku gimana, Pak? Masa aku menikah sama suami yang nggak doyan cewek? Mending batalin aja deh, Pak."
"Bapak juga rencananya gitu, tapi nanti saat Bapak sudah dekat dengan Tuan Alonso."
__ADS_1
"Tuan Alonso? Siapa itu?"
"Itu, miliarder yang mau membangun supermall di sini, katanya kan, dia memiliki seorang anak laki laki. Kalau Bapak sudah bisa dekat Tuan Alonso, Bapak akan jodohin kamu sama anaknya."
"Yang benar, Pak?"
"Ya bener lah. Makanya kita harus sabar dulu. Besok rencananya Bapak sama Om Suryo mau ketemuan kembali sama Tuan Alonso. Bapak masih butuh Om Suryo, Mir, untuk menjalankan rencana Bapak."
"Wuih, mantap! Bagus, Pak, bagus. Mirna dukung. Mirna juga mau kalau dijodohkan sama anak miliarder itu, Pak. Ah semoga dia beneran jodohku."
"Aamiin."
Keluarga Rastam saling tersenyum lebar dengan segala angan yang baru saja mereka curahkan. Sedangkan Alonso sendiri, saat ini juga sedang bersuka cita bersama istri, anak dan menantunya serta anggota keluarga yang lainya di sebuah restoran. Mereka sedang menikmati hidangan bersama di restoran yang disewa secara khusus oleh Alonso.
Selain keluarga Alonso, disana juga ada keluarga Seno dan juga keluarga John, sang asisten. Mereka barbaur jadi satu ruangan untuk merayakan kemenangan Julian.
"Hahaha ... benar. Aku pikir cuma ada dicerita novel aja, eh nggak tahunya malah ada di kehidupan nyata dan aku mengalaminya."
"Dan yang lebih hebatnya lagi, kita jadi istrinya anak sultan, hihihi ..."
Ketiga istri Julian malah asyik ngrumpi sendiri. Mereka memang sengaja duduk terpisah dari suaminya begitu selesai menyantap hidangan bersama. Selain agar bebas ngerumpi, mereka juga ingin memberi ruang pada suami mereka yang sedang ngobrol bersama orangtuanya.
"Apa mertua kamu sudah dikasih tahu tentang hal ini, Jul?" tanya Sukma.
"Sudah, Bu. Tadi para istri yang ngasih kabar."
__ADS_1
"Gimana tanggapan mertuamu?" tanya Alonso.
"Ya yang pasti seneng lah, Yah. Malah mereka akan mengadakan syukuran di rumah masing masing."
"Ya baguslah. Kamu bantu mereka dan bilang sama mertua kamu, acara syukurannya jangan bersamaan. Agar ayah bisa ikut hadir."
Kening Julian langsung berkerut begitu mendengar ucapan sang ayah barusan. "Loh, emang Ayah mau berkumpul dengan orang orang yang bukan dari kalangan Ayah?"
"Eh ... kamu meremehkan Ayah."
"Ayahmu memang gitu, Jul," Bu Sukma menimpali. "Ayahmu memang nggak pernah mandang seseorang dari hartanya."
"Karena itu, Ibumu dulu cinta mati sama Ayah. Padahal dulu Ayah jahat banget loh sama Ibu kamu."
Julian tersenyum sangat lebar. "Emang Ayah sama Ibu dulu kenalnya dimana?"
Sukma dan Alonso saling pandang, mungkin Julian memang harus tahu masa lalu orangtuanya. Mau tidak mau Alonso dan Sukma lantas menceritakan masa lalunya. Dari awal kejadian pemerkosaan sampai Sukma memilih kabur dari rumah.
"Berarti benar kalau aku ini anak haram, Bu?" tanya Julian dengan tatapan penuh kekecewan dan rasa terkejut.
"Bukan! Nggak ada istilahnya anak haram. Yang haram itu perbuatannya, bukan anaknya."
"Apa bedanya? Hasilnya tetap saja kan, aku yang dikatain anak haram?"
"Hei, My Son, Yang salah itu ayah! Tapi Ayah tidak pernah menyesal memiliki kamu. Apapun yang mereka katakan, abaikan! Satu yang harus kamu tahu. Kamu tetap putra kebanggaan ayah dan ibu. Kamulah kebahagiaan kami, oke?"
__ADS_1
Julian terdiam. Entah apa yang dia pikirkan, yang pasti dia cukup terpukul mendengar kenyataan masa lalunya.
...@@@@@@...