
"Kira kira, ada kabar apa ini, Mas?"
"Tentu saja kabar bagus, Jul. Kamu kapan mau melaporkan kasusmu?"
"Ya penginnya sih secepatnya, Mas."
"Ya udah, mending secepatnya kita proses, Jul. Kasih pelajaran tuh sama musuh kamu."
"Tapi buktinya?" Belum ada."
Budi dan Ferdi saling lirik lalu mereka menyeringai. "Kamu nggak perlu khawatir, soal bukti perbuatan Reynan dan kawannya, sudah kami dapatkan."
"Beneran, Mas?" tanya Julian dengan mata membeliak.
"Tentu, sekarang kita tinggal membuat laporan saja. Untuk saksi, kamu bisa minta bantuan kepada istrimu."
Oh gitu, Mas? Oke, Mas, makasih banget atas bantuannya."
"Nggak perlu terlalu dipikirkan. Ya sudah, kami hanya ingin menyampaikan hal itu, Jul. Langkah selanjutnya tergantung kamu. Kalau kamu sudah siap, kabarin kami."
"Siap, Mas."
Setelah menyampaikan sesuatu yang penting pada Julian, Ferdi dan Budi lantas pamit pulang. Senyum Julian terkembang sangat lebar. Dia sangat bersyukur ada yang mau membantunya sampai sejauh ini. Entah apa jadinya jika Julian tahu kalau dua orang itu adalah suruhan ayahnya. Apakah Julian akan menerima pertolongan mereka?
Di saat bersamaan, para istri Julian juga datang dari rumah sebelah. Kening Julian sempat berkerut saat melihat dua istrinya berpakaian rapi. Sedangkan yang satu masih pakai daster.
"Kalian mau pada kemana? Kok ganti baju?"
"Aku sama Namira mau ke rumah sepupuku, Mas. Ituloh yang jualan kerudung. Dia menyuruhku datang kesana buat membicarrakan masalah kerudung jualanku."
Julian nampak manggut manggut. "Ooh ... Kamila nggak ikut?"
__ADS_1
"Nggak mau dia."
"Ya udah sana hati hati. Pulangnya jangan kesorean."
"Siap, komandan!"
Mereka lansung saling tersenyum lebar. Safira dan Namira lantas berpamitan dan mencium punggung tangan Julian kemudian mereka berlalu meninggalkan rumah. Sedangkan Kamila memilih rebahan di sofa. Julian kembali duduk di sofa satunya sebelah sofa yang buar berbaring istrinya, lalu dia meraih ponsel hendak main game.
"Kenapa kamu nggak ikut, Dek?" tanya Julian sembari sekilas melihat istrinya lalu kembali menatap layar ponsel.
"Males, Mas," jawab Kamila singkat. Julian hanya mangut manggut tanpa menoleh ke istrinya. "Mas, Jul."
"Apa, Dek?"
"Lihat sini."
Julian menoleh dan matanya langsung membelalak. "Ya ampun, Sayang! Kamu nggak pake segitiga bermuda?"
"Pengin dimasukin yang gede," rengek Kamila, manja.
"Astaga! Apa nggak panas? Udara di luar panas banget loh."
"Ya nggak apa apa, mumpung sepi. Mas Jul nggak mau?"
"Ya maulah, lihat kamu pamer lubang aja, isi celanaku udah menegang."
"Ya udah, ayo main?" rengek Kamila sambil menempelkan kepalanya di bahu sang suami.
"Baiklah, pintunya kunci dulu. Takut ada yang tiba tiba masuk."
"Oke!" dengan riang, Kamila turun dari pangkuan Julian guna mengunci pintu. Setelah itu, dia kembali dipangkuan sang suami dan langsung menyerang bibir Julian.
__ADS_1
"Astaga! Sayang, kamu sudah mempersiapkan segalanya?" tanya Julian dengan tatapan terkejut karena saat meraba dada istrinya, Julian tidak menemukan kain penutup bukit kembar selain daster yang dipakai Kamila.
"Hehehee ... iya, Mas. maka itu aku bilang males ikut mereka. Kapan lagi aku ngerasain isi celana Mas Jul yang gede banget. Mumpung ada kesempatan. Ya kan?"
Senyum Julian semakin melebar. Daster sang istri pun langsung dilepaskan. Mata Julian berbinar saat disuguhi pemandangan bukit kembar nan kenyal. Dengan rakus mulutnya langsung memainkannya.
Saat Kamila merasa suaminya cukup waktu memainkan bukit kembarnya, dia langsung turun dari pangkuan sang suami dan duduk di lantai. Diturunkannya celana Julian hingga semuanya terlepas. Wajah Kamila langsung berseri melihat benda yang sudah tegak dengan gagah menantang untuk dinikmati.
"Astaga! Sayang, aakhh ..." Julian meracau kenikmatan saat Kamila langsung mengecup dan menjilati benda menegang milik suaminya. Bahkan Kamila juga langsung melahapnya dengan rakus seperti menikmati hidangan yang sangat lezat.
"Sayang," panggil Julian saat sang istri masih menikmati benda miliknya.
"Apa?"
"Dimasukin masih sakit nggak?"
"Kayaknya udah nggak sakit deh, Mas. Kenapa emangnya?"
"Aku pengin kamu duduk di pangkuanku, tapi punyaku masuk ke lubang kamu, gimana? Kamu mau?"
"Oh gaya yang itu? Boleh, kita coba aja, Mas."
"Sekarang ya?"
Kamila menjawabnya dengan senyuman. Dia langsung bangkit dan mempersiapkan diri duduk di pangkuan suaminya. Setelah yakin sudah siap, badan Kamila mulai turun. Julian dengan setia memegangi batangnya dan menunggu lubang nikmat sang istri yang mulai mendekat.
"Akhhh ..." Kamila mulai merintih saat batang yang besar itu perlahan mulai memasuki lubangnya. Begitu semua milik Julian telah masuk, keduanya berdiam sejenak. Hingga beberapa menit kemudian, Kamila mulai menggerakkan badannya.
"Gila! Enak banget, Sayang," racau Julian dan sang istri tersenyum senang.
...@@@@...
__ADS_1