
"Waah, banyak banget! Uangnya mau diapain nih, Mas Jul?" tanya Namira sambil melihat Julian sedang membagi uang dalam beberapa bagian yang berbeda beda
"Yang ini buat buat keluarga aku. Ini buat keluarga kalian, dan sisanya buat kalian."
"Apa! Untuk kita?" seru Namira. Ketiga wanita itu saling pandang dengan tatapan bingung lalu kembali menatap Julian. "Kalau aku nggak usah, Mas Jul. Aku ada uang kok."
"Iya, Mas Jul. Itukan uang Mas Jul? Kenapa diserahkan ke kita semua? Maaf aku bukan cewek matre juga, Mas, aku nggak mau gara gara uang, akan ada hinaan lainnya," Safira menimpali. Pelan tapi terdengar menyentil perasaan pria yang ada di hadapan mereka.
Julian sontak mendongak dan menatap ketiga istrinya dengan pandangan tajam. "Ini uang nafkahku, terima saja, nggak perlu nyindir nyindir terus," ucap Julian mencoba menahan segala rasa yang ada di dalam dadanya. Uang yang dibagi menjadi tiga bagian itu diletakkan di hadapan para istri.
Tangan Safira bergerak mengambil beberapa lembar uang berwarna biru dan sisanya dia sodorkan lagi ke hadapan Julian sampai kening pria itu berkerut. "Aku ambil segini aja. Tidak perlu banyak banyak. Sisanya Mas Jul simpan saja," ucap Safira.
Tindakan wanita itu ternyata diikuti juga oleh Kamila dan Namira. Dengan alasan yang berbeda beda, mereka mengembalikan sebagian uang kepada suaminya.
"Sisanya simpan saja buat tabungan. Siapa tahu suatu hari nanti Mas jul membutuhkan uang banyak," ucap Namira.
Antara kesal dan tersentuh, Julian menerima uang itu tanpa berkata apa apa lagi. Lalu dia kembali menyodorkan tiga tumpuk uang lainnya kepada tiga istrinya. "Ini untuk orang tua kalian."
"Baiklah, yang ini aku terima. Nanti kalau pulang aku sampaikan," balas Kamila.
__ADS_1
"Kalian mau pulang sendiri?" tanya Julian.
"Terus pulang sama siapa kalau bukan pulang sendiri?" tanya Kamila dengan kening berkerut.
"Biar aku antar. Kalian yang bilang sendiri kalau diluar kamar kita harus kelihatan bahagia," jawab Julian sambil menunduk. Dia sebenarnya masih gugup dalam situasi seperti ini.
"Kalau kamu nggak bisa, jangan memaksakan diri. Aku nggak mau, nanti ada masalah sama kamu, Mas Jul," Namira yang berkata.
"Aku akan berusaha," balas Julian.
"Ya udah terserah Mas Jul aja enaknya bagaimana."
Pembicaraan itu pun terhenti dengan suasana yang masih canggung. Setelah urusan uang selesai, kini giliran kado pernikahan yang mereka buka. Kadonya lumayan banyak juga.
"Ini yang ngasih kado cewek semua apa ya? Kok banyak barang cowoknya?" tanya Namira yang beberapa kali membuka kado, selalu isinya barang barang untuk pria semua.
"Kayaknya iya. Barisan wanita yang suka sama Mas Jul," Kamila menimpali. "Eh lihat nih ada suratnya!" seru Kamila saat membuka salah satu kado.
"Coba baca coba," seru Safira heboh.
__ADS_1
Kamila sontak membuka lipatan kertas berwarna merah Jambu dan membaca isinya. "Julian tersayang. Andai waktu bisa diputar, aku ingin menodai kamu saja. Agar kamu jatuh ke dalam cintaku yang begitu dalam. Julian tercinta, jika waktu dapat aku kembalikan, aku rela menjadi pemerkosamu. Aku akan bahagia jika kau menuduhku. Julian terkasih, apakah engkau ada niat untuk menikah lagi? Berikanlah kesempatan itu untukku, maka aku akan memberikan hidupku untukmu. Julian, kamu kapan cerai sama mereka? Aku menunggu dudamu."
"Astaga!" seru Safira dan Namira bersamaan. "Baru satu hari menikah malah banyak banget yang ngedoain kita cerai," dumel Namira.
"Segitunya mereka, sampai ngedoain kita yang buruk buruk," balas Safira kesal.
Jangan diladenin," Julian bersuara meski tak menatap ketiga istrinya. "Anggap saja mereka sampah," sambung Julian dengan perasaan yang sangat kesal.
Bagi Julian, meski pernikahan ini tanpa cinta, pernikahan adalah sesuau yang suci yang harus dia pertahankan. Entah nanti akan berjalan seperti apa rumah tangganya, Julian juga pernah berharap kalau dia bisa menikah, dia ingin menikah satu kali dalam hidupnya.
Ketiga istri Julian mengangguk tanpa suara lalu mereka melanjutkan membuka kado kembali yang tinnggal beberapa kotak lagi.
"Kecil banget, kira kira apa nih isinya?" ucap Safira pada salah satu kado yang ukurannya sebesar bungkus rokok.
"Jangan jangan isinya pengaman," celetuk Namira hingga membuat gerakan Safira terhenti.
"Pengaman? Maksud kamu?"
"Ya elah masa kamu nggak tahu pengaman. Itulah alat yang dipakai laki laki saat zina agar wanitanya tidak hamil."
__ADS_1
"Astaga!"
...@@@@@@...