Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
104. Undangan Perjamuan


__ADS_3

Ratu Zhu kembali setelah menemui Pei An Long untuk mengusulkan perjamuan. Perjamuan itu sebenernya diusulkan oleh Zhu Man Xie dengan tujuan untuk menonjolkan kebaikannya. Pada saat kemarau panjang tahun ini, Zhu Man Xie telah mendirikan tenda-tenda di luar ibukota untuk para warga miskin yang kekurangan makanan. Ia bahkan secara pribadi ikut dalam pembagiannya beberapa kali.


Seluruh kebaikannya ini telah diketahui oleh semua orang di ibukota dan mendapatkan banyak pujian atas welas asihnya pada rakyat miskin yang membutuhkan. Ia bahkan tidak segan untuk membantu secara langsung. Citranya sebagai seorang permaisuri yang baik hati dan perhatian serta menjadi panutan membumbung tinggi.


Meskipun begitu, semua yang diraihnya masih belum cukup. Semua orang di kekaisaran ini harus mengakui kebaikan hatinya dan memunculkan gagasan bahwa dia adalah calon ratu yang paling memenuhi syarat. Dengan begitu langkahnya akan semakin dekat untuk menjadi Putri Mahkota.


Selain itu, di drama. Perjamuan ini dia juga berencana untuk mencelakai Lu Jing Yu. Terutama melenyapkan bayinya! Dia belum hamil sampai saat ini. Jadi dia tidak akan membiarkan wanita lain terutama Lu Jing Yu untuk melahirkan cucu keluarga kerajaan terlebih dahulu.


"Bagaimana ibu, apakah ayah Kaisar setuju untuk mengadakan perjamuan?" Zhu Man Xie yang masih menunggu di halaman Ratu Zhu bertanya dengan segera saat melihat bibi sekaligus ibu mertuanya itu kembali.


"Tentusjaa setuju." Jawab RATU Zhu dengan kesal.


"Kalau setuju kenapa wajah ibu sepertinya tidak baik?"


"Apa kamu tahu Kaisar baru setuju setelah mengetahui putri manja kesayangan menteri Lu itu pasti akan datang dan Kaisar bisa melihatnya. Apa aku tidak boleh kesal karena itu?" RATU Zhu menghempaskan tangannya.


"Ibu harap bersabar. Yang terpenting adalah ayah Kaisar setuju akan hal ini. Mengenai alasannya bukankah itu tidak penting?" Zhu Man Xie berusaha membujuk Ratu Zhu. Saat ini RATU Zhu lah yang bisa membantunya. Jika wanita paruh baya itu kesal dan tidak mau membantu, rencananya untuk mencelakai Lu Jing Yu tidak akan mudah.


"Ibu harap rencanamu ini akan berjalan dengan lancar. Aku sudah tidak tahan dengan kelakuan seenak saja Lu Jing Yu ini. Mentang-mentang dia disayangi karena hamil, ia menjadi seenaknya saja."


"Ibu tenang saja. Kali ini aku sudah merencanakannya dengan matang. Lu Jing Yu itu tidak akan lagi berani menunjukkan wajahnya di depan umum."


"Baiklah. Kamu pulanglah dulu. Aku dengar kamu dan Yang'er sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama sejak kedatangan para selir itu. Xie'er, kamu adalah istri pertama dan juga istri sah. Jangan sampai para selir itu hamil lebih dulu daripada kamu. Apalagi sampai kehilangan kasih sayang dari suamimu. Kamu tidak boleh kalah dari mereka."


"Aku berterima kasih atas pengingat ibu. Ibu tenang saja. Aku pasti akan segera mengandung anak Yang Mulia."


"Hem. Aku selalu menunggu kabar baik darimu. Pulanglah dan dapatkan perhatian Yang'er lagi."


"Kalau begitu menantu ini tidak akan mengganggu ibu lagi." Zhu Man Xie segera keluar dari paviliun Ratu Zhu. Tetapi ia tidak pulang dari sana. Ia meminta kusir kereta untuk mengantarkannya ke sebuah restoran mewah yang ada di ibukota.  


***


Lu Jing Yu memperhatikan Xiao Bei dan Chu Fei yang sedang membuat baju kecil untuk calon bayinya. Matanya berbicara menatap takjub baju-baju kecil dengan warna-warna yang terang dia mencolok yang ditunjuk di dalam kotak. Xiao Bei memiliki jahitan yang rapi, jadi dia yang bertugas untuk membuat bajunya. Sedangkan Chu Fei bertugas untuk menyulam baju-baju itu dengan gambar bunga dan binatang.

__ADS_1


Ketiganya sendal berada di gazebo di samping paviliun Huang Yuang. Suara tawa terdengar sesekali. Membuat keadaan kediaman Raja Rui semakin berwarna. Para pelayan yang melihat hal ini juga turut merasa senang.


"Apa yang membuatmu tertawa begitu bahagia hari ini?" Semua orang segera menoleh saat mendengar suara Pei Zhang Xi yang datang mendekat.


"Hormat kami Yang Mulia." Xiao Bei dan Chu Fei yang awalnya duduk segera meletakkan benda di tangannya dan berdiri. Setelah memberi salam mereka meminta izin untuk melanjutkan pekerjaan mereka di tempat lain.


"Lihatlah ini yang Mulia. Bukankah ini terlihat lucu?" Lu Jing Yu dengan semangat memperlihatkan sebuah baju dengan sulaman naga pada Pei Zhag Xi.


"Ya. Itu memang bagus." Pei Zhang Xi memiliki senyum yang lembut di bibirnya saat matanya melihat senyum Lu Jing Yu yang bahagia.


"Bagaimana kabarmu hari ini?" Pei Zhang Xi mengelus kepala Lu Jing Yu.


"Baik."


"Lalu bagaimana dengan putra ayah ini? Apakah dia nakal dan mengganggu ibunya?" Pei Zhang Xi menunduk dan berbicara di depan perut buncit Lu Jing Yu. Saat ini usia kandungan Lu Jing Yu sudah menginjak delapan bulan. Jadi sudah terlihat besar.  


"Ah!" Pekik Lu Jing Yu terkejut dapat merasa tendangan yang kuat di dalam perutnya. Bayi yang ada di dalam kandungannya sepertinya tidak terima dibilang nakal oleh ayahnya.


"Anak ayah jangan menendang ibumu terlalu keras. Jika tidak ayahmu ini akan memberimu pelajaran nanti."


Plak! Tangan Pei Zhang Xi yang mengelus perut Lu Jing Yu dipukul.


"Jangan berbicara sembarangan. Meskipun bayi ini masih ada di dalam kandungan ia sudah bisa mendengar apa yang kita katakan."


"Iya iya. Aku salah. Tapi awas saja dia menyusahkanmu. Aku akan menghukumnya segera setelah lahir nanti." Lu Jing Yu kembali memukul Pei Zhang Xi kali ini gantian dada Pei Zhang Xi yang dipukul oleh Lu Jing Yu. Membuat pria ini mengaduh.


"Hamba turut bahagia melihat hubunganya Yang Mulai Raja dan Permaisuri Rui yang sangat bahagia."


"Hamba yang rendahan ini memberi hormat kepada Raja dan Permaisuri Rui." Seorang kasim tua memberi hormat.


"Kasim Rong, apa yang membuat Kasim Rong datang ke kediamanku ini?"


"Hamba datang untuk memberikan undangan perjamuan di istana."

__ADS_1


"Perjamuan? Perjamuan untuk acara apa?" Biasanya tidak ada perjamuan yang akan diadakan di istana selama musim panas karena selalu terjadi kekeringan yang menyebabkan musibah banyaknya warga yang mati karena kelaparan. Jadi tidak akan pantas jika mengadakan perjamuan pada waktu ini. Bahkan ulang tahun ibu Suri sengaja diundur sampai di musim selanjutnya sekaligus untuk membantu untuk pergantian musim yang baru.


"Ini adalah perjamuan pemberian penghargaan bagi Permaisuri Rui atas pencapaiannya." Senyum Kasim Song semakin lebar. Ia juga baru mengetahuinya beberapa waktu yang lalu dan dia juga merasa takjub dan kagum. Mendengar jawaban Kasim Song, pasangan itu saling memandang dengan bingung.


Pencapaian? Pencapaian apa yang aku dapatkan? Aku tidak merasa melakukan apapun?" Lu Jing Yu bertanya dengan bingung.


"Apa Permaisuri mengingat bahwa Permaisuri telah membuat alat yang disebut dengan kincir air di heaven Lake? Dengan alat ini kekeringan di beberapa daerah dapat diselesaikan sehingga bencana kelaparan akibat gagal panen dapat diatasi. Mungkin masyarakat di ibukota tidak pernah mendengar hal ini. Tetapi nama baik Permaisuri telah menyebar di kalangan para warga di luar ibukota. Mendengar hal ini Kaisar sangat senang dan ingin mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan pada Permaisuri." Jelas kasim Song.


Lu Jing Yu benar-benar tidak menyangka jika apa yang ia lakukan akan memberikan dampak besar. Di dalam novel 'kisah cinta sang pangeran' tidak dijelaskan dengan cara apa yang digunakan Xin Mo Yan DAN Xin Mo Yin untuk menyelamatkan warga, tetapi saat ia mengetahui bahwa idenya yang timbul tanpa direncanakan akan bermanfaat bagi orang banyak membuatnya sangat senang.


"Itulah kenapa Kaisar mengharapkan kedatangan Permaisuri Rui untuk menerima penghargaan ini."


Mendengar nama Kaisar disebutkan lagi dan lagi membuat Lu Jing Yu kesal. Ia hampir menolak datang sampai Pei Zhang Xi berbicara atas namanya. "Kami tentu saat akan datang. Jangan lupa untuk menyediakan buah persik muda dengan saus istimewa untuk jamuan nanti."


"Yang Mulia berdua tidak perlu khawatir. Hamba sendiri yang akan memastikan akan ada buah persik ranum dengan denagnsus istimewa ada di atas meja di perjamuan nanti." Kasim Song tersenyum mendengarnya melintas perubahan wajah Lu Jing Yu setelah mendengar makanan disebutkan.


"Terima kasih atas kesanggupan Raja DAN permaisuri Rui. Karena tidak ada lagi yang perlu hamba sampaikan, hamba mohon pamit."


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_104♡


*


*


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. ..


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_104♡


*


*


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. ..

__ADS_1


__ADS_2