
Beberapa orang berpakaian serba hitam berjalan mengendap-endap di sekitar paviliun Kedamaian. Perlahan namun pasti, mereka mendekati dua orang penjaga yang berdiri di depan gerbang. Lalu mereka mengambil sesuatu dari dalam saku mereka yang ternyata adalah sebuah pipa kecil yang berisi bubuk tidur. Siapapun yang menghirupnya sudah dipastikan akan segera tertidur dengan nyenyak. Mereka sebelumnya telah menutup mulut dan hidung mereka agar tidak terkena dampak obat tidur.
Setelah kedua orang penjaga itu terjatuh di tanah, Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam halaman. Di dalam Paviliun Kedamaian tidak begitu banyak penjaga yang berjaga di sana sebelumnya. Namun setelah Pei Zhang Xi dan keluarganya pindah ke sana, beberapa penjaga tambahan akhirnya dipekerjakan.
Setiap kali mereka bertemu dengan para penjaga, mereka akan menghindari mereka sebisa mungkin. Jika mereka tidak bisa menghindar, mereka akan meniup mereka dengan bubuk tidur agar tidak membuat suara yang berisik yang akan mengganggu tugas mereka lalu menarik tubuh penjaga untuk mereka sembunyikan agar mereka tidak ketahuan.
Tujuan kedua orang ini adalah ruangan samping paviliun Kedamaian dimana Pei Zhang Xi tinggal. Mereka seperti telah mengenal tempat itu dan langsung menuju tempat tujuan mereka tanpa kesulitan.
Di depan ruangan, Chu Fei duduk di kursi batu. Sementara Mo Ting berdiri di samping pintu. Kedua orang ini langsung menjadi sasaran kedua orang itu yang langsung menembakkan bubuk tidur yang membuat kedua orang itu terjatuh terkulai tak sadarkan diri. Setelah melumpuhkan keduanya, mereka mengangguk dan terus maju. Salah satu dari mereka melubangi jendela kertas dan menembakkan bubuk tidur. Gerakan mereka cepat dan efisien.
Di dalam ruangan samping Paviliun Kedamaian, Lu Jing Yu yang sudah tidur terjaga setelah mendengar suara gedebum dari luar. Ia membuka matanya dengan terkejut dan mendapati Pei Zhang Xi yang menatap dirinya dengan lembut namun tetap waspada. Jari telunjuk Pei Zhang Xi ditempatkan di atas bibirnya untuk memberi isyarat agar Lu Jing Yu tetap tenang dan tidak mengeluarkan suara.
"Sttt... Mereka datang." Bisik Pei Zhang Xi.
Wajah terkejut Lu Jing Yu berubah menjadi sebuah ketakutan. Pei Zhang Xi segera mengelus kepala Lu Jing Yu dengan lembut untuk memberikan rasa aman.
"Tutup mata mu dan tetap tenang oke?" Lu Jing Yu mengangguk mendengar perintah Pei Zhang Xi. Ia segera menutup matanya kembali. Namun tangannya yang dingin tidak mampu menutupi ketakutan nya. Pei Zhang Xi memegang tangan Lu Jing Yu dengan satu tangan dan memegang gagang pedang yang dia sembunyikan di bawah bantal dengan tangannya yang lain.
__ADS_1
"Tahan napas." Ucap Pei Zhang Xi singkat saat ia mendengar suara sesuatu yang menembus jendela kertas. Ia sudah hafal dengan trik murahan ini dimana seseorang akan membius orang di dalam kamar dengan obat tidur yang ditembakkan melalui celah jendela. Lu Jing Yu menurut tanpa berkomentar. Ia segera menahan napasnya beberapa saat hingga bubuk obat tidur menghilang dari udara.
"Apa semua orang sudah tidur?" Salah seorang berbaju hitam bertanya pada temannya melakui isyarat mata.
"Ya. Ayo masuk." Jawab yang lain juga dengan isyarat. Ia mengangguk kan kepalanyan dan menggerakkan tangannya. Melambai ke arah ruangan kamar Pei Zhang Xi.
Meskipun dua orang penghuni kamar telah mereka bius, mereka masih membuka pintu dengan sangat berhati-hati. Bagaimanapun tempat ini adalah salah satu bagia dari istana apalagi merupakan tempat tinggal ibu suri dan putra mahkota untuk sementara. Banyak penjaga yang akan berkeliaran di sekitar. Jika mereka membuat suara yang berlebihan, mereka mungkin akan menarik perhatian dan membuat mereka ketahuan.
Ruangan itu agak gelap. Semua lilin sudah dimatikan. Tetapi bulan di luar sedang pada fase bulan penuh dan menyinari ruangan dari celah-celah dinding. Membuat beberapa tempat di dalam ruangan terlihat lebih terang. Dengan bantuan cahaya dari bulan, mereka berjalan dengan perlahan-lahan di dalam kamar yang gelap. Pei Zhang Xi sudah bersiap sejak awal. Ia sudah memprediksi seseorang akan datang malam ini.
Kedua orang ini berjalan dengan hati-hati mendekati ayunan bayi yang ada di samping tempat tidur. Dengan bantuan sinar bulan, samar-samar dapat terlihat seorang bayi terbaring di dalam ayunan ktu tersebut. Karena gelap, mereka tidak mengetahui jika sosok yang mereka kira adalah bayi ternyata hanyalah sebuah bantal yang dibungkus selimut.
Dengan cara ini, mereka akan membunuh burung dengan satu pukulan. Mereka menculik pangeran kecil yang merupakan cucu laki-laki pertama dari kekaisaran Shao, jika mereka melenyapkan pangeran kecil, tidak ada lagi cucu pertama di kekaisaran. Selain itu Pei Zhang Xi yang gagal secara otomatis akan kehilangan haknya menjadi putra Mahkota. Sehingga cara inilah yang dinilai paling efektif.
Jadi Pei Zhang Xi telah menitipkan bayinya untuk dijaga neneknya yang tentu saja tidak merasa keberatan dan bahkan sangat menyukainya. Kaisar Pei An Long juga ingin ikut menginap di paviliun Selir Su jika ia tidak berpikir demi kebaikan dan menghalangi mereka curiga.
Namun meskipun ia tahu jika target kemungkinan besar adalah bayinya, ia masih tidak bisa melepaskan kekhawatirannya dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ia akan bertindak jika diperlukan.
__ADS_1
"Ambil bayinya." Salah satu dari mereka memberi perintah pada yang lainnya.
"Kamu saja. Aku tidak berani. Bagaimana jika dia menangis?" Rekannya menolak. Ia belum pernah menggendong bayi sebelumnya.
"Kamu lupa! Kita sudah menyebar bubu tidur di dalam ruangan. Jika dua orang dewasa saja tidak akan bertahan, bagaimana dengan seorang bayi yang baru genap satu bulan? Tunggu apa lagi! Cepat ambil bayi itu."
"Oke-oke. Aku lakukan sekarang." Orang itu menutup bayi itu sebelum mengangkatnya dengan hati-hati. Ia membawa bayi itu di depan dadanya.
"Sekarang kita pergi." Seperti saat mereka datang, mereka kembali keluar dengan tenang tanpa menimbulkan kebisingan.
*
*
~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_164🍀~
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟