
Keadaan Lu Jing ayu masih belum membaik setelah beberapa waktu. Hal ini membuat semua orang cemas. Apalagi setah melihat bahwa tubuh Lu Jing Yu yang awalnya sudah kurus menjadi smakin kurus. Kedua pipi Lu Jing Yu tampak tirus. Hampir mendekati kempot. Wajahnya yang pucat sepanjang waktu membuat cekungan matanya terlihat dalam.
Melihat keadaan Lu Jing Yu yang terus menurun, Pei Zhang Xi menjadi semakin tidak tega. Tetapi saat melihat semangat Lu Jing Yu yang masih memaksa untuk makan meskipun pada lahirnya harus mual dan muntah, Pei Zhang Xi hanya bisa mendukungnya.
"Sebentar lagi. Perutku masih mual." Lu Jing Yu mendorong sendok yang diulurkan Pei Zhang Xi untuknya. Pei Zhang Xi menghela napas. Untuk menghabiskan semangkuk nasi kecil di pagi hari, Lu Jing Yu menghabiskan waktu hingga dua jam lamanya karena harus berhenti selama lima menit ditelan satu atu dua suap agar tidak dimuntahkan kembali.
"Yang Mulia, utusan dari istana datang mencari anda." Mo Han masuk ke dalam ruangan dan melapor.
"Hah..." Pei Zhang Xi menghela napas. Ini sudah panggilan ke tiga dari istana untuknya agar segera kembali untuk bertugas. Tetapi untuk meninggalkan Lu Jing Yu dengan kondisinya saat ini ia benar-benar tidak sanggup.
"Yang Mulia, Yang Mulia lebih baik pergi ke istana saat ini. Ayah sudah tiga kalinya memmengirim orang ke sini untuk meminta Yang Mulia datang. Aku rasa jika kali ini Yang Mulia tidak datang, ayah akan meminta utusan itu untuk menyeret Yang Mulia pergi." Lu Jing Yu menyentuh punggung tangan Pei Zhang Xi.
"Tapi aku benar-benar tidak tega meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini."
"Hahahaha. Aku tidak selemah yang Yang Mulia kira. Lagipula ini hanya pergi ke istana. Paling lama Yang Mulia akan kembali petang nanti. Aku tidak akan kenapa-kenapa sampai saat itu."
"Permaisuri benar Yang Mulia. Kali ini utusan itu membawa surat perintah resmi jika Yang Mulia tidak bersedia datang, utusan itu dipersilahkan untuk menyeret Yang Mulia bagaimanapun caranya."
"Sepertinya kali ini Ayah sudah sangat marah padaku."
"Pergilah Yang Mulia. Aku tidak apa-apa. Banyak orang yang menjagaku di kediaman ini." Lu Jing Yu menatap Pei Zhang Xi tanpa daya. Bukannya dekati dua kali dia membujuk Pei Zhang Xi untuk pergi ke istana, sudah puluhan kali Lu Jing Yu melakukannya tanpa lelah maupun menyerah. Tetapi Pei Zhang Xi sendirilah yang terlalu keras kepala untuk bersikeras tinggal di samping Lu Jing Yu dan menemaninya.
Di ruang kerjanya, Kaisar Pei An Long meremas cangkirnya saat kasim Song mengingatkannya bahwa pengadilan pagi sudah akan dimulai sebentar lagi.
"Awas saja jika anak itu tidak datang hari ini. Sudah membuat kepalaku pusing memikirkan jalan keluar akibat ulahnya, masih tidak tahu diri dengan tidak menghargainya." Sinisnya membanting cangkir di atas meja.
__ADS_1
"Saya mendengar bahwa keadaan Permaisuri Rui masih belum stabil Yang Mulia."
"Pei Zhang Xi terlalu memanjakannya. Wanita hamil memang selalu seperti itu. Apa yang perlu dicemaskannya hingga selalu menjaganya siang dan malam. Bukanya bayinya akan keluar lebih cepat jika dia menunggunya terus-menerus." Dengus Kaisar Pei An Long kesal.
Kasim Song yang melihatnya memutar bola matanya. Kasim Song yang usianya beberapa tahun lebih tua dari Kaisar Pei An Long telah mengikutinya sejak masih muda. Meskipun Pei An Long tidak mengingat bagaimana dia ketika selir Su mengandung Pei Zhang Xi, Kasim Song yang harus selalu menjadi orang yang menyelesaikan tugas memeriksa dokumen Pei An Long mengingat betul bagaimana sulitnya menjadi Kaisar yang harus ememriksa setumpuk dokumen setiap hari.
Aula utama Istana, pengadilan pagi.
Semua orang sudah duduk di tempat mereka dengan rapi sesuai dengan status dan posisi mereka. Beberapa dari mereka sibuk berbincang dengan rekan duduk mereka membahas masalah yang akan mereka utarakan pada pengadilan pagi yang rutin diadakan setiap pagi untuk mengevaluasi serta memba perencanaan kerja bagi seluruh departemen.
Saat semua orang sedang sibuk berdiskusi atau sedang memeriksa berkas laporan mereka, seorang gadis cantik dengan diikuti oleh pelayan kecilnya dibawa masuk oleh Kasim dan mereka baru menyadari bahwa ada sarung kursi tambahan di dalam ruangan pengadilan hari ini.
Di dalam ruang pengadilan bahkan tidak pernah ada wanita yang masuk bahkan sang Ratu kecuali jika ada situasi khusus. Namun saat mereka mengenali bahwa gadis cantik itu adalah putri dari Chu Timur yang dibawa pulang oleh Pei Zhang Xi dua minggu yang lalu, mereka mulai menebak bahwa hari ini keputusan dengan siapa Putri Chu Timur ini menikah akan diputuskan.
Dengan hanya duduk di tempatnya, Wei Qian Nian berhasil merebut seluruh perhatian. Menghentikan semua orang dari berbagai kegiatan yang mereka sebelumnya. Tidak ada seorang pun di dalam ruang pengadilan yang tidak memperhatikannya. Bahkan para pangeran yang kebanyakan sudah datang dan duduk paling dekat dengannya pun tidak bisa tidak memperhatikannya.
"Aku ingin tahu dengan siapa Putri Chu Timur itu akan menikah." Seorang menteri berbicara pada temannya dengan suara rendah
"Di kekaisaran ini hanya ada dua pangeran yang belum menikah di usia yang cocok. Itupun pernikahan pangeran Pei Qin Yang juga sudah ditetapkan. Sedangkan pangeran Pei Bai Xuan sudah lemah dan sakit-sakitan dari kecil. Menikahkanya dengan putri Chu Timur juga tidak mungkin."
"Aish. Saat ini sedang ada persaingan untuk memperebutkan posisi putra mahkota di antara pangeran. Aku rasa kemanapun dia akan menikah, disanalah Yang Mulia Kaisar akan memihak."
Wei Qian Nian menyesap ternyata dengan anggun. Meskipun eksresinya tenang tanpa riak diperlukan seperti dia tidak mendengar satupun percakapan mereka, tetapi hatinya sudah tak ubahnya sebuah danau yang namun kemasukan batu. Di mata semua orang di ruangan itu, posisinya saat ini angkat penting sehingga mereka berharap bisa menebak isi hati Kaisar dengan melihatnya. Tetapi, hanya dialah yang mengerti bahwa posisinya di sini tidak berarti apapun.
Jika posisinya begitu penting sejak awal, Kaisar tidak akan pernah dengan begitu mudah setuju pada penolakan yang dilakukan oleh Pei Zang Xi di depan umum hari itu. Jika posisinya dianggap penting, dia tidak akan dipermalukan di hadapan semua orang.
__ADS_1
Semua orang di dalam akan pengadilan begitu ingin melihat dimana dia akan menikah pada akhirnya. Tetapi dia, Wei Qian Nian, tidak akan merasa puas jika bukan Pei Zhang Xi yang akan menikahinya. Karena pria itulah pria yang pertama yang telah berhasil menarik perhatiannya sekaligus menjadi pria pertama yang telah menolaknya.
Sejak hari Wei Qian Nian ditolak, dia telah memutuskan bahwa dia akan mendapatkan Pei Zhang Xi bagaimanapun caranya.
"Putri Wei, perkenalkan, saya adalah Pei Zhong Min. Pangeran pertama di kekaisaran Shao." Pangeran Pei Zhong Min yang tepat berada di meja di sampingnya mencondongkan diri dan bertanya.
"Salam Yang Mulia. Senang berkenalan dengan anda." Wei Qian Nian tersenyum ramah.
Selama dua minggu di dalam istana, ia tidak sekalipun bertemu dengan pangeran manapun. Awalnya ia heran, tetapi setelah ia bertanya pada para pelayan,ia jadi mengetahui jika setiap sudut di istana memiliki pengaturan dan batasan yang sedemikian rupa, jadi kesempatan untuk tidak sengaja bertemu dengan pangeran hampir tidak ada. Apalagi semua pangeran yang sudah mencapai usia menikah atau sudah hampir dewasa sudah harus meninggalkan istana dan tinggal di kediaman mereka masing-masing. Jadi Wei Qian Nian yang ingin mencari tahu tentang semua pameran tidak mendapatkan hasil apapun selama waktu itu.
"Aku juga senang berkenalan dengan putri Wei yang snagat cantik ini. Apakah anda sudah terbiasa berada di istana ini?" Lanjut Pei Zhong Min setelah ia menerima balasan.
Ekspresi Wei Qian Nian masih ditarik di permukaan dengan senyum yang tidak mencapai matanya. Namun di dalam hatinya ia begitu jijik melihat sikap Pei Zhong Min yang bertindak sok akrab dengannya.
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_55♡
*
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .
__ADS_1