
Pei Zhang Xi memeluk Lu Jing Yu yang masih tak sadarkan diri. Ia mengelus pipi Lu Jing Yu dengan lembut. Matanya menatap wajah istrinya lekat dengan mata yang sendu. Bayi mereka baru saja berhasil ditenangkan untuk disusui oleh ibu susunya dan sekarang masih dibawa keluar untuk diberi makan setelah sebelumnya rewel dan menangis terus. Membuat Pei Zhang Xi semakin bersedih.
"Yu'er cepatlah sadar sayang. Putra kita membutuhkanmu. Bukankah kamu paling menyayanginya?" Pei Zhang Xi mengelus pipi Lu Jing Yu lalu menghela napas dalam.
"Yu'er, apapun yang terjadi, tolong kembalilah pada kami. Bukan hanya putra kita yang membutuhkanmu. Akulah sebenarnya yang paling membutuhkanmu."
"Apakah kamu tahu hidupku begitu sepi sejak aku tidak bisa melihat matamu yang bersinar penuh dengan semangat itu?" Saat Pei Zhang Xi mengatakannya, ia menyentuh kelopak mata Lu Jing Yu yang masih setia terpejam.
"Heh.. dulu aku tidak pernah membayangkan jika suatu saat aku akan begitu merindukan seseorang seperti aku merindukanmu. Aku tidak pernah mengatakannya sebelumnya karena aku merasa sangat malu. Tetapi sekarang akan aku katakan, tidak bertemu denganmu meski hanya satu menit saja, aku sudah merindukanmu. Dulu aku berpikir bahwa hanya dengan melihatmu saja aku sudah merasa tenang, sekarang aku menyadari bahwa itu salah. Ternyata aku tidak hanya ingin melihatmu saja, melainkan ingin berbicara denganmu, ingin melihatmu tersenyum manis padaku. " Pei Zhang Xi tersenyum mengingat bagaimana hari-harinya yang berbeda sejak ia mengenal Lu Jing Yu dan mulai mencintainya.
"Dulu aku mengira bahwa seorang wanita hanya akan menjadi pajangan dan hanyalah alat untuk meneruskan keturunan. Tidak akan berbeda dengan siapapun yang menjadi seorang istri asalkan dia adalah wanita yang berbudi luhur. Tapi sekarang aku menyadari bahwa seorang istri, terutama kamu adalah sebuah pelengkap yang melengkapi hidupku. Hidupku tidak ada akan ada artinya jika kamu tidak ada di sampingku."
"Yu'er.. tolong bangunlah. Aku sangat merindukanmu. Aku berjanji akan membuat orang yang membuatmu menderita seperti ini merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan." Pei Zhang Xi tidak dapat berkata-kata lagi. Ia memeluk Lu Jing Yu dan membenamkan kepalanya di dadanya.
Pei Shi Liang berjalan tergesa-gesa di dalam kediaman Raja Rui. Mo Ting berjalan di belakangnya dengan langkah cepat. Mereka berhenti saat mereka melihat bibi pengasuh bayi Pei Zhang Xi yang berjalan searah dengan mereka. Bayi itu sedang tertidur. Sepertinya mereka baru kembali dari taman dan akan kembali ke kamarnya.
"Apa itu keponakanku?" Pei Shi Liang menengok bayi mungil di dekapan bibi pengasuh. Bibi pengasuh yang juga berhenti saat sampai di depan mereka dengan kooperatif menurunkan dirinya agar sang bayi mudah dilihat oleh bibinya.
__ADS_1
"Benar Putri." Jawab bibi Wu yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.
"Memang putra kakakku. Dia sama tampannya dengan kakak."
"Benar putri. Yang Mulia pangeran kecil memang mirip dengan Yang Mulia Raja Rui. Tetapi matanya akan terlihat sama seperti mata Permaisuri saat ia terbangun. Sayang sekali saat ini Permaisuri masih belum bisa melihat putranya. Jika Permaisuri melihatnya, dia pasti akan senang."
"Hem...bibi benar. Semakin dilihat bibir bayi ini juga terlihat mirip dengan kakak ipar." Pei Shi Liang mengangguk menyetujui. Sejak kejadian di perbatasan beberapa bulan lalu, Pei Shi Liang akhirnya menerima Lu Jing Yu menjadi kakak iparnya. Ia juga membantu Pei Zhang Xi menyelidiki kasus ini. Untuk itulah ia datang ke kediaman Raja Rui untuk melaporkan hasil penyelidikannya.
"Oh aku hampir lupa. Bibi Wu, tolong panggilkan kakak. Katakan aku memiliki sesuatu yang ingin aku laporkan."
"Baik Putri. Hamba akan memanggilnya Yang Mulia untuk anda. Silahkan menunggu di aula utama."
"Baiklah kalau begitu. Hamba akan menyampaikannya pada Yang Mulia."
Pei Shi Liang meremat tangannya dengan kesal. Matanya memancarkan kekesalan yang tidak dapat disembunyikan. Apalagi saat melihat keponakannya yang Malang yang tidak mendapat kasih sayang dari ibunya begitu ia lahir di dunia akibat ulah seseorang yang paling jahat yang pernah ia temui. Sama kesalnya dengan Pei Zhang Xi yang salah mengenali orang sejak awal. Dulu, ia pernah salah paham terhadap Lu Jing Yu.
Pintu terbuka dari luar. Pei Zhang Xi masuk bersama dengan Mo Han. Mo Ting yang ikut masuk bersama Pei Shi Liang di dalam ruang kerja segera memberi hormat.
__ADS_1
"Apa yang kamu dapatkan?" Tanya Pei Zhang Xi tanpa basa basi.
"Kakak, aku sudah menemukan saksi kunci itu. Awalnya aku sulit membuatnya bicara dan membungkam mulutnya dengan rapat. Tetapi setelah aku memberinya sedikit ancaman dan tekanan, dia akhirnya membuka mulutnya."
Mendengar penjelasan Pei Shi Liang, Mo Ting yang melihat sendiri bagaimana sang putri memberikan sedikit tekanan dan ancaman seperti yang dikatakan bergidik ngeri.
"Kerja bagus."
"Jadi apakah kita bisa melaporkannya pada ayah sekarang kak? Aku sudah tidak tahan melihat wajahnya yang munafik itu. Aku ingin melihatnya dihukum berat."
"Tidak. Biarkan aku sendiri yang menentukan hukuman apa yang akan diterimanya." Yu'er, aku akan segera menepati janjiku padamu. Untuk itu aku minta segeralah sadar untuk melihat bagaimana orang yang mencelakaimu menderita karena ulahnya sendiri. Lanjut Pei Zhang Xi dalam hati.
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_128♡
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. ..