
Zhu Man Xie menangis tersedu-sedu sambil memegang perutnya yang datar. Ratu Zhu berusaha memenangkannya dengan terus menghiburnya. Namun Pei Qin Yang yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya diam memandang mengejek kedua wanita yang terlihat sangat sedih itu.
"Xie'er tidak mengapa kehilangan bayi. Kamu masih muda masih bisa mengandung kembali. Sebenarnya apa yang terjadi? Semua ini adalah salah Permaisuri Rui itu. Masalah yang lalu bisa dilupakan. Bagaimanapun kamu sedang hamil. Bagaimana dia bisa mendorongmu dengan kejam?"
Semua orang hanya melihat dari jauh bahwa Lu Jing Yu mendorong Zhu Man Xie entah karena apa. Lalu Zhu Man Xie karena ingin menyelamatkan diri menarik Lu Jing Yu jatuh bersamanya hingga menyebabkan mereka berdua terjatuh bersama-sama. Darah mengalir dari bagian bawah mereka. Membuat semua orang panik.
Zhu Man Xie diperiksa oleh tabib yang sudah disuap olehnya untuk menyatakan bahwa ia kehilangan bayi karena terjatuh. Sedangkan Lu Jing Yu juga mengalami pendarahan parah dan harus segera melahirkan. Jika tidak ibu dan anak bisa dalam bahaya.
Suasana yang sebelumnya sudah mencekam di istana semakin terasa saat dua permaisuri mengalami musibah ini. Yang satu sudah dipastikan kehilangan bayinya dan yang satunya lagi masih berusaha untuk melahirkan.
Di dalam sebuah kamar Lu Jing Yu yang sedang berusaha untuk melahirkan bayinya sangat kesakitan. Sebenarnya usia kandungan Lu Jing Yu sudah menginjak sembilan bulan, tetapi masih ada dua atau tiga minggu lagi sampai waktu melahirkan secara normal. Tapi saat ini bayi di dalam perut Lu Jing yu harus segera dilahirkan.
Pei Zhang Xi memegang erat tangan Lu Jing Yu yang merintih kesakitan. Beberapa bidan istana membantu Lu Jing Yu dalam proses ini.
"Yu'er bertahanlah. Sebentar lagi kita kan bertemu dengan buah cinta kita." PEI Zhang Xi menciumi wajah Lu Jing Yu.
"Ini sakit sekali Yang Mulia. Aku tidak kuat lagi." Air mata terus mengalir dari kedua mata Lu Jing Yu.
"Bidan bagaimana ini?" Pei Zhang Xi bertahta pada para bidan istana yang juga sedang panik. Pasalnya pembukaan Lu Jing Yu belum lengkap tetapi sudah banyak darah yang keluar.
"Mohon maaf Yang Mulia. Sepertinya Yang Mulia harus mengambil pilihan. Jika tidak keduanya akan tiada." Kepala bidan berkata dengan takut. Kondisi semacam ini sangat genting.
"Selamatkan bayiku."
__ADS_1
"Tidak. Selamatkan permaisuri."
"Tidak Yang Mulia. Tolong Selamatkan bayi kita."
"Tidak. Aku tidak bisa kehilangan dirimu Yu'er. Tolong jangan hukum aku seperti ini."
"Aku juga tidak bisa hidup jika bayi ini tidak selamat semua ini salahku yang tidak bisa menjaganya dengan baik."
"Jangan bicara seperti itu. Yu'er kita bisa memiliki anak lagi nanti. Tabib dengarkan aku. Selamatkan permaisuri."
"Tidak Yang Mulia tidak." Lu Jing Yu menarik tangan Pei ZHANG Xi dengan memohon air matanya saat ini bukan karena rasa sakit yang dia rasakan melainkan rasa sakit memikirkan kehilangan bayinya. "Tolong Selamatkan bayi kita. Jika aku kehilangan bayi ini aku tidak akan bisa mengandung lagi. Aku mohon."
"Yu'er dengarkan aku. Meskipun bayi ini selamat apa kamu pikir aku mampu melihatnya?"
Pei Zhang Xi dalam dilema. Ia memandang Lu Jing Yu dengan sendu. Lalu melihat perut Lu Jing Yu yang buncit. "Yang Mulia...."
"Aku tidak bisa memilih. Aku akan menemukan cara untuk menyelamatkan kalian berdua."
"Maaf hamba datang terlambat Yang Mulia." Tabib Xue masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Tabib Xue cepat periksa Permaisuri dan lihat bagaimana menyelamatkan keduanya." Pei Zhang Xi menyala.
"Baik yang Mulia." Tabib Xue segera memeriksanya. Bidan istana juga memberitahu keadaan yang terjadi dan memberitahu Tabib Xue tentang solusi yang mereka pikirkan.
__ADS_1
"Bagaimana Tabib Xue?"
"Ada satu cara. Tapi ini tergantung Permaisuri dapat satuju apa tidak." Tabib Xue memandang Perlu ZHANG Xi dan Lu Jing Yu dengan serius.
"Cara apa itu?"
"Tidak ada cara lain selain membuka perut Permaisuri untuk mengeluarkan bayi karena tidak mungkin mengeluarkannya melalui jalan lahirnya secara normal, baik bayi maupun ibu berada dalam bahaya yang mengancam nyawa."
"Apa!?" Pei Zhang Xi berteriak kaget. Begitu juga dengan para Tabib yang berada di sana. Mereka memang pernah mendengar metode seperti itu tetapi mereka belum lebah melihatnya.
"Lakukan saja seperti yang Tabib Xue katakan." Lu Jing Yu berkata dengan yakin.
"Yu'er...."
"Tidak apa-apa Yang Mulia. Aku akan menahannya. Tabib Xue tolong lakukan. Tolong selamatkan bayiku."
"Baiklah Permaisuri, hamba akan mempersiapkan segalanya."
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_125♡
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. ..
__ADS_1