
Jarak dari kediaman Raja Wei ke istana tidaklah jauh karena kediaman Raja Wei masih berada di dalam ibukota. Tempat itu berada di jalan utama. Yang di kiri dan kanan jalan berjajar kios pedagang yang menjual berbagai macam barang.
Para pedagang sangat aktif dalam menjajakan barang dagangan mereka. Mereka akan berteriak menyebutkan barang yang ada di kedai mereka untuk menarik perhatian pembeli. Keramaian yang ada di luar kereta menarik perhatian Lu Jing Yu.
Meskipun sejak ia melintas ke tempat ini, ia jarang keluar dari kediaman. Jadi saat dia melihat pemandangan otentik khas zaman kuno, ia selalu penasaran dan sangat tertarik.
Lu Jing Yu segera membuka matanya dan membuka tirai. Melihat barang apa saja yang diperjual belikan disana. Apalagi kesempatan seperti ini tidak mudah datang untuk kedua kalinya. Dia ingin melampiaskan rasa penasarannya dan membeli beberapa barang yang menarik yang tidak bisa ia beli saat perjalanan sebelumnya menuju ke hutan Kerajaan karena saat ini ia sedang tidak bersama dengan Pei Zhang Xi.
"Hentikan keretanya di depan." Quan Yuan yang sedang fokus pada jalan di depan terkejut mendengar suara Lu Jing Yu yang tiba-tiba. Tetapi dengan sigap, ia segera menepikan kereta seperti yang diminta Lu Jing Yu.
"Yang Mulia, apakah anda memerlukan sesuatu?" Chu Fei membuka tirai dan bertanya.
Dua kereta yang mengikuti mereka di belakang juga berhenti. Pun para pengawal yang membawa kuda mereka. Tentu saja penampilan mencolok rombongan ini membuat semua orang mengalihkan perhatian mereka padanya Meskipun saat itu Lu Jing Yu sengaja melarang Pei Zhang Xi untuk menggunakan kereta milik Putri Mahkota maupun Putra Mahkota.
Pada hari biasa, bukanlah hal yang aneh melihat rombongan majikan dan para pelayan beserta para pengawal nya. Bahkan hampir setiap kediaman yang bergengsi selalu memberikan beberapa pelayan dan belasan pengawal untuk mengikutinya dalam kelompok. Namun mereka masih tidak bisa mengabaikan begitu saja Rombongan Lu Jing Yu ini.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin pergi berjalan-jalan. Mungkin saja ada sesuatu yang menarik yang dapat aku temukan di sini." Lu Jing Yu menggelengkan kepalanya pelan. Sepertinya tidak ada gunanya berpikir sangat keras dan dipaksakan. Dia butuh merefreskan otak cantiknya. Mungkin saja otak cantik Lu Jing Yu sedang merajuk dan tidak mau diajak untuk berpikir serius.
"Baik Yang Mulia. Hamba akan membantu Yang Mulia turun." Chu Fei mengangguk paham sebelum melompat dari kereta dengan lancar sebelum berdiri di samping kereta bersiap untuk membantu Lu Jing Yu turun.
Quan Yuan melihat betapa terampilnya Chu Fei melompat dari kereta Sedangkan wanita lain akan kesulitan untuk melakukan nya. Namun karena kejadian terakhir kali, ia tidak lagi berniat untuk mengacaukannya dan menanggung Malu. Pada akhirnya ia hanya bisa memandang Lu Jing Yu dengan waspada. Ia akan bergerak cepat jika terjadi sesuatu padanya.
Semua orang menahan napas mereka saat melihat tangan seputih giok salju telulur dari dalam kereta disertai dengan sepasang kaki yang cantik yang dilapisi dengan hanfu yang indah, semua orang menahan napas. Mereka yakin jika wajah pemilik tangan dan kaki yang begitu indah itu pastilah seorang yang sangat cantik.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada nya tanpa niat untuk berpaling. Meskipun sebenarnya tidak ada gunanya jika dia melihat wajah cantik itu, namun agaknya mereka harus menelan pil pahit kekecewaan saat sebuah kain menutupi sebagian besar wajah itu hingga hanya menyisakan mata yang jernih yang mengintip dari dalam kain.
Meski pun Lu Jing Yu hampir tidak pernah berkeliaran di ibukota setelah dirinya melintas, namun Lu Jing Yu yang lama selalu melakukannya setiap hari sehingga hampir semua orang mengenalnya dalam sekali pandang.
Bagaimanapun, saat ini ia tidak ingin begitu menarik perhatian karena statusnya saat ini akan sangat mungkin menimbulkan banyak hal yang merepotkan yang sangat tidak disukai.
Di jalanan ibukota apalagi di tempat yang begitu ramai seperti ini tidak menutup kemungkinan akan ada orang-orang dari kalangan bangsawan dari kalangan atas. Selama ia berada di istana, ia tidak kekurangan orang yang datang mengunjunginya hanya untuk menjilatnya dengan berbagai macam cara dengan niat dan tujuan mereka yang sama terangnya dengan siang hari. Sudah sangat merepotkan dengan mereka di istana meskipun sebagian mereka pada akhirnya ia tolak dengan berbagai alasan, namun masih ada yang tidak bisa dengan mudah ia tolak begitu saja dan terpaksa ia temui hanya untuk memberi muka pada orang di belakangnya. Dan Lu Jing Yu tidak ingin hal menjengkelkan seperti itu juga dia alami saat ia ingin berjalan-jalan dengan santai.
Dibantu oleh Chu Fei, Lu Jing Yu turun dengan mudah. Chu Fei yang melihat Lu Jing Yu yang memakai cadar di sebagian wajahnya cukup terkejut tetapi dia masih dapat menjaga ketenangannya. Lagipula Chu Fei bukan orang yang usil yang selalu ingin tahu urusan majikannya.
Quan Yuan juga tampak tidak terkejut sama sekali. Lagipula biasa baginya melihat beberapa orang yang memakai cadar berjalan-jalan di ibukota. Namun ia tidak menyangka jika Lu Jing Yu yang sebelumnya sangat bangga untuk menunjukkan dirinya di depan umum setiap saat akan menjadi salah satu dari mereka. Namun setelah dipikir-pikir, mungkin inilah yang membuat Lu Jing Yu untuk tidak mengenakan pakaian mereka dan memakai pakaian biasa saat mereka keluar dari istana. Majikan wanitanya pasti ingin berjalan-jalan dengan santai.
Lu Jing Yu baru saja keluar dari kereta saat ia tanpa sengaja membaca nama dari sebuah restoran yang ada tidak jauh dari tempatnya saat ini. Bangunan Restoran itu sangat besar sehingga terlihat sangat mencolok. Apalagi dekorasinya yang tampak mewah dan berkelas. Dilihat dari bangunannya jelas bukan restoran biasa.
Meskipun awalnya tujuan Lu Jing Yu adalah untuk berjalan-jalan, namun saat mengingat hal ini tentu saja tujuan awal itu dnegans segera digantikan. Saat ini yang menjadi prioritas adalah untuk membantu Pei Zhang Xi dan mencegah Pei Zhong Min berhasil dalam rencananya.
Melihat rombongan nya yang sangat menarik perhatian, Lu Jing Yu menghela napas. Jika dia memasuki Restoran itu dengan membawa begitu banyak orang pasti akan menimbulkan keributan. Lalu jika salah satu dar mereka berhasil mengenalinya, dia kahwatir jika mereka akan menjadi waspada dan mengubah tempat mereka berkumpul dan akan membuatnya kesulitan jika harus mencari dimana tempat mereka untuk mengatur rencana di masa depan.
"Xiao Bei, bawa Hui'er kembali dulu. Kita sudah keluar sejak pagi dan dia pasti lelah sepanjang perjalanan. Aku akan berada di sini beberapa waktu. Bawa dia beristirahat terlebih dahulu." Lu Jing Yu menoleh pada Xiao Bei dan bibi pengasuh yang turun dari kereta di belakang. Ia harus membiarkan Pei Zhi Hui kembali ke istana demi keselamatan nya.
"Yang Mulia, hamba pikir ini bukanlah ide yang baik. Jika rombongan ini dibagi menjadi dua kelompok, penajga secara otomatis akan berkurang. Kita tidak bisa membiarkan ancaman apapun." Quan Yuan yang mendengar hal itu segera tidak setuju.
"Tidak tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya akan membawa Chu Fei dan seorang penjaga sedangkan yang lainnya akan ikut pulang." Lu Jing Yu berkata dengan serius.
__ADS_1
Sebelum Quan Yuan berhasil mengatakan keberatannya, Lu Jing Yu melanjutkan kalimatnya. "Siapa diantara kalian yang memiliki kemampuan paling tinggi?" Ucap Lu Jing Yu bertanya pada para pengawal yang beridiri di sekitar mereka.
"Hamba Yang Mulia. Diantara saudara-saudara hamba, hamba rasa Hambalah yang memiliki kemampuan paling tinggi." Seorang pria dengan tubuh tegap khas yang merupakan hasil dari lstihannya maju dan meletakkan tangan kanannya di depan dada sambil membungkukkan tubuhnya. Lu Jing Yu memperhatikannya dengan seksama. Dilihat dari penampilannya, pria ini memang terlihat hebat.
"Apakah ada yang keberatan?" Lu Jing Yu menatap para pengawal yang lainnya. Ia ingin mendengar pendapat dari mereka.
"Tidak Yang Mulia. Saudara Lin memang yang paling berbakat dari kami semua." Semua pengawal segera menjawab tanpa ragu.
"Baiklah. Kalau begitu sudah diputuskan. Quan Yuan, pimpin Semua orang kembali ke istana. Sedangkan Chu Fei dan Pengawal Lin akan tinggal untuk menemaniku." Lu Jing Yu mengangguk puas. Berbicara tanpa bisa di bantah.
Quan Yuan berpikir sebentar sebelum akhirnya setuju dan memimpin semua rosng kembali. Namun ia masih menambah satu orang pengawal untuk menjadi kusir. Untuk pengaturan ini, Lu Jing Yu tidak merasa keberatan.
*
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_241🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉