Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 223


__ADS_3

Pei An Rong masih dalam keterkejutan saat mendengar Lu Jing Yu kembali berkata.


"Lagipula jika Putri ke sepuluh berkata bahwa aku tidak memiliki etika seorang putri, aku juga ingin bertanya padamu, apakah kamu juga memiliki nya saat kamu berbicara seenaknya saja padahal kamu tahu bahwa Ibu Ratu sangat tidak menyukai jika ada orang yang berbicara pada saat perjamuan pagi seperti ini?" Saat Lu Jing Yu mengatakan kalimat terakhirnya, Lu Jing Yu sengaja memandang Ratu Zhu dengan senyum di wajahnya. Ia ingin melihat apa yang akan wanita itu lakukan saat seperti ini. Bukankah sebelumnya dia sangat menikmati melihat orang lain yang membuat masalah untuknya? Jadi tidak akan jadi masalah jika menariknya untuk menyelesaikan masalah, kan?


"Putri Mahkota benar. An Rong, meskipun kamu baru pulang setelah sekian lama berada di luar, kamu juga tidak bisa melupakan etika dasar seperti itu Jangan sampai mempermalukan diri sendiri saat berada di luar sana. Untuk itu, setelah pulang dari perjamuan ini, Putri ke sepuluh akan pergi ke aula leluhur untuk menyalin buku etika wanita sebanyak seratus kali. Selain itu, setelah selesai dengan menyalin buku etika wanita, Putri ke sepuluh dilarang keluar dari istana Sui Yang selama satu Minggu agar dia dapat merenungkan kesalahannya dengan baik. Selama masa hukuman, tidak ada yang boleh mengunjunginya. Jika ada yang berani mengunjunginya, akan mendapatkan hukuman yang sama." Ratu Zhu berkata dengan acuh. Awalnya ia berharap bisa melihat gadis ini untuk memberi Lu Jing Yu pelajaran meskipun sedikit, tapi ia kecewa karena pada akhirnya bukan hanya bisa melihat pertunjukan yang bagus dan malah dialah yang ditarik paksa dan digunakan oleh Lu Jing Yu menyelesaikan masalah untuknya.


Pei An Rong membolakan matanya. Meskipun ia bukan putri kandung dari Ratu Zhu, selama ini ia selalu mendapatkan dukungan dari ibu tirinya itu karena ia juga sering membantunya menyelesaikan beberapa hal yang mengganggu mata, sehingga ia sangat percaya diri bahwa dia tidak akan dihukum. Apalagi setelah dia mengikuti Ratu Zhu selama beberapa tahun, ia menduga bahwa kemungkinan besar wanita itu akan membenci Lu Jing Yu karena Pei Zhang Xi telah merebut posisi yang sudah dipersiapkan untuk putranya. Tapi apa ini? Dia benar-benar dihukum!


Pei An Rong tidak terima dan segera melakukan protes. "Ibu Ratu. Tolong maafkan putri ini. Putri ini tahu bahwa dia salah dan sangat menyesal. Ibu ratu juga tahu bahwa putri ini baru saja kembali setelah menimba ilmu di luar sana. Sedikit banyak pasti terpengaruh oleh kebiasaan di luar. Namun ibu Ratu dapat yakin dalam waktu singkat, putri ini pasti akan segera kembali menguasai etika dasar. Apalagi putri ini juga akan segera kembali ke perguruan setelah beberapa saat. Mohon ibu Ratu berbelas kasih dengan mengurangi hukuman untuk putri ini." Pei An Rong menatap Ratu Zhu penuh harap.


Lu Jing Yu masih melihat dengan tenang di samping. Ia ingin tahu bagaimana Ratu Zhu akan menghadapi masalah ini. Ia sudah menduga jika Pei An Rong sebenarnya adalah anak buah Ratu Zhu dalam beberapa hal meskipun pada kenyataannya ibunya juga merupakan musuh terselubung Ratu Zhu karena putra mereka yang sama-sama berambisi pada tahta.


"Haah. Baiklah. Karena mempertimbangkan bahwa Putri Ke sepuluh sudah lama tidak berada di istana, hukuman akan dikurangi hanya menyalin kitab etika wanita sebanyak lima puluh kali dan masa perenungan yang juga dikurangi menjadi tiga hari." Ratu Zhu menghela napas. Sulit menemukan seorang gadis yang cakap seperti Pei An Rong yang dapat dijadikan anak buahnya untuk mengurusi beberapa hal yang tidak dapat ia selesai kan secara langsung. Gadis ini masih memiliki kegunaan sehingga masih layak untuk dipertahankan. Mencari gadis yang cakap yang bersedia melakukan banyak hal sesuai perintahnya juga tidak mudah.


"Terima kasih atas belas kasih ibu Ratu. Putri ini berjanji akan membuktikan bahwa putri ini bersungguh-sungguh dengan janjinya.


Lu Jing Yu tersenyum pahit. Sekali lagi dia ditampar kenyataan. Hidup di era dimana yang kuat lah yang bertahan. Dan siapa pun yang berada di bawah pintar memeluk paha orang yang kuat, terbukti memiliki ketahanan hidup yang cukup tinggi. Namun ia juga tidak bisa melakukan apapun. Meskipun pada dasarnya ialah yang menjadi korban dari semua ini bahkan tidak dilihat sejak awal. Tidak ada yang bertanya padanya apakah ia puas dengan hukuman yang diterima oleh Pei An Rong yang telah merendahkan nya. Karena jika dia memyela pada saat ini, ia akan dianggap bersalah karena ia telah mempertanyakan keputusan yang diambil oleh Ratu Zhu yang terhormat.

__ADS_1


***


Seorang gadis muda menangis berlutut di depan mayat seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar sepuluh tahun di sebuah rumah di pinggiran hitan. Air matanya tidak berhenti mengalir saat melihat mayat adiknya yang bersimbah darah di depannya dengan keadaan yang sangat mengenaskan dimana kaki kiri dan tangan kanannya terpotong. Matanya memperlihatkan kekecewaan dan kemarahan.


Satu jam yang lalu, kedua kakak beradik itu masih menjalani kehidupan mereka yang biasa. Dia dan adiknya menopang satu sama lain sejak kedua orang tua mereka meninggal dua tahun lalu. Mereka memiliki kebun kecil di samping rumah yang mereka kelola. Beberapa jenis sayuran terlihat segar di kebun mereka siap untuk dipanen. Hari ini mereka berencana untuk memanen kebun mereka untuk mereka makan sendiri dan sisanya akan mereka jual untuk ditukarkan dengan barang kebutuhan pokok. Namun tiba-tiba saja sekelompok pria tiba-tiba masuk ke dalam halaman mereka.


Mereka segera mengancam kedua kakak beradik yang berada di dalam kebun Dengan pedang tajam yang mereka bawa. Mereka adalah anak buah Pei Zhong Min yang sedang mencari laki-laki untuk menjadi tentara gratis untuk mereka. Mereka mencari di desa-desa yang berada di tepi hutan. Mereka mengancam akan membunuh anggota keluarga mereka jika mereka menolak meski pun kenyataannya adalah bahwa orang yang tersisa dan melihat kejadian itu akan segera dibunuh untuk menghilangkan jejak.


Dengan tujuan yang sama, orang-orang itu meminta kedua kakak beradik itu memanggil pria di keluarga mereka. Namun karena mereka hanya tinggal berdua, mereka tidak mungkin menjawab dengan jujur bahwa di rumah mereka tidak memiliki pria kecuali adiknya yang masih berusia sepuluh tahun atau mereka akan berada dalam bahaya. Keduanya memilih bungkam.


"Tidak ada pria di sini. Tolong ampuni kami. Lepaskan kamu berdua. Kalian boleh mengambil apa saja di rumah kami asalkan kalian bersedia melepaskan kami." Sang kakak tidak punya pilihan selain mengaku.


"Jadi tidak ada pria di rumah kalian?" Seorang pria menarik pedangnya dan menyarungkannya sebelum ia berjalan menuju sang kakak dengan senyum di bibirnya.


"Tidak ada." Sang kakak melihat senyum di bibir pria itu yang terlihat sangat menyeramkan, segera mundur menjauh. Ia segera menarik adiknya di belakang tubuhnya untuk melindungi.


"Jangan sakiti adikku!" Teriak sang kakak saat melihat tatapan pria itu memandang adiknya dengan lekat. Senyum meremehkannya membuatnya takut.

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Kami tidak akan menyakiti adikmu. Tapi kami akan membawanya untuk dilatih menjadi tentara."


"Tidak. Kalian tidak bisa membawa adikku pergi. Adikku masih terlalu kecil." Sang kakak semakin melindungi adiknya dengan menariknya ke belakang tubuhnya.


"Kami bisa saja melepaskan adikmu. Tapi...."


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_223🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉

__ADS_1


__ADS_2