Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 173


__ADS_3

Semua orang menoleh dan melihat Mo Han. Penjaga senior dan para penjaga lainnya menghela napas lega. Sebelumnya mereka bingung bagaimana berurusan dengan Pei Liu Wen meskipun mereka memiliki perintah langsung dari Pei Zhang Xi karena bagaimanapun juga Pei Liu Wen adalah salah satu pangeran Kekaisaran Shao. Apalagi dengan semua keributan itu, mereka menjadi pusat perhatian tamu undangan lain yang sedang mengantri. Mereka tidak mengetahui apakah ada orang kuat yang ada di belakang Pei Liu Wen sebagai pendukungnya. Jika mereka tidak sengaja menyinggung mereka karena masalah ini, takutnya mereka tidak akan bisa menahan konsekuensinya.


"Mo Han, hukum para penjaga gerbang yang telah berani memblokir kami di sini." Pei Liu Wen segera memberi perintah ketika melihat Mo Han. Meskipun Mo Han hanyalah seorang penjaga, dia merupakan tangan kanan Pei Zhang Xi. Di istana, Mo Han memiliki status yang terlihat lebih tinggi dari para bangsawan bahkan para pangeran karena kekuasaannya.


"Mohon maafkan hamba Raja Nan atas ketidaknyamanan ini. Namun ini adalah pengaturan Yang Mulia Putra Mahkota secara pribadi untuk anda." Mo Han berkata dengan senyum mengambang di bibirnya.


"Benarkah?" Pei Liu Wen begitu bahagia setelah mendengar apa yang dikatakan Mo Han. Ia segera bersemangat.


"Benar. Yang Mulia telah menyediakan sesuatu yang khusus sebelum acara penobatan dilaksanakan. Itulah mengapa Yang Mulia meminta hamba untuk menjemput Raja Nan." Mo Han menjelaskan.


"Baik. Kalau begitu jangan buang waktu di sini. Pimpin jalan." Pei Liu Wen hendak berjalan saat An Jia Yun menahan lengan bajunya dan membuatnya berhenti.


"Apa masalahnya? Kenapa menahanku hah? Apa kamu tidak dengar jika Yang Mulia Putra Mahkota telah menunggu hah?" Pei Liu Wen yang ditarik oleh An Jia Yun segera marah dan berteriak kesal.


"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh Yang Mulia?" An Jia Yun berbisik di telinga Pei Liu Wen yang membuatnya tersentak karena menemukan memang ada sesuatu yang janggal.


"Eh.... Lalu bagaimana?" Balas Pei Liu Wen juga dengan cara berbisik.


"Bagaimana pun dia adalah putra mahkota saat ini. Jika kita menolak perintahnya secara terbuka, akan buruk bagi kita ke depannya. Lebih baik kita mengikuti mereka dulu. Tapi kita harus tetap waspada. Jika ada sesuatu yang aneh kita akan menemukan alasan untuk segera pergi."


"Baiklah aku mengerti." Pei Liu Wen menganggukkan kepalanya sebelum mengulas senyum dan berbalik kembali memandang Mo Han.


"Kalau begitu Mo Han, bawa aku menemui Yang Mulia Putra Mahkota."


"Tentu saja Raja Nan. Mari." Mo Han segera melambaikan tangannya memberikan jalan pada Pei Liu Wen beserta orang-orang nya.


Pei Zhang Xi mengeluarkan sesuatu dari balik jubah luarnya saat Lu Jing Yu selesai memperbaiki riasannya yang telah dirusak oleh Pei Zhang Xi. Sebenarnya ada baiknya Pei Zhang Xi merusaknya karena riasan yang dibuat oleh Bibi pelayan yang dikirim Ratu Zhu untuk membantu Lu Jing Yu memang benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.

__ADS_1


Pagi ini ketika Lu Jing Yu masih mandi, pelayan tua kepercayaan ibu Suti datang untuk memanggil Pei Zhang Xi datang menemuinya. Ibu Suri dalam keadaan yang semakin baik hari ke hari setelah mendapatkan perawatan intensif dari Lu Jing Yu dan pengawasan ketat tabib Kekaisaran. Di bawah orang-orang yang kompeten, kondisi ibu Suri stabil. Apalagi beberpa orang yang mencoba menyusup masuk untuk mengacaukan kondisi ibu suri ditangkap dengan cepat sebelum menimbulkan masalah.


Dengan berbagai persiapan yang dilakukan selama beberapa Minggu tidak mungkin ibu Suri tidak akan menyadari apa yang terjadi. Akhirnya dengan desakan Ibu Suri yang tanpa ampun, pelayan tua kepercayaan Ibu suri akhirnya hanya bisa memberi tahunya jika Pei Zhang Xi akan segera dinobatkan sebagai Putra Mahkota.


Sebagai seorang ibu Suri yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di dalam istana, tanpa diberitahu secara rinci, ia sudah mengerti bagaimana Pei Zhang Xi yang selalu bersikeras menolak saat kakeknya menyinggung masalah Putra Mahkota akhirnya dbersedia dan akan dinobatkan sebagai Putra Mahkota yang pasti ada banyak masalah yang muncul dan berhasil membuat Pei Zhang Xi tidak memiliki pilihan lain.


Pada saat Pei Zhang Xi datang ke kamarnya untuk menemuinya, Ibu Suri juga tidak mengatakan apa-apa selain memberikan sebuah hiasan rambut Phoenix emas dengan untaian mutiara laut timur yang indah padanya. Hiasan rambut itu adalah warisan turun temurun dari keluarga Kekaisaran Shao. Ibu Suri tidak memberikannya pada Ratu Zhu karena Ibu Suri menilai jika karakter Phoenix yang agung tidak sesuai dengan Ratu Zhu yang penuh ambisi. Jadi dia hanya bisa menyimpannya hingga menemukan seseorang yang cocok dengannya. Dan menurut nya Lu Jing Yu adalah orang yang tepat menerimanya.


"Apa ini Yang Mulia?" Tanya Lu Jing Yu ketika ia meraba hiasan rambut yang baru saja disematkan oleh Pei Zhang Xi di kepalanya.


"Pemberian nenek. Apa kamu menyukainya?" Pei Zhang Xi memberikan cermin pada Lu Jing Yu.


"Ini.... Memang terlihat indah. Tapi..."


"Tentu saja indah. Ini adalah harta keluarga Kekaisaran Shao yang telah diwariskan turun-temurun. Jadi kamu harus menjaganya dengan baik. Hem." Pei Zhang Xi menatap mata Lu Jing Yu dalam.


Tuk. Pei Zhang Xi menyentil kening Lu Jing Yu. Membuat istrinya itu mengernyit tidak senang saat ia memegangi keningnya yang terasa cukup sakit.


"Ini sakit. Yang Mulia kejam." Lu Jing Yu menggerutu. Bibirnya yang kecil semakin terlihat lucu saat mengerucut.


"Itu pelajaran agar kamu tidak sembarangan berpikir."


"Aku tidak sembarangan berpikir. Bukankah Yang Mulia berkata jika ini adalah harta keluarga Kekaisaran yang diwariskan turun-temurun. Bagaimana aku bisa menerima jika Ratu Zhu tidak?"


"Kamu kira semua wanita manapun bisa menjadi pemilik harta keluarga? Nenek selalu menghargai hiasan rambut Phoenix ini. Itulah nenek tidak memberikannya pada Ibu Ratu karena karakter ibu Ratu tidak sesuai dengan hiasan rambut Phoenix ini."


"Ah! Kalau begitu, Karena nenek menilai aku pantas memilikinya, aku akan menjaganya dengan baik agar aku tidak membuat nenek menyesal telah menyerahkan hiasan rambut yang berharga ini padaku."

__ADS_1


"Bagus jika kamu mengerti."


"Yang Mulia, Mo Han datang untuk melapor." Suara Xiao Bei terdengar dari luar.


"Biarkan dia masuk. Kamu juga masuklah. Bantu aku menyempurnakan penampilan Putri Mahkota."


"Baik Yang Mulia."


Tak lama kemudian Mo Han masuk ke dalam kamar bersama dengan Xiao Bei.


"Bagaimana?" Pei Zhang Xi langsung bertanya saat Mo Han masuk.


"Hormat Yang Mulia. Hamba telah melakukan seperti yang Yang Mulia perintahkan."


"Bagus. Lalu bagaimana?"


"Seperti yang Yang Mulia perkiraan. Membuat mereka berbicara tidaklah mudah. Namun setelah kami mengeluarkan semua bukti yang menyudutkan nya, mereka tidak bisa mengelak dari tuduhan. Saat ini mereka telah ditangani. Yang Mulia Kaisar juga telah mengirim pasukannya untuk membantu."


"Akhirnya pria itu membuat pilihan yang tepat."


*


*


~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_173🍀~


Terima kasih sudah mampir 😘

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟


__ADS_2