Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 162


__ADS_3

Seorang wanita duduk dengan elegan di depan seorang pria tampan. Jika seseorang melihat mereka bersama, mungkin orang itu tidak akan mengira jika mereka adalah pasangan meskipun sebenarnya mereka adalah pasangan. Wanita itu bernama An Jia Yun, yang juga merupakan salah satu Permaisuri di kekaisaran Shao. Istri dari Pei Liu Wen. Pangeran ke dua dari kekaisaran Shao.


Pei Liu Wen menikahi An Jia Yun bukan karena ia mencintai wanita itu tetapi karena latar belakang keluarga An Jia Yun yang merupakan Perdana Menteri sisi kiri kekaisaran. Karena ibunya dan dirinya sendiri bukanlah seseorang yang mendapatkan kasih sayang dari Kaisar, ia hanya bisa berharap dengan dukungan yang baik ia bisa bersaing dengan para pangeran lain demi menduduki tahta. Itulah mengapa dia dapat bertahan menikah dengan An Jia Yun yang memiliki wajah biasa-biasa saja daripada menikahi nona muda lainnya yang lebih cantik darinya.


Namun sebenarnya itu bukanlah sebuah maslaah besar dimana seorang laki-laki dapat menikah dengan lebih dari seorang istri dan empat orang selir. Bahkan masih bisa menyimpan beberapa gundik lagi di halaman belakangnya tanpa menimbulkan masalah. Jadi setelah ia mendapatkan anak dari An Jia Yun, ia terburu-buru mengumpulkan wanita cantik di halaman belakangnya dengan dalih untuk meringankan beban istrinya.


Tetapi An Jia Yun juga bukanlah seorang wanita yang bodoh. Ia sudah dapat melihat niat awal suaminya sejak pertama kali pria itu datang melamarnya. Sedangkan dia sendiri memiliki ambisi yang besar. Jadi baginya, selama mereka saling menguntungkan, hubungan imbal balik masih bisa dipertahankan. Pei Liu Wen memberinya gelar dan dirinya akan membantu suaminya itu untuk mendapatkan tahta sehingga dia juga dapat menduduki tahta dan menjadi wanita nomor satu yang paling dihormati di kekaisaran Shao. Ia akan menunjukkan pada semua orang yang memandang rendah dirinya karena tidak memiliki wajah yang cantik seperti gadis bangsawan lainnya. Ia akan menginjak mereka yang menggunjingnya di belakangnya saat ia menjadi Ratu suatu hari nanti.


"Ap rencanamu sekarang? Semua rencanamu untuk menggagalkan upacara penobatan sebelumnya telah gagal semuanya. Apa yang kamu lakukan beberapa hari ini? Apa kamu akan membiarkan saja semua berjalan seperti itu? Jika penobatan akhirnya diadakan dan Pei Zhang Xi akhirnya berhasil dinobatkan menjadi Putra Mahkota yang diakui, bagaimana bisa kita merebutnya dengan mudah?" Pei Liu Wen menggebrak mejanya. Membuat cankir teh di atasnya hampir melompat jatuh. Namun wanita di sampingnya duduk dengan tenang tidak terganggu sama sekali. Dengan gerakan yang masih tampak elegan, ia menyesap tehnya.


"Tenanglah. Terlalu terburu-buru lama kelamaan akan membunuhmu." An Jia Yun melirik acuh Pei Liu Wen.


"Kamu memintaku untuk tenang. Tapi kamu masih bisa duduk di tempat ini tanpa melakukan apapun." Pei Liu Wen mendengus marah.


"Sudah kubilang untuk tenang. Aku juga bukan orang yang akan menerima kekalahan begitu saja."


"Lalu apa rencanamu?"


An Jia Yun tidak menjawab. Namun dari seringaian bibirnya, Pei Liu Wen sudah mengetahui jika istrinya pasti memiliki cara. Ia tidak menikahi An Jia Yun karena latar belakangnya saja. Namun juga karena wanita ini memiliki otak cerdas yang licik.


***

__ADS_1


Selir Su yang sejak pagi telah mondar mandir di paviliun nya akhirnya tidak dapat menahan rasa penasarannya yang sejak semalam mengganggu nya dan pergi menemui Kaisar di ruang belajar nya pada sore harinya dengan alasan membawakan kue osmantus buatannya.


"Salam Selir Su." Kasim Song yang menunggu di depan ruang belajar segera menghampiri dan menyambut selir Su.


"Hem. Apa Yang Mulia sedang sibuk?" Selir Su bertanya dengan senyum di bibirnya. Namun matanya jelas menunjukkan ketidaksabaran.


"Yang Mulia sudah menunggu Selir di dalam." Kasim Song menjawab apa adanya. Kaisar Pei An Long memang telah berpesan pada kasim Song untuk mempersilahkan Selir Su masuk karena ia sudah tahu jika selir kesayangannya ini pasti tidak akan bersabar menunggu besok dan datang untuk menemuinya.


"Apa Yang Mulia menungguku?" Selir Su mengerucutkan bibirnya. Jika ia tahu, ia tidak akan menahan rasa penasarannya begitu lama dan bahkan telah menghabiskan banyak waktu untuk membuat kue Osmantus.


"Benar Selir. Yang Mulia mengetahui jika Selir pasti akan datang dan bahkan telah secara khusus menyalakan dupa aroma terapi kesukaan Selir di dalam ruang belajar."


"Baiklah Kasim Song. Kalau begitu aku masuk dulu." Selir Su mengambil alih nampan berisi kue Osmantus dari tangan bibi Gu untuk dibawanya masuk secar pribadi.


"Kau di sini?" Kaisar Pei An Long berjalan mendekati Selir Su. Mengaitkan tangannya di pinggang selir Su dan membawanya duduk di kursi.


"Ya. Aku membuat kue Osmantus siang ini dan berharap Yang Mulia bersedia untuk mencicipinya." Selir Su membuka nampan sehingga kue osmantus buatannya yang cantik terlihat.


"Tentu saja aku bersedia." Kaisar Pei An Long mengambil satu kue dan memakannya. Rasa kue Osmantus buatan selir Su tidak hanya cantik namun juga lezat. Oleh karena itu Kaisar Pei An Long yang awalnya tidak menyukai kue ini akhirnya menyukainya namun dia hanya memakan yang dibuat oleh Selir Su. Itu karena Selir Su tidak hanya memasukkan bunga Osmantus, selir Su juga memasukkan daun mint dan memilih menggunakan madu utnuk rasa manis daripada gula.


"Rasanya sangat enak. Namun aku merasa ada yang kurang." Kaisar Pei An Long mengucapkannya dengan serius sambil menatap Selir Su yang membuat Selir Su sangat terkejut. Ia merasa tidak ada yang salah dengan kue buatannya karena ia selalu mencicipinya terlebih dahulu sebelum menyajikannya pada kaisar Pei An Long.

__ADS_1


"Aku sudah mencicipinya dan tidak merasa ada yang berbeda." Selir Su mengerutkan keningnya.


"Ada. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mencobanya." Ucap kaisar Pei An Long masih dengan nada dan wajah yang serius. Membuat Selir Su merasa penasaran. Ia pun mengambil satu kue dan menggigitnya. Namun begitu kue itu masuk ke dalam mulutnya, Kaisar Pei An Long mengambilnya dengan menciumnya dalam.


"Apa yang Yang Mulia lakukan?" Selir Su sangat terkejut dengan tindakan kaisar Pei An Long. Ia segera menutupi bibirnya yang bengkak.


"Tadi aku menemukan jika kue itu kurang manis. Namun sekarang, rasanya sudah pas." Kaisar Pei An Long mengunyah kue Osmantus yang diambil dari mulut selir Su dan berkata dengan senyum jahilnya.


"Huh! Alasan! Sekarang apa Yang Mulia sudah menemukan nama yang sesuai untuk cucuku?" Selir Su segera mengalihkan pembicaraan dan melepaskan Kaisar Pei An Long.


"Aku sudah menemukan beberapa. Tapi aku belum memutuskan yang mana. Beruntung kamu datang, jadi kita bisa memilih satu yang cocok bersama." Kaisar Pei An Long berdiri dan diikuti Selir Su ke meja dimana sebuah kertas terbentang di atasnya. Selir Su membaca satu persatu karakter indah yang membentuk nama.


"Mana yang menurutmu cocok untuk cucu kita?" Kaisar Pei An Long bertanya setelah Selir Su selesai membacanya. Ia sebenarnya telah memilih satu dari nama-nama tersebut namun ia sengaja menunggu Selir Su untuk meminta pendapatnya sebelum ia memutuskan nya. Ia tahu jika Selir Su pasti ingin ikut memberi nama pada cucu pertama mereka.


Selir Su membaca kembali satu persatu dan matanya akhirnya tertuju pada karakter yang ada di bagian tengah atas kertas. Melihat ke arah mana mata selir Su tertuju, kaisar Pei An Long tersenyum karena nama itu juga merupakan nama pilihannya.


*


*


~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_162🍀~

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟


__ADS_2