
Pei Shi Liang mendengus melihat He Tian Sui yang memiliki ekspresi seperti dia baru saja dianiaya. Jika orang tidak mengetahui duduk perkaranya, mereka mungkin akan mengira jika dia adalah korban sedangkan Pei Shi Liang adalah tersangka yang baru saja menganiaya gadis lemah yang tidak bersalah.
He Tian Sui pandai memainkan perasaan orang sejak awal dan tahu bagaimana bersikap. Ia pandai mengambil hati orang lain agar memihak padanya tepat pada pandangan pertama. Air matanya dengan mulus meluncur dari kedua matanya yang berair. Namun Pei Shi Liang bukan seorang polos yang akan dengan mudah tertipu dengan wajah polosnya. Pei Shi Liang sudah cukup melihat yang seperti itu selama hidupnya. Tumbuh di dalam istana sejak ia dilahirkan memang tidak mudah, tetapi seiring berjalan nya waktu, ia juga belajar segalanya dan menjadi tangguh.
"Hemp! Orang buta juga bisa melihat jika kamu sengaja melakukannya. Kamu kira aku bodoh hah?! Selain itu, targetmu yang sebenarnya bukanlah aku, melainkan kakak ipar ku yang merupakan Putri Mahkota kekaisaran Shao yang sedang aku kawal. Apakah kamu, yang hanya seorang putri seorang Menteri mampu menanggung konsekuensinya hah?"
"Ini... Ini tidak seperti yang Putri katakan. Hamba benar-benar tidak sengaja melakukannya. Jalan... Ya. Jalan di sekitar licin dan membuatku terpeleset hingga semua ini terjadi. Mohon ampuni hamba Tuan Putri."
"Seenaknya saja meminta ampun?! Seharusnya sebagai seorang gadis dari keluarga bangsawan dapat berpikir sebelum melakukan sesuatu sehingga tidak akan terjadi hal seperti ini. Bukannya berani bertindak namun tidak berani bertanggung jawab. Huh!"
"Shi Liang sudahlah. Waktu kita lebih berharga daripada mengurusi hal-hal sepele seperti ini. Tujuan kita datang belum tercapai. Jangan buang-buang waktu di sini." Lu Jing Yu menahan tangan Pei Shi Liang yang masih berusaha melawan.
"Huh! Karena kakak ipar ku begitu baik, aku tidak akan mengejar terlalu jauh. Namun aku tidak akan melepaskan masalah ini dengan mudah. Karena kamu mengatakan bahwa lantai di sini terlalu licin hingga membuatmu terpeleset, aku akan merepotkanmu untuk membersihkan nya secara pribadi agar aku dan kakak iparku tidak akan terpeleset nanti. Aku rasa kamu tidak akan keberatan juga jika aku mengirim pelayan untuk mengawasi pekerjaan untuk memastikan jika lantai benar-benar dibersihkan bukan?"
"Ini... Tuan Putri, bukankah putri sudah pergi terlalu jauh?" He Tian Sui tidak pernah bekerja sebelumnya apalagi dia harus membersihkan lantai yang setiap hari diinjak oleh orang lain. Membayangkan nya saja membuatnya ingin memuntahkan darah.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu lebih suka aku mengirim surat pada ayahanda dan memberitahu bahwa putri menteri He, He Tian Sui mencoba mencelakai Putri Mahkota kerajaan ini dan lihat apa yang akan terjadi pada kediaman menteri He?" Pei Shi Liang memicingkan matanya dengan senyum penuh kelicikan membuat matanya menyipit.
He Tian Sui menelan ludahnya kasar saat ia mengepalkan tangannya. Jika kejadian hari ini sampai ke telinga Kaisar, menurut hukum kerajaan yang berlaku, hukuman yang akan diterima oleh keluarganya bahkan tidak sanggup ia bayangkan.
"Tolong jangan lakukan itu putri. Hamba akan melakukan seperti yang Putri perintahkan." He Tian Sui menggigit bibir bawahnya saat ia berbicara dengan tangannya yang mengepal di balik lengan bajunya hingga kukunya yang dicat merah dan panjang hampir menancap di kulit tangannya yang halus.
"Hemp! Xing Xi, awasi nona He. Jangan sungkan untuk mengingatkan dia jika lantai masih tidak cukup dibersihkan."
"Baik Putri. Hamba mengakui perintah." Xing Xi adalah pelayan yang mengikuti Pei Shi Liang sejak muda dan memiliki temperamen dan sifat yang mirip dengan majikannya. Jadi dapat dipastikan dia memiliki sifat dominan yang lebih besar dari pada pelayan pada umumnya. Xing Xi memiliki kebanggaan yang hampir sama dengan para putri bangsawan. Jadi dalam menghadapi He Tian Sui bukan menjadi masalah baginya.
Setelah memberikan perintah, Pei Shi Liang melembutkan ekspresi nya dengan cepat saat ia menggamit lengan Lu Jing Yu dan membawanya pergi ke lantai dua. Ruangan yang sudah dipersiapkan untuk mereka. Manager restoran yang menyambut mereka sejak awal hanya bisa melihat tanpa berani menyela. Saat melihat situasi sudah kembali kondusif, ia segera melebarkan senyumnya sebelum mengikuti Lu Jing Yu dan Pei Shi Liang tanpa memperhatikan He Tian Sui yang memiliki wajah hitam seperti dasar pot.
Dari lantai dua dimana Xian Zi Xuan dapat melihat semua meja dan tempat dari sana, bibir yang sejak awal sangat jarang memiliki senyum tanpa sadar tertarik tanpa dilihat siapapun. Bahkan Xian Zi Xuan sendiri tidak menyadarinya.
"Menarik." Gumam Xian Zi Xuan dengan suara yang hampir tidak terdengar.
__ADS_1
"Mohon maaf. Ada apa tuan muda?" Bei Yin yang sejak tadi memperhatikan Xian Zi Xuan mengernyitkan alisnya saat ia merasa seperti mendengar suara Xian Zi Xian tetapi tidak begitu jelas dan segera bertanya. Ia khawatir ada sesuatu yang diperintahkan majikannya itu padanya tetapi ia gagal mendengarnya.
"Tidak apa-apa. Lanjutkan apa yang kamu dapatkan." Xian Zi Xuan kembali pada wajah pokernya.
Pei Shi Liang tiba-tiba merasa punggungnya dingin dan meraba lehernya tanpa sadar. Ia merinding tanpa alasan.
"Ada apa?" Lu Jing Yu yang berjalan di samping nya berhenti dan bertanya melihat tingkah aneh Pei Shi Liang.
"Tidak apa-apa. Mari kita segera masuk. Aku sudah lapar kak." Pei Shi Liang sendiri tidak tahu. Jadi dia hanya mencari alasan agar kakak iparnya tidak mengejarnya.
*
*
~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_159🍀~
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟