Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 210


__ADS_3

Pei Shi Liang segera mandi setelah sampai di tenda miliknya sendiri. Xing Xi melayaninya dengan sangat baik. Dengan segera, Pei Shi Liang telah tampil dengan sangat cantik dengan hanfu dengan sulaman bunga Poppy di bagian bawahnya. Rambutnya yang tadi diikat tinggi saat ini ditata dengan indah. Riasan tipis juga diaplikasikan pada wajahnya yang manis. Malam ini adalah acara perjamuan makan. Jadi Pei Shi Liang harus berperan sebagai seorang putri yang anggun dari suatu Kekaisaran.


Semua binatang yang didapatkan semua orang dikumpulkan menjadi satu. Sebagian dimasak untuk menu pada perjamuan. Sebagian lagi dibagikan untuk rakyat yang tinggal di sekitar hutan. Lagipula dengan banyaknya binatang yang didapatkan semua orang, mereka tidak akan habis dimakan dalam semalam. Meskipun ada sebagian yang disimpan dengan perawatan khusus, itu masih terlalu banyak.


Xing Xi baru saja mengaplikasikan pewarna bibir berwarna merah muda di bibir Pei Shi Liang saat seorang pelayan datang dari luar dengan hati-hati.


"Salam Putri." Pelayan itu membungkuk dan memebri hormat dengan baik saat ia sampai di dekat Pei Shi Liang.


"Bangunlah." Pei Shi Liang melambaikan tangannya saat ia memutar tubuhnya untuk memandang pelayan itu.


"Tuan Putri, di depan seorang pelayan yang merupakan pelayan dari Yang Mulia Putra Mahkota Shixian meminta bertemu." Pelayan itu dengan hati-hati mengucapkan kalimatnya.


Pei Shi Liang mengangkat alisnya. Apa lagi yang diinginkan pria itu? Apa tidak cukup menahannya selama seharian ini dan masih berniat mengganggunya. Apa dia masih memiliki kekuatan?


"Hem... Biarkan dia masuk." Menghembuskan napas, Pei Shi Liang hanya bisa membiarkan pelayan itu masuk untuk melihat apa yang dilakukan pria itu kali ini. Bagaimana pun ia adalah seorang putra mahkota dari sebuah kekaisaran yang tidak bisa sembarangan ia singgung.


"Baik Putri." Pelayan itu membungkukkan tubuhnya sebelum mundur dengan perlahan dan menghilang di balik pintu tenda dan kembali masuk bersama dengan seorang pelayan yang datang dengan membawa sesuatu di tangannya yang tampak tidak asing di mata Pei Shi Liang.

__ADS_1


"Hormat hamba Putri Ke delapan." Pelayan itu mengikuti Xian Zu Xuan sejak lama dan memiliki pemahaman mengenai tuannya. Melihat tuannya yang tidak pernah memasukkan wanita manapun di matanya memperlakukan Pei Shi Liang dengan sangat berbeda mengerti jika gadis itu pastilah memiliki posisi yang istimewa bagi tuannya. Karena itulah ia tidak berani berbuat tidak sabar dan membuat kesalahan sekecil apapun. Perasaan hormatnya tulus berasal dari dalam hatinya.


"Bangunlah. Apa kamu dikirim oleh Putra mahkota Shixian?" Pei Shi Liang segera bertanya. Diam-diam memperhatikan gerak gerik pelayan yang terlihat tenang.


"Benar putri. Yang mulia mengirim hamba kemari untuk memberikan kue yang dipesan sama seperti yang dipesan oleh putri pagi ini. Namun, Yang Mulia sengaja meminta pembuat kue untuk membuatnya di sore hari. Jadi saat hamba mengambilnya, semuanya dalam keadaan baru saja dimasak. Tuan Putri boleh memeriksa nya." Pelayan itu menjelaskan dengan baik. Sebelum Xian Zi Xuan berangkat berburu, ia memberikan perintah padanya dan mengingatkannya untuk tidak melupakan satu hal pun.


Xing Xi mengambil kotak makan dari tangan pelayan itu setelah melihat Pei Shi Liang mengangguk kan kepalanya.


"Paket ini sudah aku terima. Tolong bantu aku menyampaikan rasa terima kasih ku pada Putra Mahkota Shixian." Pei Shi Liang mengangguk kan kepalanya. Menatap pelayan itu tanpa teralihkan. Memang pantas menjadi pelayan di sekitar Xian Zi Xuan. Baik penampilan maupun temperamen nya sangat layak.


"Baiklah Tuan putri. Tugas hamba telah selesai dan hamba memohon izin untuk kembali." Pelayan itu membungkukkan tubuhnya dan segera keluar dari tenda Pei Shi Liang.


Setelah dirinya menjadi putra Mahkota, Pei Zhang Xi menjadi lebih sibuk dari biasanya. Ia harus menemui beberapa orang dari kekaisaran lain untuk memberikan salam sebelum acara perjamuan. Secara otomatis, sebagai istrinya, Lu Jing Yu harus menemani Pei Zhang Xi untuk menemui orang-orang ini. Setelah Pei Shi Liang keluar dari tenda nya, Pei Zhang Xi kembali.


"Ada apa? Kenapa melamun?" Pei Zhang Xi bertanya setelah melihat Lu Jing Yu yang melamun saat Xiao Bei merias wajahnya. Istrinya jarang kehilangan dirinya seperti ini jadi ia merasa cemas. Ia duduk di samping Lu Jing Yu. Xiao Bei segera mundur dengan sadar.


"Em... Tidak apa-apa. Aku hanya merasa semuanya berjalan secara tidak terduga." Lu Jing Yu menjawab sekedarnya.

__ADS_1


"Aku mengerti bagaimana perasaan mu. Tapi inilah takdir kita yang harus kita jalani." Pei Zhang Xi menepuk bahu Lu Jing Yu sebelum menariknya ke dalam pelukannya.


"Yah.... Aku tidak tahu apakah aku layak menjadi seorang Putri Mahkota?"


"Kenapa tiba-tiba mengatakan hal ini?" Pei Zhang Xi menatap Lu Jing Yu penuh tanya. Namun yang ia dapati hanya helaan napas Lu Jing Yu yang terasa penuh ketidakberdayaan.


Setelah Pei Shi Liang keluar dari tendanya, ia tidak sengaja melihat keramaian di luar. Ia pun keluar untuk melihat yang terjadi. Namun ia justru mendengar sekelompok wanita sedang membicarakan dirinya. Dan semua kata-kata para wanita itu sangat menusuk hatinya, membuat dirinya merasa bahwa ia sebenarnya tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang putri Mahkota yang mendampingi Pei Zhang Xi...


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_210🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi , pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


__ADS_2