Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 166


__ADS_3

Semua orang sibuk hari ini. Para pelayan bergegas menyelesaikan pekerjaan mereka. Hiasan indah dengan dominasi warna merah dan emas menghiasi seluruh sudut istana. Taman Kekaisaran telah dibersihkan dan dirapikan bahkan sebelum matahari terbit.


Orang-orang sudah sibuk sejak dini hari. Apalagi pelayan yang bertugas di bagian dapur. Asap dan uap terus mengepul dari sana. Berbagai makanan dan kudapan dipersiapkan dengan teliti. Koki tambahan didatangkan dari beberapa restoran terkenal di ibukota untuk membantu menyiapkan hidangan.


Acara inti akan diadakan di aula istana. Di dalam aula telah disiapkan berbagai persiapan. Mulai dari meja kursi dan panggung yang ditata dengan rapi dan tersusun.


Namun kesibukan bukan hanya berada di tempat dimana acara akan dilaksanakan, yang lebih sibuk dari semuanya adalah para pelayan anggota keluarga kerajaan. Terutama pelayan yang memiliki majikan wanita. Setiap ada acara, para wanita akan berlomba tampil lebih baik dari yang lainnya. Apalagi acara besar seperti penobatan Putra Mahkota yang akan dihadiri tamu yang tidak hanya dari dalam Kekaisaran namun juga akan ada banyak utusan dari kekaisaran lainnya. Mereka tidak boleh terlihat buruk di depan umum. Sehingga bahkan sebelum matahari terbit, mereka sudah bangun dan mulai bersiap-siap.


Namun pagi ini, yang menjadi bintang pada acara ini bahkan masih belum bersiap-siap. Lu Jing Yu dan Pei Zhang Xi baru saja kembali dari tempat Selir Su untuk melihat putra mereka. Kedua orang itu tidak bisa tidur nyenyak semalam karena memikirkan putra mereka yang baru kali ini jauh dari mereka sehingga mereka sudah menyusulnya ke tempat Selir Su tepat setelah dua orang yang menyelinap ke kamar mereka pergi.


Saat Lu Jing Yu sampai di paviliun Kedamaian, Xiao Bei segera menghampiri Lu Jing Yu dan menariknya masuk untuk bersiap setelah ia memberi hormat pada Pei Zhang Xi tanpa meminta izin pada Lu Jing Yu.


"Xiao Bei hentikan.... Aku bisa melapas pakaianku sendiri." Gerutu Lu Jing Yu saat Xiao Bei tiba-tiba menarik tali hanfunya. Ia dengan sigap memegang erat hanfunya.


"Tidak ada waktu lagi Yang Mulia. Semua orang sudah bersiap. Lihatlah anda masih belum melakukan apa-apa. Utusan Ratu batu saja datang memeriksa persiapan." Xiao Bei tidak peduli apapun dan terus membuka hanfu luar Lu Jing Yu. Melihat jika Xiao Bei tidak bisa dihentikan, Lu Jing Yu akhirnya hanya bisa pasrah saat hanfu luarnya dilepas dan didorong masuk ke dalam bilik mandi.


Di dalam bilik mandi Lu Jing Yu begitu terkejut saat melihat semua orang yang ada di dalam. Setidaknya ada lebih dari sepuluh orang gadis pelayan di dalam bilik mandi. Mereka semua membawa sesuatu yang berbeda di tangan mereka. Karena hari ini adalah acara resmi yang sangat penting. Untuk mandi Lu Jing Yu juga dengan menggunakan cara yang spesial. Dengan perlengkapan yang sama dengan alat mandi yang digunakan para gadis sebelum mereka menikah.


Setelah dirinya menggantikan Lu Jing Yu yang asli, dia tidak pernah mandi dengan perlengkapan yang banyak seperti itu. Ia tidak dapat membayangkan betapa lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mandi.

__ADS_1


"Yang Mulia jangan membuang waktu lagi. Biarkan kami membantu Yang Mulia bersiap." Xiao Bei melihat Lu Jing Yu yang larut dalam pikirannya dan kembali mendorong nya untuk masuk ke dalam bak air yang penuh dengan kelopak bunga dengan berbagai warna dan jenis.


An Jia Yun dalam suasana hati yang bahagia hari ini. Rencananya berhasil dan hanya menunggu waktu hingga Pei Zhang Xi akan dilengserkan. Setelah itu ia akan membantu Pei Liu Wen naik ke posisinya. Selain itu, semalam akhirnya suaminya itu bermalam dengannya setelah hampir satu bulan suaminya tidak mengunjungi kamarnya. Saat ini ia berharap ia akan segera hamil dan melahirkan seorang putra yang dapat menggantikan bayi Lu Jing Yu di hati semua orang. Mengingatnya, ia tersenyum bahagia saat ia mengelus perutnya yang datar.


"Sudah selesai Permaisuri." Pelayan setianya berkata ketika ia selesai memasang tusuk konde emas berbentuk bunga anggrek. Lalu ia memberikan cermin pada majikannya agar majikannya melihat hasil kerjanya.


"Bagus. Bukankah aku terlihat cantik?" An Jia Yun mengulas senyumnya. Berharap sebuah pujian.


"Anda selalu terlihat cantik Permaisuri." Bukannya senang mendengar pujian pelayannya, An Jia Yun menarik kembali senyumnya.


Mengetahui dirinya telah membuat majikannya marah, pelayan itu segera memint maaf. Ia segera bersujud dan memukulkan kepalanya di atas lantai yang keras seraya meminta maaf.


"Mohon ampun Permaisuri. Pelayan ini tahu dirinya bersalah." Ucapnya sambil terus menabrak lantai hingg kepalanya merah dan mengeluarkan darah segar. Semua pelayan yang ada di dalam ruangan mulai gemetar ketakutan. Mereka berharap mereka tidak akan pernah berada pada posisi itu sampai kapanpun.


Wajah An Jia Yun terbilang paling biasa-biasa saja diantara para Permaisuri lainnya. Jika ada orang yang memujinya cantik, bukannya senang dia malah akan marah karena ia menganggap orang itu telah menghinanya. Maka dari itu ia tidak pernah menanyakan pada orang lain mengenai penampilan karena apapun jawaban mereka akan sama-sama membuatnya marah.


Namun karena hari ini suasana hatinya sedang bahagia dan dia tidak ingin merusaknya, ia akan mengabaikan masalah ini dan melupakannya. Lagipula saat ia berada di puncak nanti, tidak peduli apa semua orang masih akan memujanya dan menjilatnya.


"Huh lupakan saja. Pergi ke halaman belakang dan terima hukumanmu." An Jia Yun melambaikan tangannya. Memandang pelayan itu dengan sinis.

__ADS_1


"Terima kasih atas berkah Permaisuri. Permaisuri bijaksana." Pelayan itu segera berjalan keluar tanpa berani menghapus darah yang mengalir sari dahinya yang hampir masuk ke dalam matanya.


"Huh!" An Jia Yun mendengus.


"Apa yang membuat Permaisuri ku berwajah masam di hari yang cerah ini?" Pei Liu Wen masuk ke dalam ruangan An Jia Yun.


"Tidak apa-apa. Hanya masalah kecil."


"Baguslah kalau begitu. Jangan biarkan masalah kecil menghancurkan hari yang bahagia ini." Pei Liu Wen mengulurkan tangannya untuk membantu An Jia Yun berdiri.


"Eum. Yang Mulia benar." An Jia Yun kembali mengulas senyum nya.


"Baiklah. Mari kita berangkat sekarang. Jangan sampai kita ketinggalan pertunjukan yang menyenangkan."


*


*


~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_166🍀~

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟


__ADS_2