
Pagi harinya Lu Jing Yu melihat wajah kusut Pei Zhang Xi dan tertawa terbahak-bahak. Saat ia bangun di pagi hari dan melihat kerutan di kening Pei Zhang Xi yang tidur memeluknya semalam membuatnya merasa bersalah. Dia benar-benar tidak sengaja tertidur malam tadi. Meskipun jujur saja ia belum siap untuk tahap yang lebih intim melebihi pelukan dan ciuman. Tetapi setelah mengingat bagaimana Pei Zhang Xi yang tetap bertahan selama ini membuatnya bertekad akan memberikan seluruh hidupnya di kehidupan ini pada pria yang memiliki jadi suaminya itu. Apalagi dia tidak menemukan cara bagaimana dia bisa kembali ke dunia asalnya dan menjalani hidup yang normal.
Namun ia tidak menyangka kerutan hitam di dahi Pei Zhang Xi masih bertahan bahkan saat mereka makan sarapan mereka. Meskipun Pei Zhang Xi masih membantunya bahkan menyuapinya saat ia makan, wajah cemberut nya sama sekali tidak dapat disembunyikan.
"Yang Mulia, apa yang Mulia masih marah padaku? Bukankah aku sudah bilang jika aku tidak sengaja?" Lu Jing Yu merasa sangat bersalah.
"Aku tidak marah." Jawab Pei Zhang Xi sambil menyuapi Lu Jing Yu dengan telaten.
"Kalau tidak marah jangan tunjukkan wajah cemberutmu itu." Lu Jing Yu mengunyah makanannya dengan cepat dan dengan cepat pula berbicara.
"Kalau makan jangan terburu-buru. Nanti kamu bisa tersedak."
"Iya iya. Tapi jangan marah dulu ya. Janji?"
"Huft Yu'er. Aku benar-benar tidak marah. Hanya saja aku hanya marah dan kesal pada diriku sendiri. Mungkin aku yang terlalu terburu-buru. Semalam aku banyak berpikir dan aku menemukan jika aku mungkin saja adalah pria egois dan ba-ji-ngan yang hanya memikirkan masalah itu saja tanpa mempertimbangkan perasaan mu. Aku tidak memperhatikan kondisimu. Bagaimana aku bisa memikirkan hal ini tanpa menghiraukan kesulitanmu ini? Apalagi aku juga mengetahui bahwa mungkin akan bahaya jika melakukan itu sekarang. Tapi hanya karena keegoisanku aku mengabaikan semuanya. Aku benar-benar salah. Maafkan aku Yu'er. Semakin dipikirkan semakin aku bersyukur karena kamu ketiduran semalam. Jika tidak mungkin aku akan tidak sengaja menyakiti kalian." Pei Zhang Xi mengelus kepala Lu Jing Yu dengan rasa bersalah.
"Yang Mulia, aku benar-benar beruntung menikah dengan pria yang baik dan pengertian sepertimu. Nanti pulanglah lebih awal dari biro Yunguan." Lu Jing Yu memikirkan ide tiba-tiba.
Pei Zhang Xi sering pulang larut malam akhir-akhir ini. Itu karena ia banyak libur sebelumnya sehingga banyak dokumen dan kasus yang harus ia selesaikan.
"Kenapa?" Pei Zhang Xi tidak bisa tidak penasaran. Ia memasukkan lagi makanan ke dalam mulut Lu Jing Yu
"Rahasia. Pulang saja lebih awal malam ini." Lu Jing Yu memikirkan ide Yang tidak pernah terlintas dibenaknya sebelumnya. Jadi dia tidak akan memberitahu Pei Zhang Xi sebelumnya. Selain itu ia juga harus mempersiapkan diri untuk kejutannya ini.
"Bisakah memberitahuku sekarang?" Pei Zhang Xi benar-benar penasaran. Tapi Lu Jing Yu masih enggan memberitahunya.
"Tentu saja tidak. Jika aku memberitahu Yang Mulia sekarang, namanya bukan lagi kejutan."
"Permaisuri, kejutan apa yang akan anda berikan pada Yang Mulia? Apakah ada yang bisa hamba bantu?" Xiao Bei bertanya begitu Pei Zhang Xi keluar kamar untuk pergi bekerja.
__ADS_1
"Itu rahasia. Tolong siapkan minyak zaitun saja untukku."
"Apa Permaisuri akan memijat Yang Mulia?"
"Ya."
"Sejak kapan Permaisuri bisa memijit?"
"Apa kamu tahu aku paling pandai memijat bibir agar tidak bisa bicara lagi." Xiao Bei dengan reflek menutup mulutnya begitu mendengar ucapan Lu Jing Yu.
***
Mendengar akan ada kejutan dari Lu Jing Yu malam ini membuat Pei Zhang Xi berkerja keras sepanjang hari. Dia bahkan tidak makan siang di luar dan menyuruh Mo Ting untuk membelikannya makanan untuk dia makan di kantor.
"Yang Mulia, Kaisar memberi tugas pada anda untuk menyiapkan penyambutan untuk jenderal Wang di gerbang ibukota tiga hari lagi." Kasim Ji datang ke biro Yunguan sore hari ketika Pei Zhang Xi sudah berkemas pulang.
Tetapi karena orientasi seksualnya yang bermasalah, kebanyakan sanggar tari tidak akan membiarkan gadis-gadis mereka untuk tampil. Sebagai gantinya mereka akan mengganti para wanita dengan pria cantik yang gemulai. Yang juga memiliki masalah yang sama dengan Jenderal Wang,
"Kaisar menilai bahwa tugas ini hanya sanggup diselesaikan oleh Yang Mulia." Jawab kasim Ji dengan senyumnya yang lembut. Kasim Ji adalah Kasim kepercayaan Kaisar setelah Kasim Song. Meskipun usianya masih terbilang muda, karismanya tidak dapat diabaikan.
"Baiklah-baiklah. Lagipula aku tahu bahwa ayah memagari sengaja melakukan hal ini kan? Ia memang rubah tua yang licik berperut hitam."
"Hati-hati Yang Mulia. Dinding terkadang juga memiliki telinga. Hamba sarankan untuk menjaga bicara anda." Kasim Ji masih tersenyum saat kata-katanya penuh dengan ancaman.
"Iya. Sampaikan pada Ayah Kaisar bahwa aku menerima tugas darinya." Pei Zhang Xi menekuk bibirnya saat ia berbicara.
"Baik. Hamba akan sampaikan hal ini pada Kaisar."
"Hem." Dengus Pei Zhang Xi kesal.
__ADS_1
"Kalau begitu hamba tidak akan mengganggu waktu Yang Mulia lagi. Hamba akan permisi sekarang."
"Pergilah." Kasim Ji melihat Pei Zhang Xi dengan senyum di bibirnya yang abadi.
Sepeninggal Kasim Ji, Pei Zhang Xi memanggil Mo Han untuk menyiapkan kuda untuknya.
"Apa yang Mulia tidak jadi pulang lebih awal hari ini?" Mo Ting yang mendengar bahwa Pei Zhang Xi akan pergi lagi segera bertanya. Pasalnya baru beberapa saat yang lalu ia melihat Pei Zhang Xi yang dengan semangat bersiap untuk pulang.
Mo Ting tidak ada tahu tentang Kasim Ji yang datang dan menyampaikan tugas dari Kaisar untuk Pei Zhang Xi. Dan gagal menyadari adanya gelombang awan hitam yang berarak di atas kepalanya. Bisa dikatakan bahwa Mo Ting memang dilahirkan dengan kesialan yang tidak tertolong.
"Mo Han, suruh perintahkan adikmu itu untuk menyiapkan barisan penari waria untuk hari penyambutan Jenderal Wang." Ucap Pei Zhang Xi sebelum ia naik ke atas kuda dan menggelak kudanya dengan kecepatan tinggi.
"Apa kamu sudah mendengar perintah dari Yang Mulia?" Mo Han mengangkat alisnya di depan adiknya.
"Kakak pertama, kali ini apa lagi salahku?" Namun bukannya jawaban yang dia dapat. Tetapi laju kuda yang berlari kencang yang menciptakan debu yang beterbangan.
"Uhuk Uhuk. Uhuk Uhuk." Mo Ting menepuk dadanya begitu batuknya berhenti dan dadanyaterasa sesak. "Sebenarnya ada apa dengan mereka semua? Kenapa marah dengan tanpa alasan?" Lanjutnya setelah batuknya mereda.
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_77♡
*
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .
__ADS_1