
"Nona Chu?" Kasim Song mengerutkan alisnya saat mendengar laporan bahwa Chu Fei meminta izin untuk masuk dan melaporkan sesuatu hal yang buruk.
Sama seperti para penjaga dan Kasim di depan aula, mereka semua mengira jika yang tengah berada di dalam bahaya adalah Lu Jing Yu.
"Ya Kasim Song." Kasim Yuan mengangguk membenarkan.
"Baiklah. Bawa dia segera kemari." Kasim Song tidak berani mengulur waktunya dan segera memberikan izin. Masalah Lu Jing Yu tidak boleh sampai disepelekan.
Chu Fei di bawa masuk dari samping. Hampir tidak ada yang menyadari keberadaannya karena semua orang menghabiskan perhatian mereka pada orang-orang yang dipaksa berlutut di depan Kaisar. Mengakui kesalahan mereka. Lalu meminta pengampunan Kaisar Atas kelalaian mereka berharap lepas dari hukuman yang mereka takutkan.
Namun Pei Zhang Xi selalu memperhatikan. Setiap detail sehingga ia menyadari ada yang salah saat melihat Kasim Yang masuk dengan tergesa-gesa dan berbicara dengan Kasim Song dengan wajah yang serius. Namun ia masih belum mengetahui apa itu sehingga ia melihat Chu Fei masuk beberapa saat setelahnya bersama dengan Kasim Yang yang membawanya dengan hati-hati. Ekspresi nya yang awalnya acuh tak acuh mulai goyah. Namun melihat Chu Fei yang datang menghampiri Kasim Song, kekawatiran nya sedikit memudar karena dia tahu bahwa masalah itu pasti tidak ada hubungannya dengan Lu Jing Yu maupun Pei Zhi Hui atau kalau tidak, Chu Fei tidak akan datang pada Kaisar Pei An Long terlebih dahulu melainkan padanya. Namun Chu Fei tidak mungkin dikirim begitu saja oleh istrinya. Pasti ada sesuatu yang besar yang telah terjadi.
"Mo Han, pergi cari tahu apa yang terjadi." Mo Han baru saja kembali setelah ia menyerahkan Di Yi Shi kepada para penjaga untuk diikat dan dihadapkan di depan Kaisar.
"Baik Yang Mulia." Mo Han mengangguk dan tanpa bertanya ia sudah tahu apa yang dimaksudkan oleh Pei Zhang Xi untuk ia lakukan. Mo Han segera pergi dan keluar dari aula Pengadilan alih-alih pergi mendekati Chu Fei. Ia mengetahui jika Pei Zhang Xi tidak hanya ingin mengetahui apa yang terjadi karena dengan segera ia akan mengetahuinya saat Chu Fei sudah memberitahu, namun Mo Han mengerti jika Pei Zhang Xi lebih menginginkan dirinya untuk pergi ke tempat Lu Jing Yu berada dan membantunya dengan apapun yang terjadi.
Seorang pelayan tidak lah pantas dan tidak diizinkan untuk mendekati Kaisar begitu saja. Bahkan para menteri dengan posisi tinggi masih harus menjaga jarak dengan Kaisar. Pada dasarnya, orang yang bisa dapat berada paling dekat dengan Kaisar adalah Kasim Song dan para Kasim Senior khusus dan para istri Kaisar itupun di saat-saat tertentu dsn tempat-tempat tertentu. Mereka masih memiliki batasan. Jadi apapun yang perlu di sampaikan pada Kaisar akan melewati Kasim Song terlebih dahulu.
"Nona Chu, Kasim Yang berkata bahwa anda ingin menyampaikan berita pada Yang Mulia. Tolong katakan pada saya sehingga saya bisa menyampaikan nya pada Yang Mulia." Kasim Song berbicara dengan sopan.
"Baiklah Kasim Song. Saya di sini diperintahkan oleh Yang Mulia Putri Mahkota untuk melaporkan bahwa Yang Mulia Ibu Suri telah tiada." Chu Fei berbicara dengan nada dan suara yang jelas. Namun Kasim Song sepertinya ragu dengan apa yang baru saja dia dengarkan dari mulut Chu Fei meskipun ia yakin telah mendengar nya dengan jelas.
__ADS_1
Melihat raut wajah Kasim Song yang kebingungan, Chu Fei menambahkan penjelasan. "Selir Qiao datang ke istana Ibu Suri dan menyerang Ibu suri yang tengah beristirahat dengan cara mencekiknya sampai tiada saat tidak ada yang memperhatikan."
Kasim Song memperhatikan wajah Chu Fei yang terlihat serius dan mengetahui jika apa yang dia dengarkan tidak lah salah dan bukan sesuatu yang asal-asalan. Meskipun sangat terkejut dengan berita itu, Kasim Song yang telah mengikuti Kaisar sejak masih muda dengan cepat mendapatkan kembali ketenangannya saat ia mencerna informasi dengan baik.
"Baik nona Chu. Saya akan sampaikan pada Yang Mulia. Tolong tunggu sebentar di sini." Kasim Song mengangguk faham dnegan wajah yang redup. Kematian Ibu Suri pasti akan menjadi pukulan yang sangat besar bagi semua orang, terutama Kaisar. Setelah melihat Chu Fei mengangguk, Kasim Song segera berbalik dan mendekati Kaisar dengan perlahan. Lalu membisikkan berita itu pada Kaisar dengan hati-hati.
Kaisar Pei An Long yang mendengar bisikan Kasim Song mengepalkan tangannya. Wajahnya tampak suram dan menghitam.
"Tidak ada pengampunan bagi seorang pengkhianat. Hanya hukuman mati baginya dan seluruh keluarganya yang akan setimpal dengan perbuatannya. Lalu, masukkan semua penghianat ini ke dalam penjara. Tangkap semua anggota keluarga mereka dan pastikan bahwa tidak ada yang melarikan diri atau terlewat terlepas siapapun itu. Sampai hukuman mati untuk mereka dilaksanakan sepuluh hari dari sekarang, tidak ada yang boleh datang menemui mereka." Kaisar segera memberikan keputusan nya tanpa mendengarkan ratapan semua penghianat yang langsung berlutut dan mengiba. Setelah memutuskan hukuman bagi mereka tanpa terkecuali, kaisar segera berdiri dan berjalan keluar dari aula Pengadilan. Diikuti dengan Pei Zhang Xi dan para pangeran lainnya yang segera diberitahu kabar mengenai kematian ibu Suri.
Setelah Kaisar meningalkan Aula Pengadilan, para pemberontak ini dibawa pergi ke dalam penjara. Mereka semua ditahan di dalam penjara bawah tanah yang paling dalam. Yang sesuai dengan hukuman yang akan diterima oleh penghianat, tanpa memandang derajat dan status mereka.
Para tahanan ini sudah berganti pakaian dengan pakaian serba putih. Setelah itu, tangan dan kaki mereka serta leher mereka diberi tali rantai yang akan diikatkan pada dinding ruang penjara. Namun bukan ini yang menjadi masalahnya, masalah utamanya adalah ruang penjara itu sendiri yang bahkan lebih menyiksa dari pada semua bentuk penyiksaan.
Apalagi para pemberontak ini ditempatkan di bagian terdalam dari penjara ini. Selain lembab dan pengap, aroma amis dari darah yang tersisa dari penyiksaan tahanan sebelumnya yang tercecera di lantai yang tidak pernah dibersihkan. Ada lebih banyak lagi aroma busuk yang tercampur di udara. Tidak akan ada yang akan tahan berada di dalam ruangan seperti itu. Jangan kan untuk sepuluh hari, bahkan sepuluh menit pun tidak akan ada yang akan dapat menahannya.
Seluruh ruangan di penjara bawah tanah terhubung satu dengan yang lainnya melalui lorong panjang. Lorong-lorong itu dibuat dengan efek khusus yang akan selalu menggemakan suara yang ada di sebuah ruangan ke dalam ruangan yang lainnya. Bahkan suara rantai yang terseret pada kaki para tahanan yang sedang berjalan pun akan terdengar sangat jelas. Apalagi suara-suara teriakan dari para tahanan yang sedang disiksa untuk diinterogasi atau disiksa sampai mati.
Harus berada di tempat seperti itu bahkan lebih menyiksa daripada mereka disiksa secara pribadi. Mendengar suara-suara yang mengiris itu bahkan lebih menyakitkan. Tidak heran, tidak sedikit dari para tahanan ini yang tidak akan tahan dan memilih bunuh diri meskipun mereka bahkan belum mendapatkan siksaan apapun. Mereka sudah akan menyerah ketika mereka membayangkan bagaimana mereka akan disiksa seperti tahanan yang lain.
Namun Pei Zhong Min, tokoh utama sekaligus dalang dari tindakan pemberontakan ini justru terlihat paling tenang dari semua tahanan lainnya. Sejak ia dibawa masuk, ia duduk dengan tenang tanpa emosi di dalam matanya yang hitam. Pria itu menatap acuh semua yang ada di depannya dan seakan tidak merasakan apapun yang terjadi di sekitarnya.
__ADS_1
"Huh lihatlah dia. Sudah sampai seperti ini bahjkan tidak merasa bersalah sedikitpun dan masih saja sombong seakan dia masih adalah seorang raja yang memiliki kekuasaan." Seorang penjaga penjara yang bertugas mengantarkan makanan kepada Pei Zhong Min berbicara pada rekannya. Saat ia memberikan makanan ke dalam sel tahanan Pei Zhong Min, pria itu hanya diam bahkan tidak melirik mereka Sedikit pun.
"Memangnya mau bagaimana lagi? Saat semua yang dia miliki telah diambil sarinya, yang tersisa darinya hanyalah kesombongan yang telah mengakar di dalam hati. Tunggu beberapa hari, kita bahkan akan melihatnya memohon pada kita hanya untuk seteguk air."
"Ya. Dan aku... He-he-he... Aku akan memberinya air. Tapi apakah itu air minum atau air he-he-he itu tergantung suasana hati ku. Ha ha ha ha."
Keduanya tertawa terbahak-bahak ketika mereka berjalan kembali ke arah mereka datang. Pei Zhong Min seperti tidak terpengaruh oleh keduanya, namun matanya menunjukkan betapa ia sangat keras dalam menahan emosi nya saat ini.
*
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_259🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
...Terima kasih author sampaikan kepada Kak Narimah Ahmad dan kak Zhou Ye yang telah memberi Koin pada Author receh ini. Semoga kebaikannya dibalas oleh Allah dengan kebaikan yang berlipat-lipat sebagai gantinya. Sekali lagi, terima kasih kak ☺️...
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉