Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 288. Berangkat Ke Perbatasan


__ADS_3

Hari masih sangat pagi. Bahkan matahari masih belum menunjukkan dirinya. Ayam jantan masih bertengger dnegan tenang di dalam kandangnya. Suara burung hantu masih bisa terdengar samar-samar di kejauhan. Diiringi dengan suara binatang malam yang mulai berkurang. Namun keadaan di istana timur sudah cukup ramai. Para Kasim dan pelayan berjalan dnegam cepat namun masih menjaga ketenangan mereka di dalam lorong-lorong dan gang-gang di dalam istana. Pagi ini, Pei Zhang Xi akan pergi ke perbatasan untuk memimpin pasukan.


Setelah Kaisar Pei An Long menyetujui usul Pei Zhang Xi untuk tidak memberikan tuntutan maupun melakukan negosiasi dengan pihak dari kekaisaran Zhao, jawaban atas tantangan perang diberikan. Awalnya, Kaisar Pei An Long masih berniat untuk memberikan jawaban dengan cara yang adil, namun sikap utusan perang dari Kekaisaran Zhao berhasil menyulut emosinya dengan sifatnya yang arogan dan memandang rendah Kekaisaran Shao seakan Kekaisaran Shao tidak akan mampu bertahan jika tidak mengandalkan belas kasihan dari Kekaisaran Zhao. Itulah sebabnya, sebagai jawaban atas tantangan perang, alih-alih mengirimkan surat pernyataan kesediaan perang melainkan mengirimkan kepala utusan perang Kekaisaran Zhao sebagai jawaban.


Dengan balasan yang sangat mengejutkan ini, pihak Kekaisaran Zhao sudah dipastikan akan sangat marah dan tidak akan mengulur waktu lagi untuk datang dan menyerang. Semua orang mengetahui konsekuensinya dan semuanya memutuskan untuk segera berangkat pagi-pagi sekali agar mereka dapat sampai di perbatasan pada tengah hari.


Setelah menyelesaikan urusan di istana, Pei Zhang Xi juga segera kembali ke istana timur. Lagipula baru saja ia dan istrinya ini memiliki kesalahan pahaman yang harus segera diselesaikan agar tidak terlalu berlarut-larut. Apalagi dia akan pergi berperang. Jika ia meninggalkan masalah dengan Lu Jing Yu, ia khawatir akan menjadi beban pikirannya sendiri yang membuatnya tidak bisa fokus.


Untung saja Lu Jing Yu bukan orang yang tidak masuk akal. Setelah menerima surat nya siang tadi, ia telah mengerti apa yang sedang dipikirkan olehnya. Namun ia juga mengerti bagaimana sifat Lu Jing Yu yang tidak akan mudah meneyrah begitu saja. Mengenai masalah Yun Ying, ia yakin jika Lu Jing Yu tidak akan berdiam diri begitu saja. Sesuai dengan tebakannya bahwa Lu Jing Yu juga memberitahu rencananya untuk tetap menyelesaikan masalah Yun Ying bagaimanapun caranya. Jadi Pei Zhang Xi akhirnya memberikan beberapa petunjuk untuk menyelesaikan masalah Yun Ying dan memberi nya beberapa orang yang akan membantunya.


"Yang Mulia, tolong kembalilah dengan baik-baik saja." Lu Jing Yu berkata dengan wajah yang datar saat ia baru saja selesai memakaikan pakaian perang pada Pei Zhang Xi. Hal itu dilakukannya untuk tidak terlarut dalam suasana dan membuat Pei Zhang Xi khawatir padanya.


"Kamu tenang saja Yu'er, aku berjanji akan kembali dengan baik-baik saja." Pei Zhang Xi memegang pundak Lu Jing Yu dan menatap kedua matanya yang tampak tegar. Namun ia tahu bahwa dibalik wajah tegarnya itu, sebenarnya istrinya sednag mati-matian berusaha untuk terlihat kuat. Ia sangat tahu jika istrinya sangat tidak menyukai peperangan. Jika bisa, ia juga tidak ingin berperang. Karena dalam sebuah perang, meskipun menjadi pihak yang menang, dampak dan korban yang ditimbulkan akibat perang selalu tidak baik.


"Aku akan memegang janji Yang Mulia. Tolong jangan mengingkari nya." Ucap Lu Jing Yu dengan suara bergetar.


"Aku tahu." Pei Zhang Xi tidak melanjutkan perkataannya namun terus memeluk Lu Jing Yu dengan erat. Membiarkan Lu Jing Yu bersandar di dadanya dan mengeluarkan air matanya hingga lega. Pei Zhang Xi tahu jika istrinya sedang menangis tetapi ia tidak mencoba menghentikan tangisnya. Ia tahu jika Lu Jing Yu telah mati-matian menyembunyikan air mata nya darinya, jadi ia juga tidak akan mengeksposnya. Yang dia lakukan adalah mengelus kepala Lu Jing Yu yang gemetar. Berusaha menyalurkan kekuatan lewat sentuhan sederhananya.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, akhirnya tangis Lu Jing Yu reda. Ibu satu anak itu segera menghapus air matanya. Hidung kecilnya memerah karena terlalu lama menangis. Ia merasa jika ia telah menghancurkan rencananya sendiri dan merasa malu. "Maafkan aku Yang Mulia, seharusnya aku tidak boleh seperti ini di depan Yang Mulia. Ini memalukan." Lu Jing Yu menundukan kepalanya. Ia merasa malu pada dirinya sendiri.


"Aku suamimu. Untuk apa merasa malu? Bahkan jika aku melihatmu melepas kepergianku ke Medan perang dengan bahagia, aku akan sangat tidak suka. Jika kamu bersedih saat ini, itu tandanya kamu khawatir nb padaku. Enggan berpisah denganku. Sama denganku. Sebenarnya aku juga tidak mau berpisah dengan mu meskipun hanya sebentar. Namun tugas negara harus tetap dilaksanakan dengan baik." Pei Zhang Xi terenyum menatap Lu Jing Yu.


"Aku tahu. Itulah mengapa aku tidak ingin menambah beban Yang Mulia jika aku menangis di sini. Aku ingin menunjukkan pada Yang Mulia jika aku pasti akan baik-baik saja di sini, barulah menjadi seperti ini." Lu Jing Yu menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Ia menyayangkan air matanya yang tidak mau diatur dan seenaknya saja turun tanpa dia perintah kan.


"Kamu tidak pernah jadi beban bagiku. Sebaliknya, kamu selalu menjadi semangat dan alasanku untuk tetap bertahan. Jadi kamu juga tenang saja. Aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik dan kembali padamu dengan membawa kemenangan." Ucap Pei Zhang Xi dengan percaya diri.


"Aku percaya." Lu Jing Yu mengangguk dengan senyum di bibirnya. Kali ini ia telah kembali meyakinkan hatinya untuk tidak lagi menangis.


"Yang Mulia, semuanya sudah siap." Suara Mo Han terdengar dari luar.


"Sudah waktunya bagiku untuk berangkat. Tolong doakan agar semua masalah ini cepat diselesaikan." Pei Zhang Xi kembali memeluk Lu Jing Yu yang terakhir kali sebelumnya berangkat ke perbatasan untuk memimpin perang.


"Tentu saja. Aku akan mendoakan keselamatan Yang Mulia, juga mendoakan agar perang ini berakhir dengan kemenangan di pihak kita, juga korban yang jatuh Tidak terlalu banyak. Yang Mulia harus mengingat bahwa aku dma Hui'er menunggu Yang Mulia untuk segera kembali dan berkumpul bersama kami lagi." Lu Jing Yu berkata dengan tegas.


Pei Zhang Xi mengangguk sebelum ia mengecup kening Lu Jing Yu dan berbalik untuk keluar. Lu Jing Yu mengikuti di sampingnya. Keduanya berjalan degan wajah datar. Semua orang yang telah menunggu di luar melihat mereka dan memberi hormat. Sejak keduanya keluar, suasana yang sejak awal tegang saat ini semakin tegang. Apalagi baik aura Pei Zhang Xi maupun Lu Jing Yu hari ini terasa lebih mendominasi.

__ADS_1


"Yang Mulia, para pasukan sudah siap bergerak. Begitu juga dengan pasukan yang ada di kediaman Raja Rui. Mereka telah mengirim kabar jika mereka akan segera berangkat dan menunggu di luar gerbang ibukota." Mo Han melaporkan kembali perkembangan persiapan mereka.


"Hm." Pei Zhang Xi mengangguk. Memandang semua orang yang ada di depannya. "Sudah tiba saatnya berangkat. Mari kita pergi dan bersatu dengan pasukan lainnya. Hidup Kekaisaran Shao!" Teriak Pei Zhang Xi di akhir kalimatnya.


"Hidup Kekaisaran Shao! Hidup Yang Mulia!"


"Hidup Kekaisaran Shao! Hidup Yang Mulia!"


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_288🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


__ADS_2