
Kabar kematian Ibu Suri telah menyebar di seluruh Istana. Ratu Zhu dan para selir juga telah datang dengan mengenakan pakaian serba putih dan tanpa menggunakan riasan tebal sepeti biasanya. Air mata tampak mengalir dari mata mereka. Entah hanya berpura-pura atau mereka memang benar-benar bersedih, tidak ada yang tahu. Yang jelas, saat mereka datang ke istana temoat ibu Suri menghembuskan napas terakhirnya, penampilan mereka tampak sedih. Pantas menjadi menantu yang baik.
Selir Qiao masih berada di sana meskipun ia telah dibawa keluar dan dipaksa berlutut di depan Kamar. Penampilannya yang berantakan serta suaranya yang sangat jelas menjadi pusat perhatian setiap orang yang datang. Ketika seseorang datang, Selir Qiao akan mengucapkan beberapa kalimat untuk memprovokasi orang tersebut. Namun sampai saat ini, tidak ada yang akan merespon nya. Mereka menganggap Selir Qiao seperti orang gila yang ucapannya tidak layak didengarkan.
"Hei Selir Su! Kenapa kamu menangis dengan begitu sedih di sini hah? Pergilah sana dan meminta dihibur oleh Yang Mulia. Bukankah kamu adalah selir Kesayangan Yang Mulia. Datang lah kesana dan Yang Mulia akan dengan senang hati menghiburmu. Aku...." Ucap Selir Qiao saat melihat selir Su yang datang dengan wajah memerah dan matanya yang sembab.
Namun belum selesai ucapan Selir Qiao, suara tamparan yang kerasa terdengar.
Plaak!
"Diam!" Seorang bibi pelayan senior menampar Selir Qiao dengan keras. Sebenarnya tamparan ini bukan pertama kalinya selir itu menerima tamparan dari bibi pelayan itu. Setiap kali ia memuntahkan omong kosong nya, bibi pelayan akan segera membungkamnya dengan sebuah tamparan dan memaksanya untuk kembali berlutut di depan kamar, namun Selir Qiao masih akan mengulanginya lagi dan lagi.
"Cepat berlutut!" Bibi pelayan senior itu menekan tubuh selir Qiao dengan keras memaksanya untuk berlutut. Selir Qiao tidak memiliki pilihan lain selain terpaksa menerimanya.
Selir Su tidak menanggapi seperti beberapa selir lainnya yang sudah datang. Ia hanya meliriknya. Namun lirikannya jelas sangat berbeda dari selir lainnya. Ibu Suri adalah bibi selir Su yang secara alami telah dekat dengannya sejak ia masih muda. Apalagi semenjak ia memasuki istana dan menajdi selir Kaisar, iapun semakin dekat dengan ibu mertua sekaligus bibinya itu. Di dalam Harem, hanya dia yang secara langsung paling dekat dengan Ibu Suri. Melihat pembunuh dari orang yang disayangi, tentu saja membuat Selir Su sangat marah. Namun demi menghormati ibu Suri, ia hanya diam dan menahan diri.
Selir Su berlalu. Tak lama berselang Ratu Zhu datang. Bahkan sang Ratu juga tidak luput dari perkataan Selir Qiao. Selir Qiao kembali meludahkan kata-kata pedasnya untuk memprovokasi semua orang yang dilihatnya.
"Kenapa membiarkan dia berisik di sini hah?" Ratu Zhu sangat kesal mendengar omong kosong selir Qiao. Sejak bertahun-tahun, meskipun para selir ini akan menggunjingnya di belakang, namun mereka masih akan menjilatnya kemanapun dia pergi. Jadi saat ada yang berbicara tepat pada luka hatinya di atas kelemahan nya. Ia sangat marah dan hampir tidak bisa menahan diri. Ia berteriak pada bibi pelayan yang berada di sisi kanan dan kiri Selir Qiao.
"Mohon maaf Yang Mulia. Ini adalah perintah Yang Mulia Kaisar untuk membiarkan Selir Qiao... Eh maaf, maksud hamba nyonya Qiao untuk berlutut di sini sampai hari berkabung berakhir." Jawab Bibi pelayan dengan hormat. Setelah Kaisar datang, ia telah mencopot gelar selir pada Selir Qiao.
__ADS_1
"Huh! Kalau begitu buat dia diam. Jangan biarkan dia meludahkan kata-kata kotornya di sini atau dia tidak akan membiarkan Ibu Suri tenang." Ucap Ratu Zhu sebelum ia berlalu dan masuk ke dalam kamar Ibu Suri. Meninggalkan bibi pelayan yang bingung bagaimana cara untuk membungkam Selir Qiao. Lagipula wanita itu telah menjadi nyonya mereka selama bertahun-tahun dna sedikit banyak telah menyebabkan mereka tanpa sadar mengembangkan rasa hormat dan segan.
"Untuk apa bingung, ambil kaos kaki yang sudah tidak terpakai dan gunakan untuk membungkam mulut baunya itu." Seorang gadis cantik dengan pakaian berkabung serba putih mendengar kemarahan Ratu Zhu dan kebingugan para pelayan dan tidak bisa tidak memberikan saran yang bagus.
Bibi pelayan itu mendengar suara yang jernih itu dan segera mengenali siapa yang berbicara pada mereka. "Salam Putri ke delapan." Sapa keduanya bersamaan.
"Sudahlah. Lakukan tugas kalian dengan baik. Aku akan masuk dns melihat nenekku." Pei Shi Liang melambaikan tangannya dan berlalu. Kedua bibi pelayan saling menoleh sebelum Menganggukkan kepala mereka.
Menyadari apa yang mungkin para pelayan rendahan ini lakukan padanya, Selir Qiao tidak bisa tidak menjadi panik. Mereka tidak mungkin akan melakukan apa yang dikatakan Pei Shi Liang dengan santai sebelumnya kan? Tidak mungkin! Dia tidak akan mau menerimanya bagaimana pun!
"Hei! Hei! Kalian tidak Kan mendengar kan perkataan Pei Shi Liang kan?" Selir Qiao bertanya dengan curiga saat kedua bibi pelayan itu berbivara berbisik-bisik.
"Tida...!" Satu kata penolakan dari Selir Qiao bahkan tidak selesai diucapkan saat mulut yang sejak awal tidak mau berhenti meludahkan kata-kata yang buruk itu akhirnya dibungkam paksa dengan sebuah kaos kaki.
***
Di dalam ruangan, tubuh ibu Suri yang sudsh tidak bernyawa dibaringkan di atas ranjang dengan nyaman. Di bawah tubuhnya, sebuah permadani yang indah dan halus masih ditaburi dengan ribuan kelopak bunga mawar. Jika yang berada di atasnya bukannya mayat melainkan pengantin baru, semua orang akan sangat bahagia. Namun sayangnya, meskipun tubuh yang ada di atas ranjang memakai pakaian pernikahan yang mewah, tubuh itu tidak lagi bernyawa. Dan semua orang yang ada di ruangan yang sama, tidak ada yang memiliki senyum di wajah mereka. Air mata mengalir dari mata mereka.
Kaisar dengan khidmad memimpin para istri dan anak-anaknya untuk memberikan hormat pada ibunya. Masing-masing dari mereka membawa dupa persembahan. Setelah Kaisar mempersembahkan dupa miliknya ke dalam kuali dupa, dimulai dari Ratu Zhu juga melakukan hal yang sama. Selama proses berjalan, tidak ada sepatah katapun yang terdengar selain nyanyian dari para biksu yang menyanyikan pujian-pujian untuk mengirim para arwah ke dalam dunia bawah.
Setelah Kaisar dan yang lainnya selesai memberikan penghormatan, semua orang pergi satu persatu. Pada hari biasa, para wanita ini akan saling memperebutkan perhatian Kaisar setiap kali mereka memiliki kesempatan untuk berada dalam acara yang sama dengan Kaisar dalam satu waktu. Namun hari ini, tidak ada satu pun dari mereka yang melakukan nya. Tentu saja, mereka akan dianggap bodoh dan tidak sopan jika melakukannya. Lagipula ibu kandung yang sangat dicintai oleh Kaisar meninggal hari itu, Kaisar tidak akan memiliki suasana yang baik sehingga mereka tidak akan cukup bodoh untuk memprovokasi nya.
__ADS_1
"Yang Mulia, ibu sudah tenang di atas sana. Mohon jangan terlalu lama terlarut dalam kesedihan." Ratu Zhu adalah orang yang terakhir yang tinggal bersama Kaisar Pei An Long.
"Mm. Aku tahu. Aku hanya berpikir apakah ibu akan memaafkanku untuk keputusan yang aku ambil kali ini." Kaisar Pei An Long berbicara tanpa menoleh pada Ratu Zhu yang ada di belakangnya. Ia menghela napas berat.
"Yang Mulia memutuskan sesuatu pasti dengan Pertimbangan yang matang. Aku yakin ibu tidak akan keberatan." Ratu Zhu menatap bagian belakang punggung Kaisar yang kali ini tampak sangat rapuh.
"Aku harap juga begitu." Kaisar Pei An Long tidak berniat untuk melanjutkan pembicaraan dan Ratu Zhu juga bukan orang yang usil pada Kaisar yang akan memaksa Kaisar mengatakan hal yang bahkan tidak ingin dia katakan. Ratu Zhu mengerti posisinya yang meskipun mereka berbagi hubungan suami dan istri, ia tahu bahwa posisinya hanyalah sebatas status belaka.
*
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_261🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉
__ADS_1