Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 200. Kebetulan Yang Indah


__ADS_3

Pada awalnya posisi Pei Shi Liang adalah di bagian belakang para utusan dari kekaisaran lainnya bersama dengan para putri lainnya. Tetapi karena dia menunggangi kuda dan bukan kereta kuda, dia bisa bergerak dengan bebas. Namun dia masih harus menaati peraturan dan tidak mendahului kereta Kaisar.


Pada saat kuda Pei Shi Liang berjalan ke depan untuk menghampiri kereta Pei Zhang Xi, para putri yang sebagian besar tidak menyukai Pei Shi Liang mencibir dan mengejeknya dari dalam kereta mereka. Apalagi saat mereka mengetahui jika Pei Shi Liang berhenti di kedai tepi jalan untuk membeli makanan di sana yang mereka anggap sangat kampungan. Mereka sebenarnya berbicara dengan suara yang cukup pelan. Tetapi karena Pei Shi Liang telah melati ilmu bela dii sejak muda, kemampuan pendengarannya selalu di atas rata-rata orang. Namun meskipun Pei Shi Liang mendengarnya, ia hanya diam dan tidak terpengaruh. Ia hanya akan menganggap omongan gadis-gadis ini sebagai angin lalu yang tidak layak mendapatkan perhatiannya.


"Pak tolong berikan padaku lima kue daun bawang goreng." Pei Shi Liang berkata setelah ia menghentian kudanya dn turun dengan lincah.


"Baik nona." jawab penjual itu sambil menyiapkan pesanan Pei shi Liang. Memasukkan lima kue dau bawang goreng ke dalam kantong khusus. Penjual itu tidak mengetahui identitas Pei Shi Liang meskipun ia bisa menebak jika identitasnya pasti tidak biasa. Tapi ia tidak akan menduga jika wanita dengan pakaian pria yang membeli jualannya adalah salah satu putri dari Kaisar mereka. Ia mengira jika dia hanyalah seorang nona muda ydari klangan bangsawan yang ikut dalam keramaian saja.


"Makan kue ini paling enak dimakan dengan bubur kacang hujau. Apa nona muda tertarik mencobanya juga?" Penjual itu tersenyum menawarkan dagangannya saat ia menyerahkan kantung itu kepada Pei Shi Liang.


"Ah! Betapa bodohnya aku! Aku juga sudah menawarkannya pada kakak ipar dan Kakak ipar juga berkata menginginkannya. Tapi lihatlah aku sendiri yang menjadi tua dan pelupa. Pak, tolong berikan juga lima porsi bubur kacang hijau untukku." Pei Shi Liang menepuk dahinya dengan bodoh.


Penjual itu tersenyum melihat betapa polosnya gadis muda di depannya. "Baik nona muda. Saya jamin anda tidak akan menyesal mengikuti saran saya dan kakak ipar anda pasti akan menyukainya karena bubur kacang hijau buatan istri saya adalah bubur yang terkenal paling enak dari bubur kacang hijau lainya di sepanjang jalan ini." Pedangan itu memasukkan bubur ke dalam mangkuk sambil memuji bubur jualannya sendiri.


Pei Shi Liang mendengar perkataan penjual itu dan segera berbinar, ia sudah membayangkan dirinya akan medapatkan pujian dari kakak iparnya dan dia juga sudah memutuskan apa yang akan ia minta sebagai hadiah karena telah memberikan bubu yang enak untuk kakak iparnya. Mungkin karena kakaknya yang dingin melihat isrinya yang bahagia, ia akan membiarkannya menggendong keponakannya yang menggemaskan. Membayangkannya saja ia sudah sangat senang dan bibinya terangkat tinggi. Matanya yang bulat segera berubah menjadi bentuk bulan sabit yang cerah. Setiap hal yang berhubungan denngan keluarga Pei Zhang Xi selalu membuatnya bersemangat.


Tanpa disadari oleh Pei Shi Liang, seseorang memperhatikannya sejak ia masih berada di atas kuda. Xian Zi Xuan yang seharusnya berada di barisan depan ternyata berada di barisan belakang karena pada saat keberangkatan, ia masih memiliki urusan yang harus diselesaikan jadi tidak dapat berangkat bersama dengan rombongannya bersma dengan Xian MU Xuan dan hanya bisa menyusul setelah menyelesaikan urusannya. Dan saat itulah ia melihat Pei Shi Liang dari arah berlawanan dengannya.

__ADS_1


Melihat Pei Shi Liang berhenti di pinggir jalan dan memesan makanan yang dijual oleh penjual tersebut, ia meminta kusir untuk menepikan kereta dan segera turun dari keretanya. Xian Zi Xuan berniat menemui Pei Shi Liang. Pada saat ia samapai di dekat Pei Shi Liang, ternyata gadis itu sedang kebingungan untuk membawa pesanannya.


Di zaman dulu belum tersedia kantong plastik yang bisa digunakan sebagai tempat enyimpan makanan berkuah sementara waktu. Biasanya para pembeli akan memakan makanan mereka di tempat atau membawa pelayan untuk membawakan makanan mereka. Namun karena Pei Shi Liang sedang terburu-buru, ia tidak membawa pelayan atau bahkan kereta untuk meudahkannya membawa semua pesanannya.


"Butuh bantuan?" Sebuah suara yang dikenal olehnya terdengar. Pei Shi Liang menoleh dan melihat Xian Zi Xuan yang tersenyum lembut di depannya. Namun matanya sedikit bersinar licik yang segera disadari oleh Pei Shi Liang.


"Tidak perlu." Pei Shi Liang memalingan wajahnya setelah berbicara. Karena pria ini, seharian kemarin ia mendapatkan tatapan tajam dari para wanita. Sungguh menjengkelkan.


Dan sekarang ia harus menerima bantuannya? Apa tidak lebih tepat jika disebutkan jika dia mencari masalah lain untuk dirinya sendiri?


Xian Zi Xuan yang mendapat penlakan bukan hanya tidak marah dan malah tersenyum. Melihat perubahan ekpresi Pei Shi Liang yang drastis secepat membalik telapak tangan, membuatnya merasa jika gadis di depannya ini sangatlah menarik. Ia seperti bunglon yang akan segera merubah warna kulitnya jika menghadapi situasi yang berbeda. Ia semakin tidak sabar untuk menempel di sisinya untuk melihat lebih banyak perubahan ekspresi yang pasti akan sangat menarik!


Setelah beberapa waktu, Chu Fei kembali sendiri. Dan kereta kuda yang rencananya digunakan untuk membawa mangkuk bubur kacang hijau kembali dalam keadaan yang tetap kosong.


"Eh? Dimana putri ke delapan?" Lu Jing Yu bertanya pada Chu Fei setelah melihat kereta masih tetap kosong dan Pei Shi Liang juga tidak terlihat dimanapun.


"Saat hamba hampir sampai di tempat penjual kue daun bawang goreng, tuan putri ke delapan sepertinya kebingungan untuk membawa semua mangkuk bubur kembali. Hamba berniat untuk segera datang dan membantu, tapi sebelum hamba sampai, Yag Mulia Putra mahkota Shixian datang dan tuan putri ke delapan masuk ke dalam kereta Yang Mulia Putra Mahkota Shixian dengan semua mangkuk bubur." Chu Fei menceritakan pa yang dilihaatnya. Karena melihat Pei Shi Liang telah masuk ke dalam kereta milik Xian Zi Xuan, Chu Fei tentu saja harus segera mundur. Tidak mungkin ia akan memanggil Pei Shi Liang keluar dari sana dan memintanya untuk naik ke kereta yang dibawanya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Suatu kebetulan yang indah." Lu Jing Yu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Matanya bersinar dengan kilatan aneh. Jiwa gosipnya segera membara.


"Chu Fei, pergilh menemui Putri ke Delapan dan katakan padanya untuk memblikanku kue bunga teratai dari toko kue Nona Lan. katakan padanya aku menginginkan kue yang baru saja dipanggang." kata Lu Jing Yu menatap Chu Fei dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Pei Zhang Xi yang mendengar permintaan istrinya itu mengetahui niat tersembunyi istrinya.


"Tapi Yang Mulia... toko itu sudah terlewat jauh." Bagaimana kalau hamba saja yang membelikannya? Namun kalimat terakhir tidak sempat diucapkan Chu Fei karena Lu Jing Yu telah memotongnya.


"Aku tahu. Tapi memang itulah yang aku inginkan. PErgilah dn sampaikan perkataanku pada Putri ke Delapan." Chu Fei tidak membantah lagi dan segera mengakui perintah. Menaiki kuda dan melaju menuju kereta Xian Zi Xuan yang berada jauh di belakang.


*


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_200🐣


Terima Kasih sudah mampir😘

__ADS_1


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi cerita, pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


__ADS_2