
Saat sampai di kediaman, Pei Zhang Xi masih belum bisa berjalan dengan normal. Ia masih berjalan dengan sedikit membungkuk dengan kepala yang tertunduk akibat lehernya yang kaku disertai dengan kepalanya yang pusing.
Lu Jing Yu menatap heran Pei Zhang Xi yang berjalan dengan aneh ke dalam ruangan. Alisnya merajut heran. Bukankah suaminya berangkat tadi pagi dengan keadaan sehat wal afiat. Kenapa saat kembali keadaannya seperti orang sakit?
"Yang Mulia, ada apa denganmu? Apa punggungmu terluka?" Lu Jing Yu meletakkan potongan buah apelnya di atas piring dan menghampiri Pei Zhang Xi.
"Tidak apa-apa. Punggungku hanya sedikit pegal." Jawab Pei Zhang Xi meraih tangan Lu Jing Yu dan diajaknya untuk kembali duduk.
"Memangnya apa yang Yang Mulia lakukan di istana hingga punggungmu pegal? Ini hanya beberapa jam saja. Eh... Yang Mulia, apa Yang Mulia baru saja dihukum?" Lu Jing Yu mengingat bahwa hukuman yang diterima seseorang di masa kerajaan seperti itu adalah hukuman cambuk. Di dalam novel bahkan pernah disebutkan dirinya juga pernah menerima hukuman cambuk beberapa kali. Mengingatnya membuat wajahnya menjadi pucat karena takut.
"Ya. Ayah Kaisar memberiku sedikit hukuman karena melawan kehendaknya. Tapi tidak apa-apa. Aku akan segera baikan setelah istirahat sebentar."
"Tidak boleh. Bukankah harus diobati terlebih dahulu. Cepat buka bajumu Yang Mulia biar aku lihat lukanya agar aku bisa mengobatinya." Tangan Lu Jing Yu telulur memegang ikat pinggang Pei Zhang Xi. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Pei Zhang Xi terkejut dan tak memiliki kesempatan untuk menjelaskan.
Semua orang masih ada di dalam ruangan saat itu dan mereka undur diri dengan segera.
"Xiao Bei panggil tabib Fang kemari untuk mengobati Yang Mulia."
"Baik Permaisuri." Jawab Xiao Bei yang baru sampai di luar dan segera pergi. Mo Han juga tidak mengetahui hukuman seperti apa yang diterima Pei Zhang Xi di dalam ruang kerja Kaisar hingga tiga jam lamanya. Pei Zhang Xi juga hanya diam sepanjang perjalanan.
Di dalam ruangan, setelah semua orang kelahiran dari ruangan Pei Zhang Xi membiarkan Lu Jing Yu melakukan apa yang ia mau. Ia memperhatikan istrinya yang dengan kesusahan melepaskan mansetnya. Bahkan untuk melepaskan ikatan pinggang saja Lu Jing Yu membutuhkan waktu.
__ADS_1
Ia bekerja sama mengangkat tangannya satu persatu saat Lu Jing Yu melepaskan barisan terkuat mansetnya. Begitunjuga dengan lapisan dalam. Pei Zhang Xi menikmati melihat wjaah panik Lu Jing Yu yang tandanya ia mulai menerima nya.
"Eeh... dimana lukanya?" Lu Jing Yu bertanya dengan heran saat melihat punggung Pei Zhang Xi yang tanpa luka sedikitpun. Hanya ada beberapa bekas luka yang sudah lama.
"Yang Mulia bukankah tadi Yang Mulia berkata menerima hukuman dari Ayah kaisar, bukankah hukumannya adalah hukuman cambuk? lalu dimana lukanya? Apa yang Mulia berbohong padaku?" Lu Jing Yu duduk di depan Pei Zhang Xi dan menatap matanya saat ia bertanya.
"Aku memang dihukum. Tetapi bukan hukuman cambuk seperti yang kamu katakan."
"Hah? Bukan cambuk? Bukankah biasanya ayah hukuman cambuk ya?"
"Hukuman cambuk juga tidak begitu saja diberikan. Ada ketentuan dan juga batasan kesalahan yang dilakukan. Lagipula sebenarnya menurut hukum aku memang tidak melakukan kesalahan. Hanya saja aku membuat ayah Kaisar marah dengan mempermainkannya di pengadilan pagi ini."
"Apa?! Bagaimana bisa Yang Mulia mempermainkan ayah Kaisar? Apa yang Mulia tidak takut dihukum?"
Lu Jing Yu terkejut. Memang benar apa yang dia khawatirkan memang terjadi. Dengan Pei Zhang Xi yang mengalihkan aset atas namanya akan menyebabkan pertentangan. Dia diseret tanpa ia ingin.
"Yu'er aku demi kamu menerima hukuman dari ayah kaisar. Apa tidak ada hadiah yang bisa aku terima?" Pei Zhang Xi tersenyum. Menatap Lu Jing Yu penuh harap.
"Tidak. Tidak ada yang meminta Yang Mulia mengalihkan semau aset itu." Lu Jing Yu memalingkan wajahnya dapat mata Pei Zhang Xi tertuju padanya. Tapi dia tidak menyangka saat ia menundukkan kepalanya ia akan melihat barisan sixpack berotot tepat di depan matanya.
Saat ini Lu Jing Yu baru menyadari bahwa Pei Zhang Xi berada shalat dekat dengannya dalam keadaan setengah telanjang. Tanpa sadar Lu Jing Yu mengingat apa yang gergaji sarung bukan lalu antara mereka berdua. Dada dan perut berotot itulah yang menelannya di bawah kekuasaannya. Dan, telinganya mulai memerah dan menjalar ke peluruh wajahnya.
__ADS_1
Pei Zhang Xi masih belum menyadari perubahan wajah Lu Jing Yu yang memerah dan fokus mendapatkan kompensasinya.
"Aku membungkuk di dalam ruang belajar selama tiga jam. Punggungku rasanya kaku. Leherku ini rasanya mau copot. Bahkan kakiku juga lemas. Apa tidak ada rasa simpati untuk itu?"
"Aku sudah meminta Xiao Bei memanggil tabib Fang kemarin. Biarkan tabib Fang memeriksa kondisi Yang Mulia. Sekarang lebih baik Yang Mulia memakai baju Yang Mulia dulu." Lu Jing Yu segera berdiri dan mengambil manset Pei Zhang Xiao yang diletakkan di atas meja. Tetapi sebelum lu Jing Yu berhasil berdiri dengan sempurna, Pei Zhang Xiao meraih tangannya dan menariknya hingga membuatnya jatuh di atas Pei Zhang Xi.
"Yang Mulia, jangan seperti ini. Apa yang Yang Mulia lakukan?" Lu Jing Yu menggunakan tangannya untuk menopang tubuhnya agar dia tidak menempel pada Pei Zhang Xi.
'Jadi seperti ini rasanya memegang otot yang terbentuk sempurna?' Batin Lu Jing Yu. Di kehidupannya asalnya ia terbiasa melihat pria yang bertelanjang dada dengan otot perut dan dada yang terbentuk indah. Tetapi ia tidak pernah melihat yang lebih bagus seperti Pei Zhang Xi. Yang terpenting, ia juga belum pernah menyentuhnya. Lu Jing Yu akhirnya menyadari bahwa otot di dada Pei Zhang Xi sangat keras. Kenapa dia tidak merasakannya saat setiap malam dada itu menjadi sandaranya? Yang ia rasakan setiap malam adalah nyaman.
"Kenapa? Apa akhirnya kamu mengakui bahwa selain tampan, otot suamimu ini juga sangat bagus?"
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_59♡
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .