
"Yang Mulia, semuanya sudah siap." Suara Mo Han terdengar dari luar.
"Aku mengerti. Aku akan segera keluar sebentar lagi." Pei Zhang Xi menjawab sambil memalingkan wajahnya meskipun ia tahu jika ia tidak akan bisa melihat Mo Han karena tangan kanannya itu ada di luar ruangan dan pintu ruangan ditutup.
"Sudah waktunya bagiku untuk berangkat. Tolong doakan agar semua masalah ini cepat diselesaikan." Pei Zhang Xi kembali memeluk Lu Jing Yu yang terakhir kali sebelumnya berangkat ke perbatasan untuk memimpin perang.
"Tentu saja. Aku akan mendoakan keselamatan Yang Mulia, juga mendoakan agar perang ini berakhir dengan kemenangan di pihak kita, juga korban yang jatuh Tidak terlalu banyak. Yang Mulia harus mengingat bahwa aku dan Hui'er menunggu Yang Mulia untuk segera kembali dan berkumpul bersama kami lagi." Lu Jing Yu berkata dengan tegas.
Pei Zhang Xi mengangguk sebelum ia mengecup kening Lu Jing Yu dan berbalik untuk keluar. Lu Jing Yu mengikuti di sampingnya. Keduanya berjalan degan wajah datar. Semua orang yang telah menunggu di luar melihat mereka dan memberi hormat. Sejak keduanya keluar, suasana yang sejak awal tegang saat ini semakin tegang. Apalagi baik aura Pei Zhang Xi maupun Lu Jing Yu hari ini terasa lebih mendominasi.
"Yang Mulia, para pasukan sudah siap bergerak. Begitu juga dengan pasukan yang ada di kediaman Raja Rui. Mereka telah mengirim kabar jika mereka akan segera berangkat dan menunggu di luar gerbang ibukota." Mo Han melaporkan kembali perkembangan persiapan mereka.
"Hm." Pei Zhang Xi mengangguk. Memandang semua orang yang ada di depannya. "Sudah tiba saatnya berangkat. Mari kita pergi dan bersatu dengan pasukan lainnya. Hidup Kekaisaran Shao!" Teriak Pei Zhang Xi di akhir kalimatnya.
"Hidup Kekaisaran Shao! Hidup Yang Mulia!"
"Hidup Kekaisaran Shao! Hidup Yang Mulia!"
Setelah keluar dari istana timur. Pei Zhang Xi dan lainnya pergi keluar dari gerbang utama istana. Di sana, Kaisar dan para menteri telah menunggu untuk melakukan ritual pelepasan pasukan untuk pergi perang. Semua orang datang untuk memberikan apresiasi dan penghargaan. Bahkan para selir juga hadir untuk acara ini.
Suara musik perang menggema di seluruh ibukota. Menciptakan suasana yang tegang di seluruh penjuru ibukota. Baru kemarin suara musik kematian menggetarkan hati semua orang, pagi ini masyarakat dikejutkan dengan terdnegarnya suara musik perang. Warga biasa memang telah mendengar desas desus jika seorang utusan perang datang, namun mereka tidak menyangka jika perang akan terjadi dalam waktu dekat.
Dengan segera, rumor mengenai bagaimana bisa terjadi perang yang termasuk tergesa-gesa ini. Bagaimanapun, warga biasa jarang ada yang memiliki kemampuan beladiri. Mereka secara otomatis akan memiliki rasa takut di hati mereka pada saat mereka mendengar adanya perang. Meskipun pada kenyataannya, di perbatasan sangat sering terjadi perang, namun perang terjadi dalam skala kecil. Warga biasa bahkan tidak pernah mendengar tentang nya.
Entah dari mana asalnya, alasan mengenai sangat cepatnya perang terjadi muncul di masyarakat. Kabar mengenai Pei Zhang Xi yang marah karena salah satu tuntutan dari Kekaisaran Zhao adalah untuk membiarkan putri mereka menjadi Putri Mahkota menggantikan Lu Jing Yu. Namun demikian, keputusan untuk mengirimkan kepala utusan perang Kekaisaran Zhao bukan diputuskan oleh Pei Zhang Xi melainkan Kaisar Pei An Long. Meskipun peraturan di istana sangat ketat, namun beberapa pengawal dan pelayan masih akan melanggar peraturan dengan menyebarkan berita yang sebenarnya disembunyikan karena dikhawatirkan menimbulkan dampak yang buruk.
"Apa?! Jadi mereka berani meminta untuk menggantikan posisi Putri Mahkota? Memangnya mereka mampu?" Salah seorang pedagang pinggir jalan berkata setelah mendengar berita itu dari salah satu pembelinya.
__ADS_1
"Ya! Aku juga dengar jika mereka juga meminta beberapa wilayah yang berada di wilayah kekuasaan Kekaisaran Shao kita."
"Hemp! Meskipun perang itu menakutkan, tapi karena Kekaisaran Zhao yang keterlaluan kali ini, aku akan mendukung seratus persen keputusan perang ini.".
"Benar sekali. Aku juga mendukung."
"Mereka benar-benar tidak memiliki sopan santun. Ibu Suri baru dimakamkan kemarin namun mereka sudah tidak sabar untuk menyerang. Apakah mereka yakin bahwa mereka bisa mengalahkan pasukan Yang Mulia Putra Mahkota?"
"Apa kalian tidak tahu jika dulunya Kekaisaran Zhao hanyalah sebuh daerah terpencil yang terbelakang. Jadi tidak perlu heran saat melihat mereka yang tidak memiliki sopan santun seperti itu."
"Tapi aku masih penasaran dan ingin bertanya pada semua orang, apakah memang pantas kita berperang hanya untuk lebih memilih menolak tuntutan mereka untuk meminta posisi Putri Mahkota? Jika perang terjadi, rakyat lah yang akan paling menderita dalam hal ini. Bukannya juga tidak mengusir Putri Mahkota secara langsung dan hanya menjadikannya Putri Mahkota menjadi selir. Bukannya sama saja selagi menjadi istri Putra Mahkota?" Seorang lain menyela semua orang. Yang segera menajdi bulan-bulanan para warga yang mendengarnyan.
"Benar-benar tidak tahu berterima kasih! Apa kamu tidak pernah melihat kontribusi nb apa saja yang diberikan oleh Putri Mahkuta kepada kekaisaran Shao?"
"Ya. Aku berasal dari wilayah selatan yang menjadi langganan banjir setiap tahun, namun tahun ini berkat alat yang diciptakan oleh yang Mulai Putri Mahkota, bukan hanya kami tidak mengalami banjir namun masih bisa bercocok tanam di tanah kami yang gersang." Seorang lainnya segera tidak terima.
"Hemp! Intinya, Putri Mahkota tidak dapat terganti." Ucap seormag lainnya dengan tegas.
Dalam sekejap, semua mata tertuju pada jalan utama ibukota dimana Pei Zhang Xi sedang memimpin pasukannya untuk pergi berperang melindungi kedaulatan Kekaisaran Shao di perbatasan.
Pei Zhang Xi tampak gagah dengan pakaian perangnya yang berwarna hitam terbuat dari bahan logam keras. Rambut hitam nya yang panjang diikat rapi dengan menggunakan giok hitam dengan motif harimau awan. Duduk di atas kuda, ia memimpin pasukan dengan sangat gagah berani.
Beberapa jenderal berada di belakang Pei Zhang Xi. Nantinya, setelah melewati gerbang ibukota, Para jenderal ini akan memisahkan diri dengan memimpin pasukannya untuk menyebar ke segala penjuru. Tidak boleh ada celah yang ditemukan di seluruh tempat yang akan dimanfaatkan musuh untuk menyerang.
Melihat betapa berkharismanya Pei Zhang Xi, semua orang segera berteriak dengan semangat membara.
"Hidup Kekaisaran Shao!"
__ADS_1
"Hidup!"
"Hidup Yang Mulia Putra Mahkota!"
"Hidup!"
Mendengar teriakan orang-orang ini, semangat semua orang seperti dipompa kembali. Mereka seperti memang terlahir untuk menghadapi musuh seperti ini.
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_288🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉
***
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam ketiga🍃...
__ADS_1
...🌸Seorang malaikat berseru di bawah 'Arsy'....
...Mulailah beramal karena Allah telah membersihkan dosa-dosa mu yang telah lewat.🌸...