Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 167


__ADS_3

Pei Shi Liang juga mengalami hal yang sama. Semalam ia juga tidak bisa tidur dan akhirnya mengendap-endap menyusul pangeran kecil yang bermalam di tempat selir Su. Jadi saat pagi ia kembali ke halamannya sendiri, ia ditarik paksa oleh pelayannya untuk didandani. Meskipun ia sudah mandi, ia masih saja menguap sepanjang waktu.


"Salam Putri." Seorang pelayan masuk ke dalam kamarnya.


"Bangunlah. Ada apa?" Pei Shi Liang dengan malas melirik pelayan itu.


"Yang Mulia Putra Mahkota dari Kekaisaran Shixian datang meminta bertemu." Pelayan itu berkata dengan ragu. Ia masih belum percaya saat ia melihat sang Putra Mahkota yang sejak kedatangannya selalu menjadi bahan pembicaraan karena ketampanannya datang ke tempat Majikannya dan bahkan mengatakan bahwa ia ingin menemui junjungan nya yang tidak banyak memiliki teman. Apalagi mengenal seorang Putra Mahkota dari kerajaan tetangga yang baru kali ini datang dengan resmi ke Kekaisaran mereka.


Bukan hanya pelayan itu yang hampir tidak mempercayai perkataannya, bahkan Pei Shi Liang lebih tidak mempercayainya. Ia menoleh dengan tiba-tiba dan membuat pensil alis menggaris ke samping dengan panjang.


"Mohon ampun Putri. Hamba bersalah. Tolong hukum hamba." Pelayan yang sejak tadi fokus mendandani Pei Shi Liang tidak mendengar pembicaraan antara Pei Shi Liang dengan pelayan lainnya sehingga ia tidak mengerti apa yang membuat Pei Shi Liang terkejut dan menoleh tiba-tiba. Ia segera meletakkan pensil alisnya dan berlutut di depan Pei Shi Liang.


"Cepat bangun. Aku Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu. Sekarang perbaiki riasannya. Aku tidak ingin terlambat." Pei Shi Liang mencoba mengembalikan ketenangannya.


"Terima kasih putri. Hamba tidak akan mengulangi kesalahan hamba."


"Ya ya. Lanjutkan saja dengan baik dan selesaikan dengan cepat."


"Baik Putri." Pelayan itu segera bergerak dengan cepat. Ia mengambil kain basah dan membersihkan pelipis Pei Shi Liang yang tidak sengaja tergaris pensil alis.


"Putri, lalu bagaimana dengan Yang Mulia Putra Mahkota Shixian?"


Pluk! Kali ini pelayan yang baru saja akan menggambar alis tidak sengaja menjatuhkan pensil alisnya.


"Maafkan hamba Putri." Pei Shi Liang melambaikan tangannya dan menarik perhatian nya lagi darinya. Sebagai gantinya ia menoleh dan berbicara pada pelayan yang bertanya padanya.


"Haah.... Persilakan masuk. Aku akan menemuinya begitu aku siap."


"Baik Putri."


"Hem. Meskipun aku tidak tahu apa tujuannya datang kemari. Jangan biarkan dia mengeluh atas pelayanan di tempat kita." Pei Shi Liang mengingatkan sebelum pelayan itu pergi.


"Baik Putri. Hamba akan menjalankan tugas sesuai perintah Putri."

__ADS_1


"Hem. Pergilah. Jangan biarkan Putra Mahkota Shixian menunggu terlalu lama."


Setelah pelayan itu pergi, Pei Shi Liang tidak mengatakan apapun lagi tapi ia masih tetap berpikir sebenarnya apa yang diinginkan sang Putra Mahkota itu. Pasalnya ia ingat betul bahwa bukan hanya ia tidak mengenal Putra Mahkota itu ia bahkan tidak mengetahui seperti apa dia...


Xing Xi yang baru kembali dari dapur untuk mengambil makanan untuk Pei Shi Liang mendengar kabar bahwa Putra Mahkota Shixian datang mengunjungi Majikannya. Ia pun segera datang dan bertanya dengan tidak sabar.


"Putri, apakah benar Putra Mahkota Shixian datang kemari?"


"Ya..." Jawab Pei Shi Liang acuh.


"Putri, kira-kira apa alasan Putra Mahkota Shixian ingin menemui anda?"


"Hem." Pei Shi Liang hanya menggumam untuk menjawab pelayan pribadi nya itu.


"Apa?! Putri sedang tidak bercanda kan?" Xing Xi tanpa sadar menepuk tangannya sendiri dengab keras.


"Tidak." Jawab Pei Shi Liang jengah.


"Putri! Ini hebat! Semua putri di kekaisaran ini semuanya mendambakan Putra Mahkota Shixian. Mereka semua berdandan dengan cantik dan mencoba menarik perhatiannya. Tapi Putra Mahkota Shixian mengabaikan mereka semua sebagai gantinya. Namun saat ini putra Mahkota Shixian malah datang menemui mu Putri. Putri, apa yang bisa lakukan? Apa jangan-jangan Putri tanpa sepengetahuan hamba mendapatkan langkah?" Xing Xi bertanya dengan penasaran.


"Sejak kapan kamu menjadi tukang gosip?" Pei Shi Liang melirik Xing Xi dengan sinis.


"Maafkan atas kelancangan Hamba Putri. Pelayan ini tahu salah. Mohon hukum pelayan ini." Xing Xi segera berlutut.


"Sudahlah. Aku memaafkanmu kali ini mengingat ini adalah kesalahan pertamamu dan kamu biasanya Bukan orang yang tidak masuk akal. Tapi ingat untuk tidak mengulanginya lagi di masa depan."


"Terima kasih Putri. Hamba berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi."


"Hem. Sekarang ikut aku menemui Putra Mahkota Shixian. Aku ingin tahu apa yang dilakukannya di tempat ku." Pei Shi Liang melihat dirinya di cermin sebelum berdiri dan merapikan bajunya.


"Baik Putri."


Lu Jing Yu juga sedang bersiap di tempatnya. Hari ini Lu Jing Yu juga merupakan bintang utama dalam acara pagi ini. Ia akan terlibat di setiap prosesnya nanti yang tentu akan menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir. Jadi ia harus tampil maksimal.

__ADS_1


Setelah melalui proses mandi yang menghabiskan lebih dari dua jam di kamar mandi, Lu Jing Yu keluar dalam keadaan segar. Dia merasa jika seluruh tubuhnya seperti baru. Begitu ringan dan nyaman.


Seperti untuk mandi, riasan wajah Lu Jing Yu juga lebih spesial hari ini. Jika biasanya Lu Jing Yu lebih menyukai riasan sederhana dengan warna yang kalem dan tidak terlalu mencolok, kali ini karena baju yang harus dipakainya berwarna merah dengan Phoenix emas yang seakan terlihat terbang menghiasinya, riasannya hari ini juga lebih berani dan sedikit tebal. Sampai hampir selesai Lu Jing Yu tidak masalah dengan semuanya. Namun saat para pelayan yang dikirim Ratu untuk secara khusus mendandaninya hari ini menggambar alisnya, Lu Jing Yu mulai kehilangan kesabarannya.


"Cukup! Kalian bahkan menggambar alis yang lebih besar dari mataku. Apa kalian tidak melihatnya? Bagaimana alis bisa begitu tebal dan panjang?" Lu Jing Yu menghentikan bibi pelayan itu, yang merupakan pelayanan senior yang telah bekerja di dalam istana selama belasan tahun.


"Mohon maaf Yang Mulia Putri Mahkota. Namun memang seperti inilah seharusnya terlihat. Dengan gambar alis yang tebal dan panjang, aura Yang Mulia akan semakin terlihat." Bibi pelayan itu mencoba menjelaskan. Ia sudah pernah melihat penobatan Putra Mahkota sebelumnya dan memang riasan wajah untuk Putri Mahkota memang seperti yang ia kerjakan saat ini. Tampil mewah dan agung.


"Tapi apa bibi tidak melihat jika aku bukannya terlihat cantik tapi justru menakutkan?"


"Tapi Yang Mulia..."


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" Pei Zhang Xi juga baru selesai bersiap. Sama seperti Lu Jing Yu, i juga mandi dengan banyak ritual. Ia juga memakai jubah liar berwarna merah dengan naga emas sebagai hiasannya. Dengan pakaian itu, Pei Zhang Xi tampak gagah dan tampan. Apalagi rambutnya yang disisir dengan rapi dan diikat dengan hiasan warna emas berbentuk naga.


Lu Jing Yu sudah tahu jika laki-laki yang menjadi suaminya memang tampan, tetapi dia masih saja terpesona melihatnya dengan tampilan yang berbeda. Ia hampir kehilangan dirinya sebelum ia akhirnya sadar dan berdehem menghentikan kecanggungan nya.


"Hormat kami Yang Mulia." Semua orang juga sama terpesonanya hingga mereka lupa memberi hormat pada Pei Zhang Xi.


"Bangunlah. Ada apa ini?" Pei Zhang Xi mengerutkan alisnya yang tajam saat melihat gambar alis Lu Jing Yu yang tebal dan panjang.


"Bibi pelayan berkata jika riasan untuk upacara penobatan haruslah tebal. Aku diam saja. Tapi lihat, apa perlu sepanjang ini untuk menggambar alis? Aku takut putraku akan takut melihatku nanti." Lu Jing Yu langsung mengeluh begitu ada kesempatan.


"Mohon maafkan hamba Yang Mulia." Bibi pelayan segera berlutut dan menatap Pei Zhang Xi dengan wajah yang tidak berdaya. "Hamba melakukan semuanya sesuai dengan aturan. Hari ini adalah hari penobatan, segala sesuatunya harus berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Hamba juga tidak dapat melakukan apapun." Lanjutnya.


*


*


~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_167🍀~


Terima kasih sudah mampir 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟

__ADS_1


__ADS_2