Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
67. Datangkan Wei Qian Nian


__ADS_3

Jalan-jalan utama di ibukota selalu ramai. Apalagi jalan yang ada di sepanjang pasar di tengah ibukota. Para nona muda berjalan dengan anggun bersama dengan beberapa pelayan yang senantiasa melayaninya. Terkadang beberapa penjaga juga berjalan di belakangnya untuk mengawal. Para gadis ini berlomba-lomba memamerkan apa yang mereka miliki. Semua dandanan mereka telah dipersiapkan dengan baik mulai dari baju yang mereka kenalan hingga hiasan rambut yang beraneka macam.


Jika ada para gadis, disanalah juga akan ada para pemuda. Tuan muda dari kediaman besar maupun kecil akan berjalan-jalan di sepanjang jalan dan saling menyapa. Menunjukkan eksistensinya di masyarakat. Menampilkan keagungan dan kecakapan mereka. Berjalan dengan tegap dan penuh wibawa.


Jika kedua golongan ini bertemu. Mereka akan saling menyapa dan berbincang-bincang sebentar sekedar ramah tamah. Tetapi jika mereka bertemu dengan tuan muda maupun tuan muda yang memiliki status lebih tinggi dari mereka, mereka akan mulai menjilat mereka dengan kemampuan memuji mereka yang tidak perlu diagungkan lagi.


Pasar ibukota selalu menjadi tolok ukur kemakmuran suatu negara. Semakin beradap suatu pasar, berarti semakin akkmur negara itu.


Saat ini, pasar ibukota cukup ramai. Bukan hanya nona muda dan tuan muda ya gak menghabiskan waktu dan uang mereka untuk berbelanja. Warga biasa maupun pelayanan yang sedang belanja juga memuji pasar. Para pedagang sayur dikelilingi wanita tua dan muda yang sedang memilih sayur di lapak.


Toko kain dan perhiasan juga dipenuhi oleh para gadis dan wanita. Di kiri dan kanan jalan, kedai-kedai makanan juga didirikan. Menguarkan aroma daging dan sayur yang dimasak. Aroma roti kukus yang mengambang di udara juga selalu berhasil membuat perut terasa kosong.


Suara tawa dan teriakan anak kecil yang sedang bernamindnegan riang atau sedang merengek meminta manisan juga tidak mau kalah dalam memeriahkan suasana pasar ibukota yang Makmur dan damai.


Di antara orang-orang itu. Chu Fei yang berjalan dengan raut wajah takut tetapi masih melangkahkan kakinya dengan mantap sangat bertolak belakang dengan semua orang. Apalagi dengan wajahnya yang suram dan tegang itu.


Tidak jauh darinya, sekelompok penjaga dari kediaman Raja Rui mengikuti setiap langkahnya sejak ia keluar dari pintu belakang kediaman dengan mengendap-endap. Sesekali mereka akan berbaur dengan pejalan kaki atau pembeli yang melihat-lihat barang di lapak para penjual.  


Tak lama setelah melewati pasar, Chu Fei masuk ke dalam gang sepi yang hanya memiliki pintu kediaman di daerah itu. Gang itu biasanya gelap. Jalan yang panjang tetapi tidak memiliki banyak rumah membuat orang yang akan melewatinya menjadi sedikit takut. Apalagi memang ada jalan alternatif lain yang lebih ramai di gang sebelah. Tentu saja membuat membuat orang akan lebih memilih gang tersebut yang lebih ramai. Pada umumnya hanyalah orang yang memiliki rumah di sana atau yang akan pergi ke rumah di sana yang akan lewat daerah itu.


Sepinya jalan membuat beberapa orang jahat sering menggunakan jalan ini untuk melakukan kejahatan mereka dengan aman.

__ADS_1


Chu Fei sendiri baru dua kali datang ke tempat ini. Satu kali saat mengambil obat dan ini adalah kali kedua.


Dengan gugup Chu Fei menautkan kedua tangannya. Meremas sapu tangan buatannya sendiri menjadi lecek dan kusut. Semakin dekat dengan daerah yang dimaksud, Chu Fei semakin gugup. Di pertengahan gang ada sebuah belokan dan sebuah pohon besar di sisi jalan membantu tempat itu agak tersembunyi. Di sanalah ia akan bertemu dengan orang itu. Setelah ia mengkonfirmasinya, ia akan segera memberitahu para penjaga yang mengikutinya untuk dapat menangkapnya dan mendapat keterangan darinya. Dengan begitu ia akan sedikit menghilangkan rasa bersalahnya pada Lu Jing Yu yang telah mempercayainya.  


Begitulah pemikiran sederhana Chu Fei. Ia tidak tahu ada bahaya besar yang telah menunggunya di depan hingga sekelompok orang serba hitam tiba-tiba melompat di depannya dan mulai mengacungkan pedang ke arahnya.


"Argh!" Pekik Chu Fei takut. Ia menutupi wajahnya dengan menyilangkan kedua tangannya saat melihat pedang yang tajam itu menebas ke arahnya.


Rasa sakit yang dikiranya akan ia rasa ternyata tidak pernah ada. Chu Fei membuka matanya dan melihat Mo Ting berdiri di depannya menghalau pedang yang mengarah padaya dengan pedang.


"Nona Chu berlindung dulu. Biarkan kami melakukan sisanya." Chu Fei dengan gemetar segera mundur dan menatap perkelahian di depannya dengan menggigit kuku jarinya dengan cemas.


Di dalam pengadilan pagi, perdebatan terjadi. Bukan membahas mengenai politik, kebijakan atau bencana kekeringan yang terjadi di wilayah timur. Melainkan mereka sedang membahas mengenai memasukan Wei Qian Nian sebagai selir untuk kediaman Raja Rui.


Kaisar Pei An Long beberapa kali meminta kasim uni menenangkan para menteri yang saling beradu pendapat tetapi masih juga kembali terulang. Para pangeran hanya diam dan menunggu saat yang tepat untuk berbicara. Mereka tidak ingin terlibat dalam perdebatan para menteri yang membuat pusing. Mungkin saja kesempatan mereka untuk membawa Wei Qian Nian masuk ke dalam kediaman mereka akan terbuka.


Di tengah perdebatan yang tiada habisnya itu, suara yang dalam dan tenang terdengar.


"Karena hal ini menyangkut mengenai putri Chu Timur, bagaimana jika kita minta dia datang kemari untuk meminta pendapatnya?"


Semua orang menoleh ke rahasia yang sama. Pei Zhang Xi duduk dengan tenang dan bahkan tersenyum. Ekspresi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Pei An Long juga tampak terkejut melihat putranya itu memiliki ekspresi yang mampu membuat orang takut.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Kita akan mendapatkan pembahasan ini sampai putri Wei Qian Nian datang." Kaisar memutuskan dan Kasim Song segera meminta pelayan untuk menyampaikan pesan pada Wei Qian Nian juga pada sang Ratu untuk segera datang.


Aula menjadi cukup tenang selama masa istirahat. Tidak ada ya gak berani berbicara keras saat ini dan hanya saling berbisik dengan teman mereka.


Ratu dan Wei Qian Nian datang pada waktu yang sama. Kedatangan mereka langsung disambut dengan baik. Kasi telah menyiapkan tempat Wei Qian Nian sama seperti tempo hari. Senyum masih menghiasi wajah cantiknya seperti sebelumnya.


Saat ia duduk, semua perhatian segera tertuju padanya. Jika jawabannya masih sama bahwa ia masih berniat masuk ke dalam kediaman Rui, bisa dipastikan dia akan masuk menjadi selir dan tidak menutup kemungkinan akan segera diangkat menjadi permaisuri menggantikan Lu Jing Yu segera setelah ia hamil.


Pei Zhong Min menatap Wei Qian Nian dengan tidak rela. Meskipun ia tidak dianggap oleh putri Chu Timur itu, dukungan yang dia dapat jika ia berhasil menikahinya benar-benar sangat menggoda. Jadi Samarinda saat ini ia masih berharap jika Wei Qian Nian akan berubah pikiran dan lebih memilih pengeran yang lain. Dan tentu daja pilihan terbaiknya adalah dirinya.


"Raja Rui, saat ini ia putri Wei Qian Nian sudah ada di sini. Bagaimana keputusanmu?"


Wei Qian Nian tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya yang bangga. Tujuannya tercapai. Ia akan segera masuk ke dalam kediaman Raja Rui dan dengan segera akan menjadi Permaisuri Rui yang terhormat.


~○○○~


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_67♡


*


*

__ADS_1


*


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .


__ADS_2