
Pei Zhang Xi kembali ke kediaman ketika malam sudah larut. Kaisar memanggilnya masuk dan mengintrogasinya mengenai kesengajaannya membiarkan kabar buruk era beredar dan bahkan menyembunyikan fakta dari Kaisar. Sebagai Kaisar, Pei An Long merasa ditipu dan dibodohi oleh anaknya sendiri. Tetapi dia masih tidak bisa menghukumnya. Tapi setelah mendengar sindiran Pei Zhang Xi, Pei An Long diam seketika.
"Jika aku memberitahu ayah Kaisar sejak awal, bukankah ayah Kaisar akan tetap menuntutku menikah setelah beredar kabar yang menggemparkan seperti itu. Aku bukan seorang Kaisar yang harus memiliki banyak istri untuk mengembangkan negara. Aku hanya perlu satu istri saja. Aku tidak mau wanita yang aku cintai menderita melihatku bersama dengan wanita lain. Tidak seperti seseorang yang sepertinya bahagia melihat halaman belakangnya yang saling serang."
Tetapi akibat dari mengutarakan isi hatinya itu, Pei Zhang Xi kembali menerima hukuman. Kali ini dia disuruh untuk menyalin aturan keluarga di aula leluhur sebanyak seratus kali. Dari mulai pagi dan baru selesai setelah makan malam.
"Apakah permaisuri sudah tidur?" Pei An Long bertanya pada Bibi Wu begitu ia sampai di kediaman.
"Belum Yang Mulia. Setelah makan malam, Permaisuri berjalan-jalan di taman bersama dengan Xiao Bei dan Chu Fei." Jawab Bibi Wu.
"Aku akan kesana." Bibi Wu segera minggir untuk memberi jalan Pei Zhang Xi. Kemudian bersama dengan Mo Ting dan Mo Han mengikuti Pei Zhang Xi ke taman.
Di taman, Lu Jing Yu sedang duduk di kursi batu sambil menikmati pemandangan kolam di malam hari yang memantulkan sinar bulan yang indah. Xiao Bei dan Chu Fei berdiri di belakangnya. Keduanya saling lirik memberi isyarat.
"Permaisuri ini sudah larut. Sudah mulai dingin di luar. Lebih baik Permaisuri masuk."
"Aku masih ingin di sini. Tidakkah kamu lihat bukan hari ini tampak sangat indah." Lu Jing Yu menatap bulan penuh di langit.
"Hari ini adalah hari keempat belas. Besok bulan akan terlihat lebih indah lagi permaisuri." Chu Feienajwab dengan suara yang ceria.
"Benarkah?"
"Iya. Tapi kalau kamu tidak masuk sekarang, besok mungkin kamu tidak akan bisa melihatnya karena masuk angin." Sebuah jubah hitam dengan aroma yang familiar menutupi bahu Lu Jing Yu. Lalu tangan yang hangat menangguhkan jubah hingga membungkus tubuh kecil Lu Jing Yu yang semakin kurus setelah hamil.
"Yang Mulia. Kamu sudah kembali?" Lu Jing Yu sangat senang. Entah kenapa saat ini ia akan kesulitan tidur jika tidak ditemani oleh Pei Zhang Xi. Mungkin ini terbangun karena terbiasa. Karena Pei Zhang Xi memperlakukannya dengan baik selama ini, ia mulai terbiasa bergantung pada Pei Zhang Xi.
"Kenapa masih di luar? Bukankah ini dingin?"
"Sekarang baru terasa. Hehehe." Lu Jing Yu meringis saat menatap Pei Zhang Xi tanpa daya.
"Ih kamu ini. Kita masuk sekarang ya. Kamu pasti sudah lelah setelah seharian ini."
"Hem." Lu Jing Yu menganggukkan kepalanya. Lalu dengan komparatif berdiri saat Pei Zhang Xi membantunya berdiri.
__ADS_1
Xiao Bei dan Chu Fei membantu Lu Jing Yu menyeka tubuhnya sebelum tidur. Setelah itu mereka keluar dari ruangan. Menunggu di luar bergantian dengan para pelayan yang lainnya.
Di dalam ruangan, Lu Jing Yu yang awalnya sudah mengantuk saat masuk ke dalam kamar yang hangat segera menutup matanya begitu merebahkan dirinya di atas ranjang. Pei Zhang Xiao juga sudah berbaring di sampingnya siap untuk menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Lu Jing Yu. Tetapi tiba-tiba saja, mata Lu Jing Yu yang terpejam membuka dengan mata yang jernih.
"Kenapa? Apa ada yang merasa tidak nyaman?" Tanya Pei Zhang Xiao saat melihat Lu Jing Yu yang terbangun.
"Tidak ada. Hanya saja aku tiba-tiba penasaran." Lu Jing Yu benar-benar terjaga sekarang. Rasa kantuk yang tadi terasa seperti tidak pernah ada.
"Apa yang membuatmu penasaran?" Pei Zhang Xi membenarkan selimut yang melorot akibat tindakan Lu Jing Yu yang tiba-tiba.
"Bagaimana tadi? Sebenarnya aku ingin melihatnya sendiri. Aku ingin melihat bagaimana wajah Putri Wei Qian Nian itu. Aku ingin tahu bagaimana wajah cantiknya yang tampak pucat saat melihat hasil karyaku yang hebat." Lu Jing Yu membanggakan dirinya.
"Apa kamu hanya penasaran tentang hal itu?" Pei Zhang Xi menaikkan alisnya. Bukankah seharusnya Lu Jing Yu penasaran tentang bagaimana kejadian di istana tadi. Atau apa hukuman yang diterima oleh Wei Qian Nian. Tapi dia malah ingin melihat perubahan wajah Wei Qian Nian saat melihat tulisan tangannya yang telah dipalsukan.
"Iya. Aku penasaran apakah ia mencurigai bahwa akulah yang melakukannya?"
"Aku rasa tidak. Dia sudah cukup lama berada di istana. Pasti sudah pernah mendengar bahwa kamu bodoh. Jadi aku pikir..." Pei Zhang Xi merasa ada yang salah dengan apa yang ia ucapkan saat punggungnya terasa dingin jadi ia berhenti dan melihat bahwa Lu Jing Yu terlihat muram.
"Yu'er bukan itu maksudku. Kamu tahu kan."
"Yu'er jangan marah. Tolong maafkan aku." Pei Zhang Xi segera memeluk Lu Jing Yu yang membelakanginya. Semenjak hamil keadaan mental Lu Jing Yu sering kali berubah ia sangat mudah marah dan kesal. Dia juga sangat sensitif jika seseorang mengatakan sesuatu tentangnya.
"Aku tidak marah. Bukankah aku bodoh?" Lu Jing Yu menepis tangan Pei Zhang Xi yang berusaha memeluk dirinya.
"Tidak tidak Yu'er. Yu'er sangat pandai. Kalau tidak bagaimana Yu'er bisa menirukan tulisan tangan putri Chu Timur itu dengan baik hingga Ayah Kaisar saja tidak menyadarinya."
"Bohong. Aku tahu aku bodoh dan mudah dibohongi." Lu Jing Yu semakin mengerjakan selimut pada tubuhnya.
"Aku tidak berbohong. Mereka saja yang tidak mengetahui bahwa kamu sangat pintar sehingga mereka menyebarkan gosip yang salah. Besok aku akan menghukum mereka yang menyebutmu bodoh mulai sekarang." Pei Zhang Xi semakin panik.
"Hiks hiks. Tuh kan Yang Mulia menyebutku bodoh lagi. Aku tidak mau bertemu dengan Yang Mulia lagi. Lebih baik Yang Mulia pergi sekarang."
"Yu'er aku mengaku salah. Aku mohon jangan mengusirku keluar dari kamar." Mohon Pei Zhang Xi dengan serius.
__ADS_1
"Tidak. Cepat keluar."
"Yu'er jika aku keluar siapa yang akan menjadi bantal nanti?"
"Aku sudah memiliki bantal. Tidak perlu yang lain."
"Jika aku keluar, para pelayan pasti akan mengolokku kan? Apa kamu mau suamimu ini malu?"
"Yang Mulia benar-benar tidak menyesali perbuatannya. Sudahlah jika yang mulia tidak mau keluar biar aku saja yang keluar." Lu Jing Yu menarik tubuhnya. Menyibukkan selimutnya hingga terjatuh dari ranjang. Bersiap untuk turun.
"Tidak tidak. Ini sudah larut malam. Kamu tidak boleh masuk angin. Biar aku saja yang keluar." Pei Zhang Xi menyerah. Lalu turun dari ranjang dan mengambil selimut Lu Jing Yu untuk dipasangkan kembali.
"Aku benar-benar keluar?" Tanya Pei Zhang Xi setahun ia selesai memperbaiki selimut Lu Jing Yu.
"Hem."
"Baiklah. Aku akan keluar sekarang ya." Lu Jing Yu tidak menanggapi. PEI Zhang Xi menghela napas sebelum akhirnya keluar dari kamarnya sendiri.
Xiao Bei, Chu Fei dan Mo Han menunggu di luar. Xiao Bei dan Chu Fei duduk di tangga batu sambil menyulam kaos kaki untuk bayi. Sedangkan Mo Han berdiri bersandar di batang pohon. Saat mendengar pintu yang terbuka keduanya reflek berdiri dan menatap pintu secara bersama-sama.
"Apa ada yang anda butuhkan Yang Mulia?" Mo Han maju dan bertanya.
"Enyah. Aku hanya mencari angin segar." Pei Zhang Xi menjawab sambisambil berjalan ke arah kursi batu yang ada di bawah pohon di depan paviliun. Chu Fei dan Xiao Bei menyadari ada yang tidak beres saling memandang.
"Apa Yang Mulia ditendang keluar dari kamarnya sendiri oleh Permaisuri?" Xiao Bei bertanya dengan tatapan matanya dan Chu Fei menjawab dengan bahunya yang terangkat. "Entahlah."
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_73♡
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .