
"Wah lihat! Itu Yang Mulia Putra Mahkota!" Seru seseorang yang membuat diskusi semua orang berhenti. Pada saat ini, perhatian semua orang terarah pada satu arah. Pintu gerbang utama istana dibuka dan Pei Zhang Xi ada di barisan paling depan. Ia memimpin pasukan itu secara pribadi.
Dalam sekejap, semua mata tertuju pada jalan utama ibukota dimana Pei Zhang Xi sedang memimpin pasukannya untuk pergi berperang melindungi kedaulatan Kekaisaran Shao di perbatasan.
Pei Zhang Xi tampak gagah dengan pakaian perangnya yang berwarna hitam terbuat dari bahan logam keras. Rambut hitam nya yang panjang diikat rapi dengan menggunakan giok hitam dengan motif harimau awan. Duduk di atas kuda, ia memimpin pasukan dengan sangat gagah berani.
Beberapa jenderal berada di belakang Pei Zhang Xi. Nantinya, setelah melewati gerbang ibukota, Para jenderal ini akan memisahkan diri dengan memimpin pasukannya untuk menyebar ke segala penjuru. Tidak boleh ada celah yang ditemukan di seluruh tempat yang akan dimanfaatkan musuh untuk menyerang.
Melihat betapa berkharismanya Pei Zhang Xi, semua orang segera berteriak dengan semangat membara.
"Hidup Kekaisaran Shao!"
"Hidup!"
"Hidup Yang Mulia Putra Mahkota!"
"Hidup!"
Mendengar teriakan orang-orang ini, semangat semua orang seperti dipompa kembali. Mereka seperti memang terlahir untuk menghadapi musuh seperti ini.
Namun keriuhan yang terjadi di ibukota berbanding terbalik dengan kondisi di dalam harem istana. Meskipun pada hari biasa para selir ini tidak akan banyak terpengaruh degan kondisi pemerintahan karena selama mereka mendapatkan kasih sayang Kaisar, setidaknya hidup mereka akan baik-baik saja di dalam istana.
__ADS_1
Tetapi mengenai peperangan kali ini dengan Kekaisaran Zhao, mereka tahu jika kekuatan musuh cukup besar dan mungkin sulit untuk ditangani. Apalagi perang dengan Kekaisaran Zhao tidak seperti pernah dengan Kekaisaran lainnya yang akan menentukan terlebih dahulu tempat dan peraturan jalannya perang karena Kekaisaran Zhao secara arogan menantang Kekaisaran Shao di depan pintu.
Sistem keamanan di Kekaisaran Shao ditata sedemikian rupa dimulai dari perbatasan. Meskipun tidak ada pagar yang membatasi, ada beberapa pos militer di empat arah penjuru. Dan juga akan ada pasukan patroli yang berjaga di sekitar perbatasan, tentara kekaisaran akan pergi ke desa-desa sekitar untuk membuat warga di desa yang jauh dari ibukota memiliki perasaan bahwa mereka diperhatikan. Hal ini juga bertujuan agar warga desa merasa ikut menjaga keamanan dan setidaknya akan melaporkan jika ada seseorang yang mencurigakan yang masuk ke desa mereka.
Selain itu, setiap kota di daerah juga memiliki pengamanan yang ketat. Setiap orang yang akan menuju ibukota terlebih dahulu harus melewati pemeriksaan di kota-kota kabupaten ini. Namun begitu masih ada beberapa bagian yang merupakan hutan. Jadi masih ada kemungkinan jika musuh akan menyerang ibukota saat pasukan utama pergi ke perbatasan.
Hal inilah yang membuat para selir ini khawatir. Bisa saja sewaktu-waktu pasukan musuh bisa menyerang sampai di dalam istana. Karena itu pulalah para selir ini melarang putra mereka pergi ke Medan perang dengan bermacam-macam alasan. Pada saat ini, setiap selir merasa gelisah di hati mereka. Mereka takut sakaligus senang. Takut jika perang tidak terkendali dan mengancam keselamatan, dan senang karena jika Pei Zhang Xi dan pangeran lain yang ikut dalam perang meninggal, putra mereka akan memiliki kesempatan.
Yah.... Bagaimana lagi. Di dalam benak para selir ini, tidak ada yang lebih penting di dunia selain status dan kekuasaan. Mereka masuk ke dalam istana dan menjadi selir dengan tujuan untuk mendapatkan posisi. Meskipun mereka harus bertarung satu dengan yang lainnya hanya untuk memperebutkan kasih sayang seorang Kaisar, mereka rela melakukannya.
Namun tentu saja tidak semua selir memiliki sifat picik dan pemikiran yang sempit seperti itu. Tentu saja masih ada beberapa wanita yang baik Yang masih dapat mempertahankan sifat aslinya yang berbudi luhur meskipun telah tinggal cukup lama di istana. Jadi daripada mereka sibuk menerka-nerka masa depan, para selir ini lebih memilih berdiam diri di halaman mereka dan memanfaatkan waktu untuk berdoa. Mendoakan putra mereka yang ikut berperang, mendoakan kedamaian yang sebelumnya mereka rasakan dengan nyaman segera dapat kembali mereka rasakan. Kembali hidup dengan tenang adalah keinginan semua orang.
Namun Lu Jing Yu bukan lah wanita dari salah satu jenis itu. Di saat Pei Zhang Xi berangkat berperang, ia tidak sibuk merencanakan masa depannya nanti jika sampai Pei Zhang Xi tidak kembali atau berdiam diri dan berdoa untuk keselamatan Pei Zhang Xi. Bukan karena Lu Jing Yu tidak ingin mendoakan keselamatan Pei Zhang Xi, Lu Jing Yu selalu mendoakan Pei Zhang Xi dari dalam lubuk hatinya.
Lu Jing Yu telah lama menyadari bahwa meskipun iabtelah berhasil menghindari beberapa plot kejadian yang akan mencelakai dan mengancam nyawanya, namun jalan cerita dalam novel masih tetap berjalan sesuai harus besar yang ada. Mengenai perang kali ini, Lu Jing Yu juga sedikit banyak telah mengetahui apa yang akan terjadi dalam perang dan seperti apa akhir perang itu nantinya.
Berbeda dengan perang di perbatasan terakhir kali yang di dalam novel adalah hasil bahwa Pei Zhang Xi terluka parah dan hampir merenggut nyawanya, serta dirinya yang akan ikut terseret masalah, pada perang kali ini, Pei Zhang Xi akan baik-baik saja karena perang di perbatasan hanyalah trik musuh untuk mengecoh tentara utama. Sasaran mereka sebenarnya adalah ibukota, tempat dimana istana berdiri dengan kokoh. Lagipula, apapun yang terjadi di perbatasan, jika pasukan musuh berhasil menduduki ibukota dan juga istana, mereka akan dinyatakan sebagai pihak pemenang.
Tetapi, meskipun Lu Jing Yu mengetahui strategi perang Kekaisaran Zhao ini, ia tidak bisa memberitahu kannya pada Pei Zhang Xi karena peran Pei Zhang Xi di perbatasan juga sangat besar. Jika pada saat ini Pei Zhang Xi tidak ada di perbatasan dan berperan aktif dalam peperangan, akan ada orang yang akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebarkan rumor jika Pei Zhang Xi adalah seorang yang pengecut. Tentu saja Lu Jing Yu tidak akan membiarkan hal ini terjadi.
Dan hal yang paling penting adalah bahwa nantinya, dengan adanya musuh yang menyerang ibukota dan istana, wajah asli semua orang akan terlihat. Di dalam istana kekaisaran terutama di dalam Harem, orang selalu berkeliling dengan menggunakan topeng palsu untuk menyembunyikan wajah asli mereka. Sehingga yang terlihat di permukaan adalah bahwa semua orang memiliki niat yang tulus dna hati nurani yang bersih. Justru dengan adanya perang ini, siapa yang tulus dan siapa yang palsu akan dapat dilihat dengan sangat mudah.
__ADS_1
Sedangkan untuk menghadapi musuh yang akan menyerbu ibukota, Lu Jing Yu telah memiliki rencananya sendiri....
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_290🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉
***
Keistimewaan Bulan Ramadhan dari
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam keempat🍃...
__ADS_1
...🌸Pada malam keempat, ia akan mendapatkan pahala seperti ia telah membaca kitab Taurat, Injil. Zabur dan Al-Furqon (Al-Qur'an)🌸...
Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰