
Pei Zhang Xi sudah berjanji pada Lu Jing Yu untuk membawakannya binatang perburuan yang besar untuknya. Dan rusa jantan yang sudah dewasa itu akan sesuai dengan itu. Selain bisa dimanfaatkan dagingnya, tanduk rusa jantan itu juga bagus dan masih utuh. Jika itu diawetkan dan dijadikan hiasan dinding pasti akan terlihat sempurna, jadi bagaimanapun caranya, hari ini rusa yang telah masuk ke dalam pandangannya tidak akan ia lepaskan.
Berbalik ke belakang untuk melihat semua penjaga berada sangat dekat dengannya, ia pun mendengus kesal. Jika mereka terus mengikutinya dari jarak yang begitu dekat, dia tidak akan pernah mendapatkan binatang buruannya bahkan jika itu hanyalah seekor ayam hutan karena keributan yang mereka buat.
"Kalian tunggu di sini. Aku akan mengejar rusa itu." Katanya dengan keal. Tapi para penjaga itu harus bertanggung jawab atas keselmatan sang putra mahkota, jadi mengusir nereka sepertinya tidak semudah yang dia kira.
"Mohon maaf Yang Mulia, keselamatan Anda adalah yang utama. Kami Mohon maaf karena takutnya kami tidak akan dapat menuruti perintah Yang Mulia." kepala penjaga yang bertugas berbicara dengan tegas.
"Huh! Aku bukannya ank kecil yang harus selalu dijaga. Aku juga bukan pertama kali masuk ke dalam hutan untuk berburu."
"Namun saat ii sudah berbeda, anda adalah putra mahkota sekarang. Akan..." Banyak orang yang akan mengancam keselamatan anda." Namun kalimat terakhir penjaga itu tidak sempat dikatakan setelah dipotong dengan kejam oleh Pei Zang XI.
"Jadi menurutmu aku yang sekarang ini adalah seorang pria lemah yang tidak bisa mmelindungi dirinya sendiri? Atau kalian meganggap kemampuan bertarung yang aku dapatkan dengan pelathan bertahun-tahun di medan perang tidak ada gunanya lagi saat ini? Aku tidak menyangka jika aku. Pei Zhang Xi memiliki penialaian yang sangat rendah di mata kalian..." Pei Zhang Xi memicingkan matanya saat dia menuduh para pejaga itu.
"Ten..tentu saja tidak Yang Mulia. Kemampuan Yang Mulia tetap yang terbaik di kekaisaran Shao ini. Tetapi.."
"Karena kalian telah mengakuinya, sekarang patuhi perintahku dan diam menungguku di sini. Aku akan mengejar rusa itu bersama dengan Mo Han." Pei Zhang Xi tersenyum licik.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Mo Han, ayo!" Pei Zhang Xi tidak memberi kesempatan bagi penjaga itu dan segera menghilang di dalam hutan bersama dengan Mo Han. MMeniggalkan para penjaga yang masih terkejut.
__ADS_1
"Kepala penjaga, bagaimana ini?" salah satu penjaga bertanya pada pemimpin mereka.
"Kita patuhi perintah Yang Mulia Putra Mahkota. Kita tunggu di sini. Lagipula dengan tuan Mo Han yang ada di sekitarnya sudah sama dengan sepuluh dari kita bersamanya. Tapi kita harus tetap waspada. Jika merasa ada sesuatu yang janggal, kita akan segera menyusul yang mulia untuk melihat apa yang terjadi."
"Baik kepala penjaga." Setelah itu, para penjaga yang sejak awal berada di sekitar Pei Zhang Xi untuk menjaganya duduk di bawah pohon besar. Namun meskipun mereka terlihat bersantai, mereka tetap waspada dan memasang telinga mereka dengan tajam.
Sedangkan Pei Zhang Xi yang yang akhirnya lepas dari para penjaganya yang mengikutinya seperti ekornya sendiri akhirnya bernapas lega saat ia dapat bergerak dengan bebas pada akhirnya. Dengan hanya Mo Han yang bersamanya, dia dapat bergerak dengan cepat dan dengan segera menemukan rusa jantan yang telah menjadi targetnya sejak awal.
Setelah merasakan bahaya dua kali berturut-turut, kali ini rusa itu tentu saja semakin waspada, jadi Pei Zhang Xi bergerak dengan sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan suara sediktipun agar tidak membuat rusa itu menyadari keberadaanya.
Dengan panah yang siap ditembakkan di tangannya, Pei Zhang Xi bersembunyi di balik pohon besar yang agak jau dari sang rusa. Pei Zhang Xi sedang membidik rusa itu dengan serius. Jika ia ingin melumpuhkan rusa itu dengan sekali serangan, ia harus dapat membidik tepat di bagian tubuh rusa yang penting seperti bagian jsntung atau di lehernya. Kesalahan sedikitpun tidak boleh dilakukan.
Setelah mendapatkan serangan yang mematikan, rusa tidak lagi dapat melarikan diri dan segera terjatuh di atas tanah dengan darah yang terus keluar dari lukanya. Karena panah yang melukai jantung, drahpun keluar melalui mulut dan hidung rusa itu saat sang rusa akhirnya meletakkan kepalanya yang sombong di atas tanah ketika napas terakhirnya akhirnya berhembus.
"Selamat Yang Mulia. Rusa itu akhirnya berhasil di dapatkan." Mo Han segera keluar dari persembunyiannya dan emberi selamat.
"Hem. Bawa rusa ini kembali."
Ukuran rusa jantan itu cukup besar sehingga Mo Han membawanya dengan kesusahan. Apalagi mereka tidak membawa kuda, jadi Mo Han hanya bisa menyeretnya di tanah setelah mencabut panah dari tubuh rusa. Darah rusa tercecer sepanjang jalan.
Rusa itu cukup besar, tetapi rusa itu saja tidak akan cukup jika Pei Zhang Xi ingin memenangkan perburuan. Dia masih harus menangkap beberapa binatang lagi. Jadi setelah mendapatkan rusa itu, Pei Zhang Xi melanjutkan perburuan. Kali ini para penjaga tidak mengikuti Pei Zhang Xi dengan sangat dekat. Mereka mengatur jarak agar keberadaan mereka tidak mengganggu Pei Zhang Xi.
__ADS_1
Seorang gadis cantik berlari di dalam hutan. Gaun putih yang dikenakannya berkibar di sekitar. Rambutnya yang hitam dan panjang tampak halus seperti sedang menari. Tubuhnya sedikit membungkuk dengan pandangan yang menurun saat ia berlari di tengah hutan. Seekor kelici putih melompat dengan lincah tidak jauh di depannya. Menghindari tangan seputih susu yang berusaha menangkapnya.
Tidak jauh dari sang gadis, seorang gadis lain yang berpakaian pelayan berlari mengejar keduanya. Lebih tepatnya mengejar sang gadis karena dia adalah pelayan gadis itu. Gadis pelayan itu berteriak untuk meminta nona mudanya untuk berlari dan terus mengingatkannya bahwa mereka telah berlari jauh ke dalam hutan yang berbahaya. Tetapi sepertinya gadis cantik itu bahkan sama sekali tidak mendengar peringatan pelayannya dan terus berlari mengejar kelinci yang masih melompat dengan lincah di antara semak-semak.
"Huft huft.... Kemana perginya kelinci itu?" Gadis itu terengah-engah begitu ia berhenti berlari. Matanya menjelajah ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan kelinci yang membawanya masuk jauh ke dalam hutan yang telah menghilang dari pandangan nya.
"Aiya Nona, bagaimana kita kembali sekarang? Kita sudah berada di dalam hutan. Hamba tidak mengingat jalan untuk kembali." Gadis pelayan itu berhasil menyusul majikannya dan segera mengeluh. Ia jelas ketakutan saat ini. Matanya mengawasi keadaan sekitar. Meskipun ia sadar bahwa mereka masuk ke dalam hutan, tapi ia masih harus mengikuti majikannya. Namun saat ini, ia tidak bisa untuk tidak merasa takut.
"Hah?" Gadis cantik itu terkesiap. Ia baru menyadari bahwa mereka berada di tengah hutan. "Jangan khawatir Rong Yun. Bukankah hari ini sedang diadakan perburuan di hutan ini? Kita tinggal menemukan salah satu rombongan saja dan meminta bantuan pada mereka untuk mengantarkan kita kembali." Lanjut Gadis itu. Ia mengambil ranting kering di tanah, mematahkan nya sambil berjalan ke arah yang berlawanan dari arah dia datang. Gadis pelayan yang dipanggil Rong Yun itu tidak tahu harus berkata apa untuk menghadapi nona mudanya. Dia hanya bisa pasrah mengikuti nona mudanya itu. Semoga saja keberuntungan berpihak pada mereka dan mereka dapat keluar dari hutan tanpa luka sedikitpun.
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_205🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi cerita, pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉
__ADS_1