Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 195


__ADS_3

Namun tampaknya apa yang telah diusahakan oleh Xian Mu Xuan dengan susah payah tidak sesuai dengan hasil yang ia harapkan. Nyatanya semua orang masih belum tersadar dari ketidakpercayaan mereka mendengar apa yang telah dikatakan Pei Zhang Xi. Yang sukses membuat mereka terkejut. Apakah dia masih Pangeran berhati dingin yang tumbuh besar di perbatasan? Apakah dia masih pria yang sama yang tidak akan segan mengusir setiap wanita yang akan mendekatinya? Bukankah perubahan itu terlalu cepat?


Melihat bahwa dirinya diabaikan dan ucapannya tidak mendapatkan umpan balik yang dia harapkan, Xian Mu Xuan mengeplalkan tangannya dengan kesal. Ia tersenyum canggung.


"Sepertinya penjelasan yang diperlukan sudah cukup. kedepannya saya tidak ingin lagi mendengar orang lain membahas masalah ini atau bahkan mempertanyakan karakter seseorang siapapun itu tanpa mencari tahu kebenarannya agar masalah seperti ini tidak lagi terulang." Pei Zhang Xi juga tidak repot-repot menanggapinya. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh aula dengan tatapan penuh peringatan.


"Hidup Yang Mulia Putra mahkota. Yang Mulia Putra Mahkota bijaksana." Semua orang di aula kecuali tamu undangan dari kekaisaran lain berdiri dan membungkukkan badan mereka.


"Bangunlah kalian semua."


"Terima kasih Yang Mulia."


Karena masalah yang terjadi, acara perjamuan akhirnya diakhiri lebih awal. Kaisar mempersilahkan tamu yang lebih muda untuk undur diri terlebih dahulu dan diizinkan untuk berjalan-jalan di taman istana untuk saling mengobrol. Menikmati bulan dan bintang di tengah aroma bunga mekar yang semerbak. Sedangkan tamu dari generasi yang lebih tua masih akan berada di aula untuk membicarakan masalah yang lebih penting sambil minum-minum.


Pei Shi Liang sudah mengekor Lu Jing Yu kembali ke istana Timur sejak mereka keluar dari aula. Pei Shi Liang sebenarnya tidak berniat untuk ikut Lu Jing Yu kembali ke istana Timur pada awalnya karena hari sudah malam dan dia tidak ingin mengganggu keponakannya meskipun ia ingin. Pei Shi Liang hanya ingin melarikan diri dari Xian Zi Xuan yang terus saja mengganggunya. Setidaknya dia memiliki alasan untuk menolak ajakan basa basi Xian Zi Xuan yan mengajaknya berjalan-jalan malam itu.

__ADS_1


"Sepertinya Putra Mahkota Shixian tertarik padamu. Dia jua tampak baik. Apa kamu tidak ingn mempertimbangkannya?" Lu Jing Yu melirik Pei Shi Liang yang tampak gelisah berjalan di sampingnya.


"Itu tidak mungkin kakak ipar." Pei Shi Liang menghembuskan nafasnya. Matanya dipenuhi dengan banyak sekali keraguan dan keputusasaan.


"Kenapa tidak mungkin?" Lu Jing Yu mengerutkan keningnya.


"Aku memiliki keinginan untuk menikah dengan laki-laki biasa. Hidup dengan sederhana di pinggiran kota. Menikmati pemandangan sejauh mata memandang. Terkadang kami akan bergandengan tangan saat menjelajah ke tempat-tempat yang menarik." Pei Shi Liang menerawang jauh saat ia lagi-lagi menghela napas.


"Jadi kamu tidak akan mempertimbangkannya karena dia adalah seorang Putra Mahkota?" Lu Jing Yu mulai faham alasan adiknya itu sepertinya sangat berusaha menjauh dan menghindar dari Xian Zi Xuan meskipun pria itu terlihat baik dan memiliki perasaan tulus padanya. Ia juga mengerti perasaan Pei Shi Liang. Dia juga tidak akan bisa menerima jika bukan hanya dia wanita yang ada di hati dan hidup suaminya. Akhirnya Lu Jing Yu menghela napas tidak berdaya. Wanita di zaman ini harus tersiksa dengan tradisi koyol yang mengharuskannya merelakan suami mereka menikah dengan wanita lainnya. Bahkan hingga empat istri dan beberapa selir dan masih harus membiarkan adanya gundik. Memikirkannya saja sudah membuatnya marah.


"Hm. Begitulah." Pei Shi Liang mengaggukan kepalanya.


"lalu apa? Dia masih adalah seorang putra Mahkota. Siapa yang bisa menjamin bahwa karena sekarang tidak ada wanita di halaman belakang kediamannya lalu selamanya tidak akan ada? Jika dia menjadi seorang raja, tidak akan jarang ada seorang gadis yang dikirim ke padanya oleh keluarga mereka dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Dari beberapa gadis itu, siapa yang tahu akan ada gadis yang akan dapat lebih baik daripada aku dan akan menyayanginya. Lalu... apa yang bisa aku lakukan saat itu terjadi?"


"Bukankah kakakmu juga adalah seorang putra Mahkota, apa menurutmu dia juga akan tergoda oleh wanita lain yang akan menghancurkan rumah tanggaku?" Lu Jing Yu menghentikan langkah kakinya dan menatap Pei Shi Liang dengan serius.

__ADS_1


"Kakak mana bisa disamakan dengan laki-laki lain? Kakak sangat mencintai kakak ipar. Lagipula kakak memiliki kebiasanan yang tidak akan membiarkan dirinya disentuh oleh seorang wanita. Mana bisa disamakan dengan Putra Mahkota Shixian?"


"Huft.... Aku memang tidak akan bisa merubah cara pandangmu dan memaksamu untuk mengikuti arah pikiranku, tetapi aku memiliki sedikit nasihat untukmu,..." Lu Jing Yu memegang pundak Pei Shi Liang saat matanya menatap tegas Pei Shi Liang. "Ada dua hal yang tidak bisa dilihat dengan jelas di dunia ini yaitu Nasib dan isi hati manusia, tetapi saat sebuah kesempatan baik datang padamu, pikirkan baik-baik dengan mengesampingkan hal buruk yang bisa saja terjadi di masa depan karena semua itu tidaklah pasti. Jangan sampai kamu menyesal karena telah melewatkan kesempatan baik yang sangat berharga yang telah kami sia-siakan."


Pei Shi Liang tertegun mendengar nasihat Lu Jing Yu. Apakah memang ia yang terlalu berpikir jauh tanpa mempertimbngkan segalanya?


*


*


*


🍀Permaisuri Tidak Ingin Mati_195🍀


Terima Kasih sudah mampir😘

__ADS_1


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi cerita, pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


__ADS_2