
Setiap makanan yang dimakan oleh Pei Zhang Xi dan Lu Jing Yu selalu diperiksa sebelum dihidangkan pada keduanya. Apalagi setelah Lu Jing Yu hamil, keamanan semakin ditingkatkan terutama makanan dan minuman yang akan dihidangkan pada Lu Jing Yu.
Makanan dan minuman harus diperiksa dengan teliti dengan menggunakan jarum perak oleh tabib Fang dan juga mencicipi secara langsung. Koki yang bertugas memasak lah yang bertugas untuk mencicipinya. Baru stelah semua dipastikan aman, makanan dan minuman itu akan dihidangkan pada Lu Jing Yu.
"Semua sudah diperiksa. Semuanya aman." Ucap Tabib Fang meyakinkan saat bibi Wu pergi ke dapur untuk melihat persiapan makan malam.
"Baik. Sudah saatnya makan malam. Kita antar makanan ini segera sebelum dingin." Perintah bibi Wu pada para pelayan.
"Baik kepala pelayan." Bibi Wu memimpin di depan. Di belakangnya, para pelayan membawa nampak berisi makanan di tangan mereka.
Chu Fei yang bertugas membawa sup kurma merah sudah mendapatkan kembali ketenangannya meskipun masih ada ketakutan di matanya. Awalnya ia tidak ingin membawa sup itu sendiri dan ingin bertukar dengan pelayan lainnya. Tetapi tidak ada yang mau bergantian dengannya. Akhirnya dengan terpaksa ia sendiri yang membawanya. Di setiap langkah sedih sepanjang jalan, meskipun ia sudah mendapatkan ketenangannya pada awalnya, ia masih tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya di matanya.
Setiap langkah yang diambilnya terasa sangat berat. Setiap langkahnya terasa seperti ia menginjak duri yang tajam. Itulah mengapa keringat terus keluar dari dahinya.
Tabib Xue baru saja kembali setelah memeriksa kondisi Lu Jing Yu sekaligus memberikan ramuan yang diberikan Kasim Song melihat tingkah aneh Chu Fei dari jauh. Ia menghentikan langkahnya dan menyapa bibi Wu yang berada di depan. Tetapi matanya melirik Chu Fei yang semakin membuat gadis pelayan itu panik.
"Tabib Xue kami harus segera menghidangkan makanan ini kepada Raja dan Permaisuri Rui sebelum makanannya berubah dingin." Bibi Wu melihat bahwa Tabib Xue tidak berniat untuk memberi jalan. Jadi dia hanya bisa mendorongnya untuk lewat.
"Ah baiklah Bibi Wu, silahkan lewat." Tabib Xue menyingkir dari jalan dan memberikan jalan pada rombongan Bibi Wu. Tabib Xue melihat punggung semua orang dan kembali menemukan keanehan. Punggung gadis itu, Chu Fei meringkuk. Ia segera mencari Tabib Fang untuk menanyakan apa makanan benar-benar sudah diperiksa dengan benar.
Bisa saja dia langsung menghentikan Bibi Wu dan ememriksa makanan-makanan itu, tetapi semua orang tahu bahwa setiap makanan yang akan dihidangkan sudah diperiksa dengan ketat. Jadi jika dia mencurigai makanan itu di tengah jalan, maka itu tidak bisa dibiarkan. Sekarang dia hanya bisa mencari Tabib Fang untuk mengkonfirmasinya.
Tabib Fang yang mendengar kecurigaan Tabib Xue terhadap Chu Fei mengernyitkan alisnya. Sebab dia sendirilah yang telah mereka makanan-makanan itu dan memang tidak menemukan ada yang salah.
"Semua makanan itu sudah aku periksa dengan jarum perak. Selain itu kepala koki juga sudah mencicipinya dan semuanya memang aman."
__ADS_1
"Tapi aku benar-benar memiliki firasat yang buruk. Ji Yuan. Ada beberapa bahan yang tidak akan berpengaruh jika dimakan oleh orang biasa. Tetapi jika itu dimakan oleh orang yang sedang hamil akan menjadi malapetaka." Jelas Tabib Xue mengutarakan gagasannya.
"Aku juga pernah mendengar hal itu tetapi aku tidak pernah mengetahuinya secara detail. Jadi menurutmu ada masalah dengan gadis itu?"
"Ya. Tingkah lakunya sangat mencurigakan." Tabib Xue menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Baiklah. Karena kamu merasa yakin kita akan ke sana sekarang semoga saja semuanya kamu takutkan tidak terjadi."
"Hem. Kita pergi sekarang." Tabib Xue sudah tidak sabaran dan menarik tangan Tabib Fang dengan cepat.
Di salah satu taman di istana, Wei Qian Nian sedang menunggu kabar menggembirakan yang merupakan kemenangannya yang akan segera dia dapatkan. Dia berdiri di pinggir kolam sambil menikmati indahnya bulan. Tangannya yang seputih giok sesekali melemparkan makanan ikan ke dalam kolam buatan yang dipenuhi ikan emas dan bunga teratai yag sering bermekaran.
Senyum terlukis di bibirnya yang dilapisi pewarna bibir merah yang lembut. Sinar bulan purnama yang menyinari wajahnya membutuhkan wajah cantiknya semakin terlihat mempesona. Angin yang berhembus sepoi-sepoi menerbangkan rambut dan hanfunya yang berbahan kain sutra terbaik. Penampilannya malam ini adalah penampilan terbaiknya selama tinggal di istana Shao.
Kecantikan Wei Qian Nian memang tidak dapat diragukan lagi. Jiwa mudanya yang penuh semangat terpancar melalui wajahnya yang ceria.
"Salam Putri Pei An Rong."
"Putri Wei Qian Nian tidak perlu terlalu formal. Di masa depan putri Wei Qian Nian akan menikah dengan salah satu saudaraku. Jadi secara otomatis akan menjadi kakak iparku." Ucap Pei An Rong dengan senyum di bibirnya. Usia mereka tidak berbeda jauh. Pei An Rong hanya beberapa bulan lebih tua dari Wei Qian Nian. Jadi sifat mereka tidak lebih sama.
"Putri ke Tujuh sangat bijak."
"Aku mendengar bahwa putri Wei bersedia menunggu Raja Rui ya?" Pei An Rong mulai mengutarakan tujuannya menemui Wei Qian Nian segera. Ia tidak suka berada terlalu lama dengan seseorang yang memiliki kecantikan lebih darinya.
"Itu benar. Tujuan saya awalnya datang kemari adalah karena ayah Kaisar saya telah menghadiahkan saya sebagai selir Raja Rui. Jika saya tidak memenuhi harapan ayah Kaisar saya, saya akan merasa tidak tenang."
__ADS_1
"Benar sekali. Tetapi aku mendengar bahwa Raja Rui saat ini telah menyerahkan semau kekayaannya lada Gadis Lu itu. Itu sangat membuatku marah." Pei An Rong tidak repot menyembunyikan ketidaksukaanya. Meskipun usianya beberapa bulan lebih tua dari Wei Qian Nian, masalah cara pikir dan kemampuan menjaga ketenangannya sangat jauh berbeda.
Wei Qian Nian tersenyum melihat gadis seumuran dengannya yang polos dan naif itu. Jika dia tidak belajar bagaimana cara bertahan hidup di istana yang keras sejak ia mengenal dunia, ia pasti juga akan sama seperti Pei An Rong yang polos ini. Tetapi dia mengetahui bagaimana kerasnya hidup di istana yang penuh dengan intrik dimana perkataan melawan atau dimakan berlaku. Wei Qian Nian yang polos sudah berlalu digantikan dengan Wei Qian Nian yang oenuh dengan ambisi akan kekuasaan.
Selama ini ia selalu sulit untuk mendapatkan informasi di istana ini, kebetulan sekali ada narasumber yang datang dengan sukarela. Ia akan memanfaatkannya dengan baik.
"Tapi Aku mengagumi cinta mereka. Mereka sangat manis. Permaisuri Rui sangat beruntung dicintai pria seperti raja Rui." Wei Qian Nian mulai menebarkan umpan. Untuk dapat merebut posisi Permaisuri Rui, ia harus mengetahui keadaan di sisi mereka.
"Kagum apanya? Aku juga tidak mengerti dengan kakakku. Padahal dia tahu sendiri bahwa gadis Lu itu tah memainkan trik menjijikkan untuk dapat menikah dengannya. Awalnya kakakku juga membencinya. Entah sihir apa yang diberikan gadis Lu itu pada kakakku hingga membuatnya berpaling." Saat Pei An Rong berbicara, ia memukul kayu pembatas kolam.
"Berpaling?" Wei Qian Nian semakin penasaran. Gadis seperti apa yang disukai Pei Zhang Xi.
"Iya. Dulu kakak memiliki kekasih masa kecil. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Siapa sangka gadis Lu itu....ah membicarakannya membuatku kesal."
Wei Qian Nian merutuk di hatinya. Padahal sedikit lagi Pei An Rong akan memberitahunya nama kekasih kecil Pei Zhang Xi.
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_61♡
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .