
Suasana pagi yang harmonis begitu terasa di istana timur. Meskipun Pei Zhang Xi sangat sibuk akhir-akhir ini setelah ia menerima tugas barunya memimpin tim yang bertugas menemukan dan mengatasi penyebab hilangnya banyak warga, ia selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama dengan Lu Jing YU dan Pei Zhi Hui.
Semakin tinggi pangkat seseorang, akan semakin besar tanggung jawab yang harus diembannya. Seiring bertambahnya tanggung jawab yabg harus dilaksanakan, maka waktu yang tersisa akan semakin sedikit. Baik Pei Zhang Xi maupun Lu Jing YU mengerti betul akan hal ini semenjak mereka memutuskan untuk menerima posisi Sebagai calon penguasa. Selain kehidupan mereka yang akan berubah total, waktu kebersamaan mereka juga akan jauh berkurang. Itulah sebabnya keduanya selalu memegang prinsip bahwa satu-satunya waktu yang tersisa untuk dihabiskan bersama adalah pada waktu sarapan dan tidak akan menyia-nyiakan waktu itu dengan begitu saja.
"Aku mendengar beberapa pelayan istana yang membicarakan masalah hilangnya beberapa warga desa di beberapa daerah. Apakah itu benar?" Lu Jing Yu bertanya sambil mengunyah makanannya. Pei Zhang Xi menghela napas dengan berat. Meskipun sebagian masalah berada di dalam pantauannya, tidak menutup kemungkinan plot berjalan tidak sesuai dengan rencana. Bagaimanapun pikiran dan hati seseorang sangat mudah untuk berubah-ubah. Apalagi jika dihadapkan pada kondisi yang mendesak, rencana yang telah disusun dnegan matang bahkan bisa berubah dalam sekejap mata. Dan untuk terus memastikan situasi tetap dalam kondisi yang menguntungkan pihaknya, Pei Zhang Xi harus mengurusi banyak hal dan sudah beberapa hari ini pulang larut malam setiap harinya.
"Ya. Itu memang benar." Pei Zhang Xi mengangguk.
"Apa Yang Mulia sibuk akhir-akhir ini karena masalah ini?" Lu Jing Yu bertanya dengan simpati. Bukan hanya karena masalah ini suaminya harus lembur setiap harinya dan menyita waktu mereka, namun karena memang ia sangat menyayangkan berita itu memang benar-benar terjadi. Di zaman itu, nyawa manusia seperti nyawa binatang bahkan lebih rendah dari itu. Terkadang, menghilanhkan nyawa seorang manusia jauh lebih mudah dan sederhana daripada menyembelih seekor ayam.
"Ya. Untuk masalah ini, aku telah menurunkan bawahanku untuk menyelidiki nya. Dan hasilnya sangat mengejutkan. Beberapa orang bersembunyi jauh di kedalaman hutan untuk membentuk pasukan." Jawab Pei Zhang Xi tanpa berniat menyembunyikan hal ini dari Lu Jing Yu, ia percaya istrinya dapat dipercaya.
"Apa mereka orang-orang dari istana?" Lu Jing Yu mengerutkan alisnya.
"Siapa lagi? Orang dari Kekaisaran lainnya tidak akan berani bertindak gegabah. Namun orang-orang ini juga tidak bergerak sendiri. Mereka bekerja sama dengan Kekaisaran lainnya untuk menyerang."
"Kalau begitu pasti ada harga yang harus dibayar kan?"
"Tentu saja. Dan itu sangat tidak murah."
"Hah... Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran mereka. Mengapa tidak memilih untuk hidup berdampingan dengan damai daripada saling menyerang hanya untuk kekuasaan yang semu." Lu Jing Yu mendesah sambil menggelengkan kepalanya.
"Itulah namanya manusia. Apa yang dimilikinya akan selalu terasa kurang dan menginginkan lebih dan lebih. Itu memang sifat alami manusia. Tergantung bagaimana manusia itu sendiri untuk mengambil keputusan dan langkah." Lu Jing Yu hanya mengangguk-angguk kan kepalanya setuju dengan pendapat Pei Zhang Xi.
__ADS_1
"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan." Pei Zhang Xi telah menghabiskan isi di dalam mangkuknya sendiri.
"Yah... Aku mungkin tidak bisa banyak membantu, tetapi jika Yang Mulia menghadapi masalah yang besar, Yang Mulia bisa berbicara apapun dan kapanpun denganku." Lu Jing Yu mengangguk dengan patuh saat ia berbicara dengan serius.
Pei Zhang Xi memandang Lu Jing Yu yang serius dan tidak bisa menahan tangannya untuk telulur dan menarik dagu Lu Jing Yu. Menutup mata Pei Zhi Hui yang ada di pangkuan Lu Jing Yu saat ia ******* bibir yang mengerucut dengan lucu dan baru berhenti saat Pei Zhi Hui merengek saat mata bulatnya yang sebelumnya memandang Lu Jing Yu dengan berbinar ditutup dengan paksa dan hanya menyisakan gelap.
"Jika kamu berniat untuk membagi masalahku dengan mu, aku sangat berterima kasih untuk itu. Tunggu aku malam ini dan bantu aku menghilangkan beban yang menumpuk di pikiranku." Lu Jing Yu sudah sibuk dengan Pei Zhi Hui yang merengek sehingga ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memarahi Pei Zhang Xi yang dengan seenak hatinya menciumnya di depan putra mereka saat Pei Zhang Xi berbisik di telinganya dan dengan nakal mempermainkan cuping telinganya.
Lu Jing Yu baru berhasil menenangkan Pei Zhi Hui setelah sekian usaha dan tidak ingin membuat bayi itu kembali rewel. Jadi dia tidak bisa melakukan apapun terhadap Pei Zhang Xi yang kembali mencuri ciuman di pipinya sebelum pria itu berlari pergi menghindari pelototan Lu Jing Yu yang kejam.
Setelah Pei Zhang Xi keluar dari ruang makan, Xiao Bei dan Chu Fei segera masuk. Waktu sarapan, Lu Jing Yu dan Pei Zhang Xi memang tidak begitu suka dilayani, lagipula waktu mereka bisa berbicara dengan tenang hanya pada waktu sarapan. Terkadang mereka akan membicarakan masalah yang penting saat mereka berdua, jadi akan lebih aman jika tidak ada orang di sekitar.
"Yang Mulia, ada kabar dari kediaman Raja Wei." Chu Fei segera berbicara.
"Ya. Saya mendengar dari pelayan yang melayani Kaisar bahwa Selir Yao datang dan meminta izin untuk memasukkan dua orang selir ke kediaman Raja Wei hari ini." Ucap Chu Fei. Lu Jing Yu terdiam beberapa saat karena terkejut. Ia tidak menyangka masalah ini akan datang lebih cepat. Rahim Yun Ying baru saja siap untuk menerima bayi dan baru saja memasuki tahap program hamil. Jika ada masalah seperti ini, bagaimana mental Yun Ying tidak terganggu?
"Kirim orang untuk mencari tahu perkembangan di kediaman Wei dan segera laporkan padaku. Paling penting adalah melihat bagaimana kondisi Permaisuri Wei saat ini." Lu Jing Yu memberi perintah setelah memikirkan beberapa saat.
Ku Jing Yu yakin jika Yun Ying tidak selemah yang terlihat. Wanita yang telah kehilangan calon anaknya beberapa kali bahkan lebih kuat dari siapapun dalam menghadapi masalah seperti ini.
"Baik Yang Mulia." Chu Fei lebih bisa diandalkan untuk masalah seperti ini dibandingkan dnean Xiao Bei. Gadis pelayan itu segera undur diri dan keluar dari istana timur untuk menjalankan tugasnya.
Di salah satu kediaman Selir di dalam Harem, seorang wanita cantik duduk di depan mertuanya. Kedua wanita berbeda generasi itu sama-sama memiliki wajah yang serius saat keduanya berbicara. Seluruh pelayan dari kedua belah pihak telah diusir dan hanya meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan. Lagipula mereka akan membicarakan masalah serius yang sangat rahasia. Penting bagi mereka untuk menjaga keamanan informasi di antara mereka saja.
__ADS_1
"Apa kalian sudah gila?" Sang ibu mertua hampir kehilangan kesabarannya dan memukul meja saat menantunya memberi tahu informasi pada ibu mertuanya.
"Tidak. Tentu saja tidak. Itu namanya tekad dan keberanian. Kami memberitahu ibu adalah agar ibu bisa membantu dan mendukung rencana kamu. Namun Jika ibu tidak ingin membantu, kami berharap ibu tidak merusak rencana kami." Menantu itu memandang ibu mertuanya dengan jijik.
"Huh! Masalah sudah sampai seperti ini, aku tidak mungkin hanya diam saja." Ibu mertua itu mendengus. Matanya menunjukkkan tekad yang kuat.
"Bagus jika ibu mengerti apa yang terbaik." Menantu mengangguk puas.
"Ini, aku tidak peduli bagaimana cara ibu akan melakukan nya, aku hanya ingin mendapatkan hasilnya."
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan mengecewakan kalian."
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_231🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉
__ADS_1