
Kaki Pei Zhang Xi sudah lemas saat ia sampai di lantai tiga menara. Tangannya yang menggenggam tangan Lu Jing Yu tak payah sadar meremas tangan istrinya itu dengan sedikit keras hingga membuat Lu Jing Yu meringis menahan sakit tanpa berani bersuara. Telapak tangan yang hangat itu juga sudah berubah menjadi dingin dan dipenuhi dengan keringat yang membasahinya.
Di dahi Pei Zhang Xi yang putih terlihat butiran keringat sebesar bijih kacang hijau yang berbaris. Wajahnya terlihat tegang saat ia hendakenoleh ke belakang. Ke arah dimana tangga terakhir yang ia tapaki sebelumnya.
Tapi sebelum ia berhasil menengok ke belakang, tangan hangat Lu Jing Yu menepuk punggung tangannya. Kepalanya juga menggeleng dan memiliki senyum yang penuh dengan keyakinan.
"Jangan lihat ke belakang jika itu menyakitkan. Cukup lihat ke depan dan lihatlah pemandangan indah di depan mata." Ucap Lu Jing Yu menatap Pei Zhang XXi menenangkan.
"Kamu pasti sudah mengetahui jika aku takut ketinggian kan?" Pei Zhang Xi tidak lagi menyembunyikannya. Lagipula dengan kecerdasan Lu Jing Yu, istrinya ini pasti dapat melihatnya dengan jelas. Wajahnya pun terlihat pasrah. Jejak ketidakberdayaan terlihat di wajah tampannya.
"Takut ketinggian bukanlah sesuatu yang memalukan Yang Mulia. Setiap orang memiliki sesuatu yang ditakutinya. Itu normal." Wajah Lu Jing Yu masih tidak berubah. Masih terlihat percaya. Tidak sedikitpun terlihat bahwa wajah itu merendahkannya. Membuat Pei Zhang Xi menghela napas.
"Bukankah itu menunjukkan jika aku lemah?"
"Tidak. Sudah aku bilang takut akan sesuatu itu hal yang lumrah. Bukankah aku juga pernah takut untuk meyakini hatiku?" Lu Jing Yu tersenyum malu saat ia mengingat bahwa hubungan mereka awalnya penuh dengan rasa takut dan khawatir hingga membuat mereka saling tersiksa. Itu semua karena dia yang terlalu penakut untuk percaya.
"Hem?"
"Ya. Aku juga takut mengakui perasaanku pada Yang Mulia saat itu. Aku khawatir. Yang Mulia tahu sendiri bagaimana sikap Yang Mulia padaku kan? Apalagi aku juga pernah melakukan kesalahan besar pada Yang Mulia. Aku takut Yang Mulia hanya berpura-pura dan mengakui perasaan Yang Mulia hanya untuk membalas dendam padaku. Aku... aku takut kecewa."
"Jadi apakah sebenarnya kamu juga sudah mencintaiku sejak lama?"
Bibir Lu Jing Yu berkedut. Bukan itu intinya. Tetapi setelah melihat wajah penuh harap Pei Zhang Xi, ia tidak tega untuk mengklarifikasinya untuk menjelaskan dan lebih memilih mengalah. "Ya. Jika tidak tidak kenapa aku sampai melakukan hal memalukan seperti itu?"
Lu Jing Yu bisa dihitung tidak berbohong. Bukankah Lu Jing Yu yang asli memang menyukai Pei Zhang Xi?
__ADS_1
"Tapi kamu adalah seorang wanita. Wajar memiliki rasa takut. Tapi aku..."
"Laki-laki juga manusia. Sama seperti perempuan. Tetapi jika Yang Mulia merasa ini adalah sebuah kekurangan, Yang Mulia bisa memulai untuk mengikis kekurangan itu."
"Tidak Yu'er. Aku terlalu takut. Aku tidak akan berani melakukannya."
"Mengatasi rasa takut itu harus dari akarnya. Apa yang membuat Yang Mulia takut ketinggian?"
"Ceritanya panjang. Ini dimulai saat aku masih kecil." Pei Zhang Xi mengajak Lu Jing Yu untuk duduk di kursi santai di lantai tiga tersebut.
Pei Zhang Xi kecil dulunya adalah seorang anak kecil biasa yang ceria. Seperti anak kecil lada umumnya yang suka bermain, Pei Zhang Xi bahkan bisa dibilang bandel pada saat itu. Apalagi dengan sikap Selir Su yang juga ceria dan apa adanya membuat Pei Zhang Xi tumbuh hampir seperti dirinya. Nakal dan sedikit jahil.
Suatu hari Pei Zhang Xi tanpa sepengetahuan siapapun kabur keluar dari istana saat ia lepas dari pengawasan pelayan pengasuhnya. Pei Zhang Xi kecil dengan gesit menyelinap pergi dan berlari dengan riangnya tanpa arah seperti layang-layang yang terlepas dari benangnya.
Di dalam kereta itu, seorang wanita muda yang cantik memandang Pei Zhang Xi dengan tatapan yang bahagia. Ia segera memeluk Pei Zhang Xi dengan erat. Pei Zhang Xi kecil sangat takut dengan sikap wanita muda itu. Ia pun menangis.
"Tampan kecil jangan menangis. Bibi memiliki permen enak di sini. Apa kamu mau?" Ucap wanita muda itu sambil mengeluarkan beberapa permen dari dalam kantungnya.
Pei Zhang Xi kecil seperti anak kecil lainnya yang menyukai sesuatu yang manis seperti permen. Tetapi Selir Su selalu melarangnya untuk memakan terlalu banyak. Jadi dia sering pergi menemui Ibu suri untuk memakan permen diam-diam di sana. Iapun segera berhenti menangis dan memandang permen di tangan wanita muda itu.
Pei Zhang Xi makan permen tanpa tahu bahwa kereta yang dinaikinya sudah berjalan jauh hingga sampai di gerbang ibukota. Kereta berhenti untuk pemeriksaan.
"Aku mana tahu kalau dia adalah wanita gila. Saat kereta berhenti, dia membawaku turun dan mengajakku naik ke menara kota. Dia berkata bahwa pemandangan disana sangat indah dan mengajakku pergi bersama. Aku pun mengikutinya." Cerita Pei Zhang Xi sambil tersenyum mengingat masa kecilnya yang polos.
"Lalu? Apakah dia berniat menjatuhkanmu?" Tanya Lu Jing Yu penasaran.
__ADS_1
"Tidak. Dia sebenarnya wanita muda gila yang baik. Dia selalu menggenggam tanganku saat itu. Dia menjagamu dengan hati-hati."
"Tapi kenapa kamu takut ketinggian jika tidak ada bahaya yang terjadi?"
"Itu karena kami naik ke menara kota yang bahaya. Saat orang-orang melihat aku dan wanita itu di atas, mereka segera berkumpul dan berteriak. Dan itulah yang aku lihat saat aku sampai di atas. Banyak orang yang berteriak dan membuat perasaan tertekan. Bukan pemandangan indah yang dikatakan wanita itu."
"Jadi karena itu." Lu Jing Yu menganggukkan kepalanya.
"Ya. Sampai saat ini ia setiap kami aku melihat menara seperti ini aku akan mengingat mana-mana orang-orang itu berteriak-teriak dari bawah."
"Aku punya ide untuk menghilangkan rasa takut Yang Mulia."
"Yu'er, apa kamu malu memiliki suami yang takut ketinggian?" Pei ZHANG Xi panik. Ia takut Lu Jing Yu memaksanya.
"Omong kosong. Untuk apa aku malu? Aku memiliki suami buka untuk memanjat di menara terus menerus kan? Aku hanya ingin menikmati keindahan dunia ini bersama Yang Mulia. Jika Yang Mulia percaya, ikutilah perkataanku." Lu Jing Yu menggenggam tangan Pei Zhang Xi untuk memberikan kepercayaan diri.
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_91♡
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .
__ADS_1