
Saat Mo Ting dan Quan Yuan kembali setelah memasukkan kereta, mereka tidak sengaja mendengar erdebatan antara pasangan itu. Mereka samar-samar mendengar mereka berdebat akan pergi kemana saat itu. Mereka pun mendapat bahwa Lu Jing Yu ingin pergi ke menara terlebih dahulu tetapi Pei Zhang Xi menolak karena menurutnya menara itu terlalu tinggi bagi ibu hamil.
"Ayolah Yang Mulia. Aku sangat penasaran dengan menara itu." Lu Jing yu masih merengek dan menarik ujung lengan Pei Zhang Xi.
"Tidak Yu'er. Bagaimana jika jatuh nanti?"
"Jatuh apa? Apa yang Mulia tidak melihat bahwa ada pengamanan yang baik di sana." Lu Jing Yu menunjuk menara. Menara memang sengaja dibuat untuk keluarga kerajaan yang gak sedang berlibur. Jadi ada pengamanan yang memadai setiap tempatnya.
Di kedua sisi tangga ada pagar pembatas yang kokoh yang bisa digunakan untuk berpegangan saat naik atau turun. Pagar itu juga dibuat sempit agar jika ada seseorang yang tidak sengaja masuk ke dalam tangga akan mudah dilepaskan. Selain itu di dalam setiap lantai, setiap pinggir dari menara itu juga ada ruang kosong yang berada dari luar pagar. Jadi jika ada yang sampai terjatuh atau terpeleset dari lantai, itu tidak akan jatuh langsung ke bawah melainkan ke ruang kosong itu. Secara teknik ini aman dan ramah anak.
Kedua orang itu sibuk berdebat saat suara tanpa dosa Mo Ting terdengar. "Permaisuri, apakah Permaisuri tidak tahu jika Yang Mulia takut ketinggian?"
Wajah Pei Zhang Xi menggelap saat ia melirik Mo Ting yang tiba-tiba datang dan merusak citra baiknya.
"Apa?! Apakah itu benar? Yang Mulia kenapa Tidak bicara sejak awal? "
"Aku tidak takut tinggi. Itu hanya omong kosong Mo Ting saja."
"Benarkah? Kalau Yang Mulia memang tidak takut, berikan aku bukti."
"Apa kamu lebih mempercayai Mo Ting daripada aku?"
"Tidak tidak. Bukan begitu Yang mulia. Aku juga tidak terima jika ada yang merendahkan Yang Mulia seperti itu. Sebagai seorang istri aku juga merasa tidak terima. Bukankah sama saja Mo Ting mengatakan bahwa Yang Mulia lemah?"
Mo Ting akhirnya merasa bahwa seharusnya ia tidak mengatakan apa-apa! Saat ini entah mengapa ia tiba-tiba saja di detik kedua slamat masalah besar yang sulit diatasi. Niatnya adalah untuk memberitahu Lu Jing Yu nah Pei Zhang Xi takut ketinggian karena hanya ada beberapa orang saja yang tahu mengenai hal ini, dan salah satunya adalah dirinya. Ia tidak menyangka jika dia pada akhirnya akan diseret dalam masalah.
__ADS_1
"Permaisuri! Kapan aku mengatakan bahwa Yang Mulia tidak kuat? Aku hanya berniat baik untuk memberitahu. Jika seperti ini bukankah sama saja dengan membunuhnya! Yang Mulia sangat menakutkan. Bagaimana jika Yang Mulia menghukumku?" Gerutu Mo Ting di dalam hati.
Mo Ting semakin bergidik saat melihat tatapan Pei Zhang Xi yang seperti biasa memakan orang dalam satu kali telan. Ia tanpa sadar mundur dari berbunyi di nelayan Quan Yuan yang hanya diam menahan tawanya. Akhirnya ia melihat wajah panik Mo Ting.
"Aku benar-benar tidak takut ketinggian. Baiklah. Karena kamu ingin aku membuktikan jika aku berani dia bukanlah pria yang penakut dan lemah. Ato kita naik. Biarkan aku menggenggam tanganmu agar kamu merasa tenang."
"Baiklah." Lu Jing Yu sebenarnya mengetahui jika apa yang dikatakan Mo Ting tentang Pei Hang Xi yang takut ketinggian adalah sebuah kebenaran. Tetapi ia tidak mengeksposnya. Lagipula takut akan ketinggian juga termasuk hal yang lumrah. Hal semacam ini biasanya terjadi karena adanya trauma atau memang asli memiliki mental yang lemah yang menyebabkan dia tidak bisa melakukan beberapa hal.
Lu Jing Yu juga tidak berniat untuk menghalangi Pei Zhang Xi unik membuktikan dirinya karena ia yakin bahwa suaminya latihan mampu melakukannya. Dengan tekad kuat yang dimiliki Pei Zhang Xi, ia yakin bisa mengobati rasa takut yang tidak wajar seperti ini meskipun ia tidak tau apa penyebabnya.
Tangan Pei Zhang Xi sudah berkeringat dingin saat ia menggenggam tangan Lu Jing Yu saat ia mulai mencapai lantai pertama. Perlahan tetapi pasti ia menguasai diri dan berjalan dengan santai berharap bisa menyembunyikan rasa takutnya. Lu Jing Yu juga menyadari bahwa Pei Zhang Xi akhirnya dapat menguasai dirinya dan mengobati rasa takutnya.
Di lantai dua, pemandangan yang diperlihatkan adalah deretan taman-taman indah dengan berbagai warna. Ternyata saat dilihat dari lantai dua, penataan taman ini tidak ditata dengan tanpa pola karena setelah dilihat dari atas akan dapat dilihat bahwa penataan taman itu terbentuk dari huruf-huruf dan membemembentuk tulisan Heaven Lake.
Selain bentuknya yang unik, bunga-bunga yang ditata di stiap huruf juga memiliki pengaturannya sendiri yang memperlihatkan tulisan taman itu sangat indah.
"Seorang ahli yang selalu tinggal di pegunungan. Taman ini dibuat beberapa tahun yang lalu. Menjatuhkan hasilnya yang luar biasa, Ayah Kaisar lalu menyuruh orang untuk memanggilnya datang untuk mengatur taman di istana tetapi ditolak oleh orang itu berapapun uang yang ditawarkan padanya." Pei Zhang Xi menjelaskan apa yang ia tahu.
"Oh seperti itu sayang sekali. Jika bisa aku juga ingin taman di kediaman Raja Rui diatur oleh orang ini. Sayangnya..."
"Tidak perlu khawatir. Coba aku akan memilih tanya turun gunung untuk mengatur taman untukmu nanti."
"Benarkah? Aku tahu Yang Mulia memang yang terbaik. Sekarang bisakah kita naik lagi?" Lu Jing Yu ingin melihat seberapa parah trauma yang dimiliki Pei Zhang Xi.
"Tidak Yu'er. Cukup di sini saja. Bukankah pemandangan di lantai ini juga sudah terlihat indah?"
__ADS_1
"Memang benar. Tetapi dengan ketinggian yang berbeda pemandangan yang dapat dilihat juga akan berbeda."
"Yu'er...."
"Ayo Yang Mulia. Jika Yang Mulia tidak mau mengantarkanku maka aku akan pergi sendiri."
"Jangan! jangan Yu'er. Baiklah aku akan mengantarkanmu." Pei Zhang Xi akhirnya menyerah dan mulai menggenggam tangan Lu Jing Yu untuk dibawanya naik.
Quan Yuan dan Mo Ting tidak ikut naik ke atas menara. Mereka hanya memperhatikan dari bawah dan bersiap jika ada panggilan atau perintah dari kedua orang yang naik ke atas menara.
"Quan Yuan, apakah Yang Mulia akan baik-baik saja sekarang?" Tanya Mo Ting khawatir saat melihat Pei Zhang Xi dan Lu Jing Yu yang terus naik ke lantai tiga. Dia tahu seberapa parah trauma yang dimiliki Pei Zhang Xi tentang ketinggian.
Sebaliknya, Jika Mo Ting memandang cemas Pei Zhang Xi, Quan Yuan malah memandangnya dengan rasa penuh tanya. Entah kenapa ia memiliki keyakinan kuat bahwa Lu Jing Yu mengetahui bahwa Pei Zhang Xi sebenarnya takut tinggi dan saat ini sendal berusaha untuk menghilangkannya. Ia benar-benar berharap bahwa apa yang dilakukan nanti bisa membuat Yang Mulia menghilangkan traumanya.
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_90♡
*
*
Mohon maaf tidak bisa balas Komentar satu persatu ya. Sekarang ini authornya jadi super sibuk di dunia nyata. jadi nulisnya harus pinter-pinter curi waktu. 😊
Semoga Author selalu diberi kesehatan agar dapat terus update dengan rajin😇
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. ..