Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 160


__ADS_3

Lu Jing Yu menghela napas setelah ia keluar dari toko herbal terakhir yang ia datangi di ibukota. Semua toko herbal di ibukota sudah ia datangi namun masih juga tidak menemukan apa yang ia cari. Sepertinya tanaman itu memang masih belum dikenali sebagai tanaman herbal oleh masyarakat di sini.


"Kakak ipar. Kita sudah mengelilingi ibukota dan mengunjungi semua toko herbal yang ada. Tetapi tanaman yang kakak ipar inginkan masih tidak ada. Apa mungkin tanaman itu benar-benar tanaman herbal?" Pei Shi Liang mendengar Lu Jing Yu menghela napas.


"Tentu saja. Tapi aku rasa masyarakat masih belun mengetahui khasiat dan kegunaan dari tanaman ini hingga mereka tidak menggunakan nya."


"Lalu bagaimana kita bisa menemukan nya kalau begitu?"


"Bagaimana lagi. Kita hanya bisa mencarinya sendiri."


"Kita? Apa tidak salah?" Akan melelahkan jika mencari di seluruh sudut-sudut ibukota. Bagaimana jika kakak ipar kelelahan dan jatuh sakit? Bukankah aku akan dihukum untuk itu? Lanjut Pei Shi Liang dalam hati.


"Apa mencari sendiri itu harus selalu dalam arti sebenarnya dimana kita akan berkeliling untuk mencarinya?" Lu Jing Yu melirik adik iparnya. Pei Shi Liang adalah tipe gadis yang lebih menggunakan otot daripada otaknya. Dia terbiasa bertindak sesuai dengan apa yang ada di depannya.


"Lalu?" Pei Shi Liang mengernyitkan alisnya.


"Apa gunanya aku memiliki kekuasaan jika aku tidak menggunakannya dengan baik? Untuk apa aku susah-susah mengerjakannya sendiri jika akan ada orang yang akan mengerjakannya untukku?"


"Maksudnya?"


"Liang'er. Sebagai seorang gadis jangan terbiasa untuk tidak menggunakan otakmu untuk berpikir. Jika tidak otak cantikmu ini lama-lama akan menciut dan menghilang." Lu Jing Yu menyentil kening Pei Shi Liang saat ia berhenti berbicara.


"Auch. Kakak ipar. Kenapa kamu menyentilku?" Pei Shi Liang mengeluh. Namun ia tidak berani menyalahkan. Ia hanya memegangi keningnya dengan menyedihkan.


"Apa? Biar otakmu yang membeku ini sedikit encer." Lu Jing Yu mengetuk kening Pei Shi Liang sekali lagi namun kali ini dengan ringan.


"Uh!" Pei Shi Liang mengerucut kan bibirnya. Namun apa yang dilakukan Lu Jing Yu berhasil membuat Pei Shi Liang akhirnya berpikir dengan baik.

__ADS_1


"Ha? Sudah tahu jawabannya?" Lu Jing Yu bertanya setelah ia melihat Ilham di mata Pei Shi Liang.


"Hem." Pei Shi Liang mengangguk. "Kita buat gambar tanaman itu dan menyuruh para penjaga untuk mencarinya. Benar kan?" Pei Shi Liang bertanya dengan antusias.


"Tepat. Jadiari kita segera kembali agar aku dapat segera menggambarnya dan menyebarkannya."


"Oke! Ayo kembali." Pei Shi Liang kembali bersemangat saat ia menarik Lu Jing Yu berjalan. Namun karena ia begitu bersemangat, ia tidak menyadari ada seorang nenek yang sedang berjalan di dekatnya dan tanpa sengaja tersenggol dan jatuh.


"Nenek! Apa nenek tidak apa-apa?" Lu Jing Yu segera mengulurkan tangannya untuk membantu nenek tua itu berdiri.


"Kakak ipar!"


"Yang Mulia!" Semua orang yang mengikuti Lu Jing Yu terkejut saat melihat Lu Jing Yu yang membantu nenek tua itu. Sebagai seorang yang memiliki kedudukan tinggi dan merupakan sosok yang penting, mencurigai semua orang adalah hal yang wajar. Bahkan seorang renta maupun seorang anak balita.


Namun Lu Jing Yu yang telah tumbuh dan menghabiskan banyak waktu di kehidupan sebelumnya dimana jiwa sosial telah dipupuk sejak kecil dan telah menjadi kebiasaan tidak memiliki pemikiran yang sama dengan orang-orang yang ada di sana. Ia tidak memiliki kecurigaan yang sama dengan mereka dan tanpa berpikir dua kali langsung menolong nenek tua itu tanpa menghiraukan orang-orang yang mengkhawatirkan nya.


"Terima kasih Yang Mulia. Hamba tidak apa-apa." Nenek tua itu berdiri dengan dibantu Lu Jing Yu. Ia memandang Lu Jing Yu hampir tidak percaya. Ia tidak menyangka jika seorang wanita mulia seperti Lu Jing Yu akan Sudi membantu rakyat jelata seperti dirinya secara pribadi. Sejak tadi dia telah memperhatikan rombongan Lu Jing Yu yang menyita begitu banyak perhatian.


"Mohon maaf Yang Mulia. Mohon jangan seperti itu. Hamba tidak sanggup menerima permintaan maaf dari Yang Mulia."


"Tidak nek. Ini memang kesalahan kami. Jadi kami harus meminta maaf pada nenek."


"Yang Mulia tidak perlu meminta maaf. Lagipula hamba tidak apa-apa. Hamba yang seharusnya berterima kasih karena Yang Mulia telah membantu hamba." Nenek tua itu sungguh-sungguh merasa takut saat Lu Jing Yu meminta maaf padanya.


"Tidak apa-apa nek. Oh... Terimalah ini nek. Perlakukan ini sebagai permintaan maaf." Lu Jing Yu memberikan beberapa koin perak ke dalam tangan nenek tua itu. Namun nenek tua itu segera mendorongnya untuk menolaknya.


"Tidak perlu Yang Mulia. Karena hamba tidak apa-apa sekarang, hamba meminta undur diri." Nenek tua itu segera berbalik dan hendak pergi. Namun Lu Jing Yu menghentikannya segera saat ia baru menyadari sesuatu pada saat terakhir.

__ADS_1


***


Pei Zhang Xi memeluk dan mencium kening Lu Jing Yu yang segera menyambutnya saat ia baru saja kembali dan masuk ke dalam kamar mereka. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan Pei Zhang Xi semenjak ia diangkat menjadi Putra Mahkota apalagi ia masih harus mengawasi persiapan acara penobatan sehingga dia sering pulang saat larut malam.


"Duduklah. Aku akan memijat kakimu. Kakimu pasti pegal-pegal setelah berjalan seharian." Pei Zhang Xi mengarahkan Lu Jing Yu duduk di kursi rebah sebelum ia duduk di sana dan meletakkan kaki Lu Jing Yu di atas pahanya.


"Terima kasih Yang mulia. Aku tahu Yang Mulia juga lelah hari ini. Kenapa Yang Mulia begitu baik?" Lu Jing Yu tidak keberatan dan meletakkan kepalanya pada sandaran dengan nyaman.


"Apa yang aku lakukan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kamu lakukan." Jawab Pei Zhang Xi sambil memijat kaki Lu Jing Yu dengan hati-hati.


"Shi Liang pasti melebih-lebihkan semuanya kan?" Lu Jing Yu mengangkat kepalanya dan memicingkan mata.


"Tidak. Itu memang yang sebenarnya. Kamu adalah istri terhebat yang tidak pernah membuat ku kecewa. Ayah kaisar bahkan terus saja memujimu sepanjang hari ini. Aku yakin besok ayah kaisar pasti akan mengungkitnya pada persidangan pagi."


"Sebenarnya aku tidak begitu menginginkan pujian dari semua orang. Tapi Terima kasih atas pujiannya." Lu Jing Yu mengangkat bibirnya tinggi hingga membuat matanya melengkung seperti bulan sabit.


"Hem..." Pei Zhang Xi mengelus kepala Lu Jing Yu saat melihat ekspresi istrinya itu.


"Tapi aku penasaran bagaimana akhirnya kamu menemukannya? Aku mendengar sebelumnya bukannya kamu bahkan tidak menemukannya setelah mengunjungi semua toko obat di ibu kota?"


"Ini...."


*


*


~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_160🍀~

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟


__ADS_2