
Kediaman para menteri yang ikut terlibat dalam pemberontakan dijaga ketat oleh tentara kerajaan. Mereka tidak diizinkan keluar dari kediaman tanpa izin. Para pelayan yang ingin keluar juga dibatasi dan diperiksa secara ketat. Selain itu, mereka juga akan diawasi dan dikawal Karena khawatir jika para pelayan ini keluar dengan membawa misi tertentu dari majikan mereka untuk melakukan hal yang dilarang.
Jalan di sekitar Kediaman-kediaman ini akan terasa sangat suram meskipun banyak orang yang lewat di depan Kediaman-kediaman ini. Beberapa orang yang tinggal di ibukota bahkan secara sengaja untuk lewat di sekitar hanya untuk melihat keadaan. Orang-orang cenderung merasa penasaran pada urusan orang lain seakan mereka semua terlibat meskipun pada kenyataannya, mereka tidak ada hubungannya sama sekali. Namun saat sesuatu yang buruk terjadi, mereka akan berebutan untuk pergi menjauh.
"Ibu, aku tidak ingin mati di sini." Suara rengekan seorang gadis terdengar dari salah satu kamar di kediaman Chen. Salah satu menteri yang terlibat dalam pemberontakan. Gadis cantik itu merengek dengan terus menarik lengan ibunya. Yang mulai kehilangan kesabaran padanya.
"Diamlah! Shan'er, Apa kamu pikir ibu juga ingin mati hah?" Sang ibu mengibaskan tangan putrinya yang selalu merengek sejak mereka dikurung.
"Bu, kalau begitu cepat pikirkan cara bagaimana kita bisa lepas dari hukuman ini." Chen Ling Shan menggembungkan mulutnya saat ia kesal.
"Kamu kira ini masalah mudah? Kamu lihat saja kediaman ini dijaga dengan begitu ketat oleh penjaga Kekaisaran. Tidak ada cara untuk melepaskan diri dari mereka."
"Huh! ini salah paman pertama. Kenapa bukan hanya keluarga dari paman pertama yang dihukum melainkan semua orang yang harus menanggung dosanya?" Chen Ling Shan mengepalkan tangannya erat saat ia menghentakkan kakinya tidak suka.
"Ucapan apa yang kamu katakan?" Chen Ling Shan dan Liu Wei, ibunya menoleh secara bersamaan saat mereka mendengar suara yang sangat mereka kenali yang kali ini terdengar sinis bagaimanapun mereka mendengarnya.
Chen Dan Niu berjalan ke arah anak dan istrinya yang sedang duduk di halaman. Matanya menatap anaknya marah. Membuat Chen Ling Shan segera menundukkan kepalanya karena takut dengan amarah sang ayah.
Mengetahui jika suaminya tidak puas dengan sikap putri mereka, Liu Wei segera berdiri dan mengait lengan Chen Dan Niu sambil mengelusnya lembut. "Suamiku, tolong jangan marah. Shan'er masih muda. Wajar saja jika dia memiliki rasa takut pada beberapa hal. Apalagi sebuah kematian."
"Huh! Itulah kamu yang selalu membelanya. Putri kita sudah enam belas tahun tahun ini. Dia bukan anak kecil yang harus selalu dibela atas kesalahan nya." Chen Dan Niu mendengus. Istrinya selalu memanjakan putri mereka sejak kecil sehingga membuat putri mereka sering tidak masuk akal.
"Aku tahu aku tahu. Tapi kali ini aku setuju dengan Shan'er. Kakak pertama yang melakukan kesalahan. Kita dari rumah kedua tidak seharusnya ikut dihukum. Ini sangat tidak adil kan? Shan'er masih sangat muda dan masa depannya masih panjang."
"Kita adalah satu keluarga bagaimana pun. Lagipula aku mendengar jika Putri Mahkota memohon pada Yang Mulia Kaisar untuk menunda hukuman sampai hari berkabung untuk ibu Suri berakhir. Aku juga mendengar jika kemungkinan hukuman mati untuk seluruh anggota keluarga akan dibatalkan."
__ADS_1
"Benarkah?!" Liu Wei dan Chen Ling Shan bertanya dengan bersemangat.
"Ya. Aku dengar Putri Mahkota memiliki rencananya sendiri. Jadi hukuman akan dilakukan ditunda sementara waktu." Chen Dan Niu menganggukkan kepalanya. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan para penjaga Kekaisaran yang menjaga di kediaman mereka.
Mendengar hal itu, ia dapat menghela napas lega. Bagaimana pun, ia manusia biasa yang takut mati. Meskipun ia tahu jika harga yang harus dibayar untuk nyawa mereka tidak mungkin murah, ia sudah sangat bersemangat.
Namun saat ia mengingat ayah nya, ia khawatir jika ayahnya akan menolak dan lebih memilih mati. Ayahnya selalu menghargai status dsn harga dirinya, ia takut ayahnya akan memilih untuk memegang keduanya dan memilih mati memeluk mereka.
Bagaimana pun, ia berdoa agar apa yang didengarnya dari para penjaga itu adalah berita yang sesungguhnya. Keluarganya adalah keluarga yang sudah berdiri kokoh di ibukota selama puluhan tahun. Mereka tidak boleh hancur begitu saja.
***
Seorang pria dengan memakai jubah hitam dan menutup semua wajahnya dengan kain hitam datang secara sembunyi-sembunyi di sekitar penjara bawah tanah. Ia mengawasi keamanan sekitar, menemukan salah satu penjaga yang berhasil ia suap dengan uang dan memberinya tanda untuk segera beraksi. Penjaga itu segera mengerti dan memulai pekerjaan nya.
Penjaga di sampingnya menoleh dan mengernyitkan alisnya. Ia tidak mendengar apapun. Tapi mungkinkah memang ada suara tetapi ia yang tidak mendengar nya? Jika atasan mengetahuinya, ia pasti akan disalahkan karenanya. Jadi dia hanya bisa berpura pura mengangguk. "Ya. Aku mendengar nya."
Rekan nya tidak terlalu terkejut mendengar jawaban yang dia berikan. Ia sudah menduganya. Jadi dia tidak membuang waktu dan terus mendorong. "Kalau begitu mari kita lihat ada apa di sana!"
"Tapi...." Penjaga itu menoleh ke belakang. Ke arah pintu utama penjara bawah tanah yang harus ia jaga. Sebentar lagi adalah waktu pergantian jam. Jadi hanya ada mereka berdua yang tersisa sebelum menunggu para pengganti Datang.
"Hanya sebentar saja. Kita pastikan suara apa itu. Aku khawatir jika ada yang menerobos masuk." Penjaga itu berusaha untuk meyakinkan temannya. Lagipula, tugasnya hanya untuk mengalihkan perhatian dan dua koin emas akan masuk ke dalam kantungnya. Bagi seorang penjaga seperti dirinya, dua koin emas sama dengan bekerja selama dua bulan. Hanya dengan sedikit tindakan kecil, ia sudah mendapatkan dua koin emas. Bagaimana mungkin ia tidak tergoda?
Lagipula, di dalam penjara juga ada banyak penjaga yang berjaga di sana. Masalah orang itu berhasil dengan tujuannya dan bisa keluar dengan baik-baik saja juga masih tidak bisa dipastikan. Namun dia tidak peduli mengenai itu semua. Yang paling dia pedulikan adalah dua koin emas yang bersinar di dalam kantongnya begitu ia membuka kantong miliknya. Senyumnya mereka dengan behagia. Setelah dia selesai dengan tugasnya hari ini, ia akan pergi ke ibukota dan mengunjungi rumah hijau untuk bersenang-senang dengan uang itu. Bukankah hidup itu indah?
Dengan kepergian dua penjaga terakhir, seorang pria yang sejak awal bersembunyi segera masuk ke dalam penjara bawah tanah. Dengan mengencangkan jubah hitamnya yang kusam. Berjalan dengan hati-hati saat ia menghindari para penjaga di dalam lorong.
__ADS_1
Begitu pria itu masuk ke dalam penjara. Suara-suara yang ambigu mulai terdengar. Suara-suara teriakan, rintihan dan suara keputusasaan lainnya terdengar di udara. Meskipun malam telah tiba, masih banyak tahanan yang masih menerima hukuman. Para penjaga tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan pengakuan yang mereka harapkan.
Mengabaikan semua suara yang menggema di seluruh ruangan, pria itu melangkah maju dengan pasti. Menuju tempat terdalam dalam penjara bawah tanah itu.
"Hei kenapa makananmu tidak pernah dimakan hah!" Suara bentakan terdengar dari ujung lorong. Pria itu memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatan nya. Dan benar saja, pria yang ada di dalam sel penjara itu adalah Pei Zhong Min, majikannya.
Ini masih saru hari majikannya ditahan di tempat ini. Namun penampilan majikannya sangat kontras dari hari-hari biasa.
Pakaian putihnya sudah bernoda darah. Terdapat luka bekas cambukan di beberapa tempat. Wajahnya yang tampan juga sudah dinodai dengan warna biru dan hitam di bagian mata dan pipinya. Bagaimana bisa majikannya berakhir seperti itu?
*
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_264🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Maaf telat. Hari Minggu hari sibuk bagi Author, ehe....
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉
__ADS_1