Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
117. Kunjungan Dua Bersaudara Xin


__ADS_3

Seorang pria dengan berbaju Zirah berdiri dengan tegas di kamp militer. Pedang yang tersarung di pinggangnya semakin membuatnya tampak gagah yang agung.  Wajahnya yang tampan masih terlihat meskipun hampir sebagainya dagunya telah tertutupi oleh . Pei Zhong Min sudah empat bulan berada di kamp militer ini untuk menerima hukumannya. Meskipun semua orang tidak tahu untuk alasan apa ia dikirim ke perbatasan yang jauh dari ibukota itu, ia tahu dengan betul Karena Kaisar yang telah memberitahunya saat ia ingin protes dan tidak menerima tugas menjaga perbatasan selama satu tahun itu.


Rambut halus di dagunya sudah mulai tumbuh lebat dan menjadikan dagunya yang kokoh tampak menawan. Kulitnya yang awalnya putih dengan sedikit pucat saat ini sudah lebih memiliki warga gelap yang menunjukkan kerja kerasnya selama empat bulan belakangan.


Di daerah perbatasan Barat tempat Pei Zhong Min ditugaskan sebenarnya cukup aman dan hampir tidak pernah ada konflik. Daerah barat kerajaan Shao berbatasan dengan kerajaan Bintang Utara yang memiliki aliansi pernikahan dengan Kekaisaran Shao. Istri dari adik Pei An Long adalah salah satu putri Kaisar Bintang Utara yang membuat kedua negara tidak akan saling membuat konflik.


Masalah yang paling dihadapi di perbatasan Barat adalah masuk dan keluarnya rakyat dari kedua kekaisaran. Kedua kekaisaran telah menjalin kerjasama hampir di semua bidang. Jadi banyak pedagang yang akan menyeberang bebas di antara kedua kekaisaran. Jadi paling banyak tugas Pei Zhong Min adalah memeriksa setiap orang yang lewat untuk menghalangi adanya hal yang tidak diinginkan seperti pemberontakan atau menyusup.


Sejak Pei Zhong Min datang ke kamp perbatasan, tugasnya adalah memeriksa orang-orang itu. Namun tentu saja ia tidak terlibat langsung dalam masalah ini karena sesungguhnya ia tidak begitu menyukai mengurus para rakyat. Jadi dia akan duduk atau berdiri di sudut dan memperhatikan dari tempat yang cukup jauh mengawasi anak buahnya berkerja.


Seekor burung merpati menukik turun dan hinggap di depan Pei Zhong Min. Di sebelah kakinya terdapat gulungan kertas kecil yang diikat di sana. Seorang pengawal yang berada di belakang Pei Zhong Min mengambil burung itu dan menyerahkan burung itu pada Pei Zhong Min.


Pei Zhong Min mengambil kertas dari kaki burung lalu menyerahkan burung itu pada pengawal kembali.


"Heh! Gadis Zhu rupanya sudah tidak sabar. Tapi sayang sekali. Ayah kaisar telah membuangku jauh di sini tanpa bisa membuat kemajuan. Tapi aku bukan orang biasa. Aku akan membuat peluang untuk diriku sendiri. Tidak akan lama. Tidak akan lama sampai aku kembali ke istana." Pei Zhong Min tersenyum saat ia merobek kertas itu menjadi bagian yang sangat kecil dan tak akan bisa lagi terbaca.


***


"Kamu haru hati-hati mulai sekarang. Jangan keluar kediaman beberapa waktu ini. Karena Permaisuri Yuan sedang hamil dia tidak dihukum atas kesalahannya yang telah menjebakmu. Aku memiliki firasat yang tidak baik. Setelah kejadian ini aku yakin dia akan merasa tertekan. Takutnya dia malah menyalahkan semuanya padamu." Ucap Pei Zhang Xi pada Lu Jing Yu keesokan harinya saat ia akan berangkat ke biro Yuguang setelah mereka sarapan bersama.  


"Tapi aku ingin mengunjungi Bungalow Heaven Lake minggu ini. Aku ingin memakan anggur langsung dari pohonnya."  Lu Jing Yu mengerucutkan bibirnya.


"Minggu ini aku akan sangat sibuk. Ada kasus pembunuhan berantai yang terjadi di salah satu desa di pinggiran ibukota yang masih belum menemukan titik terangnya."


"Yang Mulia, permaisuri, di luar ada kedua saudara Xin yang meminta untuk bertemu." Mo Han maju dan melaporkan apa yang dilaporkan pelayan di depan.


"Ah dua TUAN Xin. Bawa mereka masuk ke aula utama. Kami akan menemui mereka." Lu Jing Yu menjawab dengan sangat bersemangat.

__ADS_1


"Baik Permaisuri." Mo Han membungkuk sekali sebelum ia meninggalkan ruang makan.


Lu Jing Yu berdiri dengan  bantuan Pei Zhang Xi dan segera pergi menemui Xin Mo Yan dan Xin Mo Yin.


Dua orang tua itu datang bersama dengan keluarga mereka saat mereka diundang ke istana oleh Kaisar. Hari ini mereka juga menawarkan keluarga mereka datang menemui Lu Jing Yu. Keluarga mereka sangat sederhana. Mereka duduk dengan tenang di aula saat menunggu tuan rumah datang.


Saat mereka mendengar suara langkah kaki yang memasuki aula, mereka segera menoleh dan berdiri saat melihat tuan rumah yang datang.


"Hormat kami Raja Rui, Permaisuri Rui." Ucapkan mereka bersama sambil membungkukkan tubuh mereka.


"Bangunlah. Tidak perlu terlalu sopan." Pei ZHANG Xi membantu Lu Jing Yu duduk dengan hati-hati.


"Sudah lama tidak bertemu dengan kalian. Aku sungguh merindukan masakan bibi Yun." Lu Jing Yu memandang hangat seorang wanita patuh baya yang menggandeng anak kecil di tangannya. Dia adalah istri Xin Mo Yin.


"Ini adalah sesuatu yang sengaja hamba masak untuk diberikan pada Permaisuri. Saat di Heaven Lake, hamba melihat Permaisuri cukup menyukai acar buah yang hamba buatkan. Jadi hamba sengaja membuatnya sebelum kemari pagi ini." Perempuan yang dipanggil bibi Yun memberikan kotak bekal yang dibungkus dengan kain berwarna hijau yang sepertinya baru.


"Hamba lega jika Permaisuri menyukainya."


"Aku sangat suka. Kalian baru tiba di ibukota kemarin kan? Bagaimana kalau menginap di kediaman ini beberapa hari? Aku akan meminta seseorang urnhj mengajak kalian berkeliling nanti?"


"Kami secara tulus berterima kasih atas niat baik permaisuri.  Tapi mohon maaf kami tidak bisa menerima niat baik Permaisuri saat ini. Kami datang kemari hari ini karena kami ingin berpamitan. Kaisar telah memberikan kami rumah yang bagus di dekat Heaven Lake. Kaisar juga memberi kami pekerjaan untuk mengajari para tukang di istana ini. Jadi kami akan segera pindah ke sana hari ini untuk segera melaksanakan tugas kami."


"Sayang sekali. Padahal aku ingin kalian tinggal beberapa hari lagi di sini untuk menemaniku. Tapi jika itu alasan kalian, aku tidak menghalangi kalian. Di luar sana memang banyak tukang kayu dan tukang bangunan yang harus belajar dari kalian bagaimana memuat sesuatu dengan kokoh dan tahan lama."


"Itu semua juga berkat Permaisuri kami dapat menjatuhkan banyak hal. Kami sangat berterima kasih."


"Itu benar Permaisuri, karena Kebaikan Permaisuri lah kami akhirnya dapat hidup lebih baik. Hamba telah membuat ayunan bayi sebagai ucapan terimakasih kami. Meskipun hamba tahu Raja Rui pasti dapat membeli ayunan yang lebih baik, semoga Permaisuri DAN raja Rui berkenan menerima hadiah sederhana kami ini." Dua orang pelayan membawa masuk ayunan yang ditutup dengan warna merah dengan sulamam emas naga terbang yang indah.

__ADS_1


Lu Jing yu membuka kain penutup ayunan itu dan matanya membulat takjub saat melihat ayunan yang dibuat dengan indah. Ayunan itu terbuat dari kayu mahoni yang diukir halus dengan ukiran berwarna emas dan perak. Di atas Ayunan dipasang berbagai macam bentuk lucu yang dibuat dari kayu. Saat ada angin yang berhembus, gantungan itu akan bergerak dan menghasilkan bunyi yang menenangkan.


Sebuah tombol di sisi Ayunan menarik perhatian Lu Jing Yu. Sepertinya tombol itu bukan tombol sederhana. Benar saja saat Lu Jing Yu menekan tombol itu hiasan gantungan di atas Ayunan itu berputar secara otomatis. Ini mengingatkannya dengan ayunan yang ada di dunia aslinya. Tiba-tiba ia mengingat kedua orang tuanya. Mereka menyayanginya bahkan hingga kini ayunannya saat ia masih bayi masih tersimpan dengan rapi.


"Yu'er apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" Pei Zhang Xi panik saat melihat air mata yang mengalir di pipi istrinya.


Lu Jing Yu tersadar dan mendapati semua orang memandangnya dengan khawatir. Ia segera tersenyum dan menjawab dengan tenang. "Tidak apa-apa Yang Mulia. Aku sangat senang dengan hadiah ini. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan bayi kita dan mengayunnya di ayunan yang indah ini."


"kamu benar.  Ayunan ini memang sangat indah."


"Terima kasih atas pujian Raja dan Permaisuri Rui."


"Karena kalian telah membuat permaisuri bahagia, aku akan memberikan kalian hadiah." Pei Zhang Xi segera meminta Mo Han untuk menyiapkan uang. Tetapi Xin Mo Yan segera menolaknya.


"Tidak Yang Mulia. Itu adalah berkah jika Permaisuri menyukai hadiah kami. Jika kami menerima hadiah sebagai balasan dari hadiah yang kami kirimkan. Apa bedanya kami dengan seorang penjilat?"


"Huft... kalau kalian memang menolak uang yang aku berikan aku juga tidak bisa memaksa. Tetapi kalian tidak boleh menolak ini." Pei Zhang Xi mengeluarkan lencana dari sakunya dan memberikannya pada Xin Mo Yan.  


"Ini adalah Lencana Khusus yang hanya dimiliki oleh para bawahanku. Jika kalian mendapatkan kesulitan suatu hari nanti, kalian dapat menunjukkan Lencana ini pada prajurit manapun dan mereka akan menolong kalian. Atau kalian juga dapat menemuiku secara langsung. Kalian hanya lengkung menunjukkan Lencana itu dan kalian akan dapat menemuiku kapanpun." Jelas Pei ZHANG Xi.


"Terima kasih Raja Rui, Permaisuri Rui. Sebaliknya, jika Yang mulia memerlukan bantuan kami, jika kami mampu, kami akan melakukan yang terbaik untuk membantu Yang Mulia."


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_117♡


*


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. ..

__ADS_1


__ADS_2