
Pada umumnya, menilai seberapa kuat dan kokohnya gerbang ibukota, sangat mustahil bagi musuh untuk masuk ke dalam ibukota. Namun meskipun begitu, tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia. Meski pintu gerbang tidak bisa ditembus, namun masih memiliki kemungkinan untuk merobohkannya. Dengan didorong pohon kayu oleh banyak orang dalam jangka waktu tertentu, bukan tidak mungkin jika pintu gerbang pada akhirnya akan roboh.
Begitu juga dengan tembok tebal yang tinggi. Para musuh mungkin akan kesulitan jika mereka harus merobohkan tembok tebal itu untuk dapat masuk ke dalam ibukota, namun lain halnya jika mereka memanjat tembok tersebut. Meskipun ada kemungkin jika mereka yang sampai di atas mungkin akan diserang segera setelah mereka sampai, tapi jika mereka datang dengan cepat, pasukan yang berada di atas akan kuwalahan dan memiliki kemungkinan untuk membuka gerbang dari dalam.
Pada saat ini, Lu Jing Yu telah sampai di depan gerbang kota. Ia menatap gerbang yang kokoh yang tampak angkuh berdiri tepat di depan matanya. Dia telah berada lama di dunia ini, namun baru kali ini ia memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam. Jika itu di masa lalu, dia akan dengan bersemangat pergi masuk dan melihat-lihat di dalam. Meneliti apakah itu sama dengan apa yang dia lihat di dalam gambar di dalam buku sejarah. Namun sayangnya, kali ini dia masuk dalam situasi perang yang genting.
"Yang Mulia, kita masuk sekarang?" Quan Yuan bertanya dengan hormat.
"Mm. Ya." Lu Jing Yu mengangguk dan menjawab dengan datar.
Setelah masuk ke dalam gerbang kota, Lu Jing Yu tidak terus bersantai atau menikmati pemandangan indah yang dapat dia lihat dari atas tembok yang tinggi melainkan memeriksa seluruh persiapan. Semua persiapan harus dilakukan dengan seksama dan dipersiapkan dengan teliti dan tidak boleh ada kekurangan dan kelalaian sedikit pun, semuanya harus sempurna agar tidak terjadi kesalahan saat digunakan.
"Apakah sudah dipastikan jika jebakan ini berfungsi dengan baik?" Tanya Lu Jing Yu saat ia memeriksa salah satu jebakan yang telah dipersiapkan.
"Sudah Yang Mulia, kami telah mencobanya dengan menggunakan pasukan kami dan jebakan ini berjalan dengan baik." Jawab seorang penjaga yang menjadi penanggung jawab.
Lu Jing Yu mengangguk dan memuji dengan tulus. "Kerja bagus."
Satu persatu jebakan dan persiapan diperiksa sendiri oleh Lu Jing Yu dan tepat ketika Lu Jing Yu selesai dan berdiri di atas menara kota yang merupakan tempat tertinggi di gerbang kota, pasukan dari Kekaisaran Zhao terlihat di kejauhan. Mereka membawa pasukan yang tidak terlalu besar namun datang dengan wajah angkuh dan semangat juang yang menggelora. Bendera Kekaisaran Shao yang bergambar banteng merah tampak sombong berkibar di kereta dan di tangan-tangan beberapa tentara.
"Mereka datang." Ucap Lu Jing Yu datar sebelum ia menoleh pada semua orang yang telah menunggu di atas gerbang kota.
Semua orang segera menata sikap mereka dan bersiap. Tanpa sadar mengencangkan genggaman tangan mereka pada senjata yang mereka pegang. Meskipun mereka datang dengan persiapan, mereka masih khawatir jika mereka tidak akan dapat menahan apalagi memenangkan pertempuran kali ini. Lagipula mereka hanyalah pasukan kecil yang kalah jumlah dengan sangat dengan pasukan musuh.
"Yang Mulia, pasukan dari beberapa klan besar datang dan membantu. Saat ini mereka telah bersiap di dalam gerbang dan siap menyerang jika gerbang berhasil terbuka. Sedangkan pasukan pemanah mereka juga telah bergabung dengan pasukan pemanah kita." Pengawal Lin naik dan melapor pada Lu Jing Yu.
__ADS_1
"Bagus. Pastikan semua orang menaati perintah dan komando dari ku." Lu Jing Yu berpesan sebelum pengawal Lin kembali turun dan menemui pemimpin pasukan ini.
Dalam sekejap mata, pasukan Kekaisaran Zhao telah sampai tidak jauh di depan gerbang kota. Saat melihat banyak orang yang berada di atas gerbang kota, mereka mendengus. Mereka berpikir jika orang-orang yang berada di atas gerbang kota hanyalah orang yang digunakan untuk menipu dan menakuti mereka. Namun saat Long Wei Xuan hendak berteriak dan memerintahkan orang untuk membuka gerbang kota, ia terkejut saat mendengar suara wanita dari atas gerbang kota.
"Aku sarankan kalian menyerah sekarang! Letakkan senjata dan tengkurap di tanah!" Suara Lu Jing Yu sangat jelas. Ia berteriak dengan lantang.
Long Wei Xuan dan semua orang segera saling memandang sebelum mengarah kan padangan matanya ke arah gerbang kota dan menemukan seorang wanita cantik yang memakai baju Zirah.
"Ha-ha-ha-ha.... Aku tidak menyangka jika Kekaisaran Shao akan jatuh sampai seperti ini. Aku tidak percaya pada akhirnya Kekaisaran Shao akan berlindung di bawah ketiak seorang wanita. Ha-ha-ha-ha." Long Wei Xuan tertawa diikuti dengan semua tentara yang dibawanya. Hanya jenderal Rong yang masih mempertahankan sikapnya. Ia dengan dingin berbicara pada Lu Jing Yu dengan nada peringatan.
"Sebaliknya, kami sarankan kalian membuka gerbang dengan damai jika tidak ingin ada banyak korban berjatuhan. Kami tahu keadaan di dalam ibukota Kekaisaran Shao yang kosong saat ini. Jika tidak, tidak ada seorang wanita yang akan diturunkan untuk ikut perang." Suara jenderal Rong dalam dan jelas.
"Heum. Aku memang seorang wanita, tetapi aku adalah putri Mahkota Shao yang terhormat. Namun meskipun aku seorang wanita, aku sarankan kalian semua untuk tidak akan meremehkan kehebatan seorang wanita." Lu Jing Yu tidak marah atau pun emosi. Ia menjawab dengan sangat tenang.
"Oh ha-ha-ha-ha. Jadi kamu adalah putri Mahkota Shao. Bagus. Bagus sekali. Aku memang berniat akan menemuimu nanti. Sangat baik jika kamu malah datang sendiri kemari. Buka! Buka gerbangnya dan biarkan aku mengajari Pei Zhang Xi bagaimana cara merawat wanita cantik. Ha-ha-ha-ha." Saat kata-kata nya jatuh, semu tentara yang dibawanya tertawa dengan keras. Mereka tidak mungkin tidak mengerti kemana arah yang dibicarakan putra mahkota mereka sedangkan Long Wei Xuan terus mengatakannya tanpa ampun sepanjang perjalanan mereka.
"Pangeran Putra Mahkota Zhao harap jaga kata-kata anda atau kami tidak akan mengampuni kalian dengan mudah." Quan Yuan sangat marah saat mendengar Long Wei Xuan merendahkan Lu Jing Yu seperti itu. Dia tidak bisa menahan diri untuk tetap diam meskipun ia sendiri tidak yakin bahwa ia mampu menghadapi Long Wei Xuan.
"Huh jangan banyak omong! Jadi apakah kalian tidak mau membuka gerbang dan menyerah? Datang ke sini dan aku akan memperlakukan Putri Mahkota Shao dengan lembut. Lalu biarkan Pei Zhang Xi yang sombong itu tahu bahwa aku mampu mengambil istrinya." Long Wei Xuan berkata dengan sombong. Nada bicaranya jelas merendahkan. Membuat semua orang yang mendengarnya tidak bisa tidak mendidih karena marah!
Quan Yuan semakin marah. Long Wei Xuan ini semakin berani bukan? Apakah dia begitu ingin mati?
Namun saat ia hendak berbicara, tangan Lu Jing Yu yang terangkat dan memberi nya isyarat untuk diam.
"Aku ingin melihat bagaimana Putra Mahkota Zhao bisa bermain. Daripada hanya mendengar nya saja, bukankah lebih baik melihatnya secara langsung sehingga tidak akan ada orang yang akan berkata jika Putra Mahkota Zhao tidak memiliki kemampuan apapun selain bermain dengan gadis-gadis."
__ADS_1
*
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_296🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉
***
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Keenam🍃...
...🌸Pada malam Keenam, Allah Ta'ala akan memberikan pahala seperti orang yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
__ADS_1
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...