Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
53. Yang Mulia, Keluarlah Sekarang


__ADS_3

Malam harinya Lu Jing Yu mual hingga muntah saat makan malam. Tabib Xue, bidan yang diundang tabib Fang sudah memeriksanya dan mengatakan bahwa itu adalah hal yang normal. Tabib Xue mengatakan bahwa Lu Jing Yu tetap harus bisa makan meskipun hanya sesuap atau dua suap. Namun semakin Lu Jing Yu mencoba untuk makan, perutnya semakin tidak nyaman. Akhirnya, hanya sup kurma merah yang bisa dimakan Lu Jing Yu itupun hanya dia teguk. Pei Zhang Xi yang khawatir akhirnya membatalkan rencananya untuk melaporkan masalah keterlambatan pasukan yang dikirim dari ibukota untuk membantu perang. Sebagai gantinya ia menyuruh Mo Han untuk menyusun laporan dan bukti yang ia temukan.


"Apakah ada makanan lain yang kamu inginkan?" Tanya Pei Zhang Xi yang khawatir. Ia sendiri yang menyuapi sup kurma merah pada Lu Jing Yu.


"Tidak. Aku merasa semuanya tidak enak. Aku mau muntah rasanya hanya dengan mencium aroma makanan saja."


"Tabib Xue apakah ini normal terjadi pada wanita hamil?" Pei Zhang Xi menghela napas sambil meletakkan mangkuk sup di atas meja. Bertanya pada tabib Xue yang menunggu di samping.


"Sebenarnya tidak semua wanita hamil mengalami hal yang sama dengan yang dialami Permaisuri. Tetapi ini memang hal normal yang terjadi. Setiap wanita hamil menunjukan gejala yang berbeda-beda. Ada yang sampai parah seperti Permaisuri yang sampai tidak berselera makan, ada juga yang ringan. Bahkan ada yang tidak mengalaminya." Jelas Tabib Xue.


"Lalu apa obatnya?"


"Ini tidak bisa diobati Yang Mulia karena ini adalah gejala yang ditimbulkan karena perubahan hormon."


"Jadi apa Yu'er akan mengalami hal ini selama dia mengandung?"


"Tidak Yang Mulia. Biasanya gejala ini akan hilang sendirinya setelah trimester awal."


"Tiga bulan? Kenapa begitu lama?" Ucap Pei Zhang Xi kesal. Melihat kondisi Lu Jing Yu seperti ini satu hari saja membuatnya frustasi. Bagaimana dia bisa menahannya selama tiga bulan? Apakah dia salah karena tidak membiarkan Lu Jing Yu meminum obat pencegah hamil saat itu?


"Yu'er dia masih sangat kecil. Tidak akan terlambat jika kita..."


"Tidak! Apa yang Yang Mulia pikirkan?!" Lu Jing Yu yang awalnya bersandar di pelukan Pei Zhang Xi mendorongnya menjauh. Dia mengerti arah pemikiran Pei Zhang Xi. Dia tidak akan membiarkannya apapun yang terjadi.


"Yu'er dengarkan aku. Dia masih sangat kecil. Jika kita..." Lu Jing Yu menutup mulut Pei Zhang Xi dengan tangannya agar tidak melanjutkan kalimatnya.


"Yang Mulia, keluarlah sekarang. Aku tidak mau melihatmu lagi."


"Yu'er, kita bisa memiliki anak yang lain lagi."

__ADS_1


"Hiks hiks. Katakan saja jika Yang Mulia tidak menginginkan aku. Aku bisa terima. Tapi tolong jangan pernah berpikir untuk melenyapkan anakku."


"Yu'er kamu tahu aku tidak pernah berpikir seperti itu kan? Aku menginginkan kalian berdua."


"Tapi kenapa Yang Mulia berniat melenyapkannya? Hiks hiks." Lu Jing Yu semakin menangis terisak-isak.


"Yu'er maafkan aku. Tolong jangan menangis lagi." Pei Zhang Xiberusaha memeluk Lu Jing Yu tetapi selalu didorong pergi oleh Lu Jing Yu.


"Yang Mulia harus berjanji padaku dulu."


"Ya ya ya. Aku berjanji tidak akan berpikir untuk melenyapkannya lagi. Sekarang kamu percaya kan?"


"Baiklah. Tapi awas saja kalau Yang Mulia berani memikirkan hal ini lagi. Aku tahu ini menyiksa. Aku juga tidak menginginkannya. Tetapi jika ini yang harus aku bayar demi mengandung dan melahirkannya, aku akan melakukannya. Jadi aku mohon Yang Mulia bersedia mendukungku."


"Baiklah. Maafkan aku yang berpikir sempit." Pei Zhang Xi merasa bersalah telah berpikir untuk melenyapkan bayi mereka. Ia segera memeluk Lu Jing Yu dan menyadari bahwa anak inilah yang telah menyatukannya dengan Lu Jing Yu saat ini. Dan anak ini pulalah yang telah membuatnya menyadari bahwa ia mencintai istrinya, Lu Jing Yu.


Semua orang yang masih berada di dalam kamar melihat keduanya dan dengan sadar diri keluar dari kamar. Semua orang di dalam kediaman senang sekaligus sedih. Senang karena berita kehamilan Lu Jing Yu dan hubungan kedua majikan mereka sudah semakin baik. Tetapi mereka juga ikut bersedih tentang apa yang terjadi pada Lu Jing Yu.


"Mulai besok sebaiknya kamu pindah ke paviliun Huang Zuan. Di sana ada lebih banyak penghangat ruangan. Rancangannya juga lebih besar dan juga empuk. Kamu akan lebih nyaman tinggal di sana nanti."


"Aish. Apalah nasibku yang tidak menjadi istri yang dicintai sejak awal menikah." Lu Jing Yu merengut mendengar semua kemewahan di paviliun milik Pribadi Zhang Xi tinggal yang sangat berbeda dengan paviliun miliknya yang sempit.


"Maafkan aku. Bukankah sekarang aku sudah mencintaimu. Dan lagi, Paviliun Huang Zuan juga akan menjadi milikmu di masa depan. Besok aku akan memerintahkan orang untuk memindahkan semua barangmu ke sana."


"Bukankah itu tidak baik?"


"Baik. Tebu saja baik. Di masa depan tidak akan pernah ada selir di kediaman ini. Jadi apa gunanya jika kita tidur di ruangan terpisah? Dengan begitu aku bisa menemanimu sepanjang waktu kan?" Pei Zhang Xi dengan gemas menciumi puncak kepala Lu Jing Yu.


Lu Jing Yu bagaimanapun belum pernah mengalami hal yang begitu manis di kedua kehidupannya. Jadi saat Pei Zhang Xi memperlakukannya dengan baik, dia tidak bisa tidak merasa hangat. Dia merasa diperhatikan.

__ADS_1


"Baiklah. Berhenti bicara. Sekarang sudah larut. Kamu harus istirahat sekarang."


"Hem. Terima kasih Yang Mulia." Lu Jing Yu menutup matanya. Tetapi dia masih larut dalam pikirannya.


Dalam novel aslinya, tidak prnah ditulis bahwa Lu Jing Yu pada akhirnya akan hamil. Ini sungguh di luar perkiraannya. Jadi sampai saat ini Lu Jing Yu masih belum bisa meyakini bahwa dirinya tengah hamil saat ini. Tetapi setelah mengingat rasa mual dan perhatian Pei Zhang Xi padanya, dia tidak bisa tidak percaya.


Semakin kesini Lu Jing Yu menyadari bahwa jalan cerita berubah begitu banyak sekarang. Dia tidak tahu apa yang akanterjadi di masa depan. Akankah Pei Zhang Xi tetap akan membunuhnya setelah anak ini lahir dan bersatu dengan Zhu Man Xie? Tidak. Pei Zhang Xi sudah pernah berniat untuk melenyapkan bayinya. Bisa saja bayinya juga akan dilenyapkan suatu hari nanti. Lu Jing Yu berpikir keras hingga membuat keningnya berkerut di dalam tidurnya.


Hatinya berkecamuk. Apalah yang harus ia lakukan saat ini? Apa ia harus percaya pada Pei Zhang Xi, ataukah ia harus pergi dan menyelamatkan diri bersama bayi di dalam kandungannya?


"Berhenti memikirkan sesuatu. Aku akan ada di sini melindungimu." Pei Zhang Xi mengelus kening Lu Jing Yu yang berkerut hingga kembali normal. Lalu membenamkan ciumannya di keningnya dengan lembut.


Di kediaman Raja yang lain, seseorang baru saja membakar kertas yang baru diterimanya dari mata-matanya.


"Sekarang, tidak peduli sebanyak apapun seseorang mencari tahu penyebab telatnya pasukan bantuan dari ibukota tidak akan pernah menemukan yang sebenarnya jika akulah yang sengaja melakukannya." Seorang pria tampan tersenyum memiringkan bibirnya melihat surat yang terbakar habis menjadi abu di udara.


~○○○~


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_53♡


*


*


*


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .


mohon maaf untuk reader story of han aruna ini isi draftnya

__ADS_1



__ADS_2