Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 272. Pemakaman Ibu Suri


__ADS_3

Suara musik kematian menggema mengiris hati. Nyanyian para biarawan sudah terdengar sejak pagi buta bahkan sebelum matahari menampakkan dirinya diiringi dengan ketukan yang berirama. Kain-kain putih yang dipasang di beberapa tempat melambai dan berayun tertiup angin yang perlahan menghembus. Mengirim kedinginan di setiap hari karena Suasana yang terasa suram.


Hari ini, ibu Suri akan dikuburkan di makam kerajaan. Batu memori yang bertuliskan nama asli ibu Suri yang disertai dengan gelar kehormatan nya diletakkan di depan peti mati yang sudah ditutup dengan rapat. Semua anggota keluarga berkumpul di sekitar. Semuanya memakai pakaian serba putih. Hari ini, untuk memberi penghormatan pada Ibu suri untuk yang terakhir kalinya, semua orang menanggalkan gelarnya dan menjadi orang biasa. Bahkan Kaisar juga menanggalkan jubah kebesaran nya di depan umum dan berganti dengan jubah putih polos. Sama seperti semua orang.


Wajah semua orang tampak tabah. Selama tujuh hari kematian Ibu Suri, semua orang telah bergantian menemani di ruang berkabung. Baik anak maupun menantu. Bahkan cucu dan cucu menantu juga datang silih berganti.


Saat ini, setelah tujuh hari Ibu suri dibaringkan di dalam peti mati, semua orang akan melepas kepergiannya untuk selama-lamanya. Semua orang datang untuk mengantarkan Ibu Suri ke tempat peristirahatannya. Paduka Kaisar, yang ada di antara mereka meskipun wajahnya terlihat acuh seperti biasanya, hari ini cahaya nya terlihat redup. Memperlihatkan sedikit kerapuhannya. Bagaimanapun seorang pria, dia akan merasa sedih dan kehilangan saat ia ditinggalkan oleh pasangan mereka yang telah menemani dan menghabiskan bertahun-tahun waktu bersamanya.


Suasana hari ini bahkan lebih suram dari hari-hari biasa. Meskipun tidak seorang pun dari mereka yang menangis lagi, namun wajah sendu mereka menunjukkan jika mereka tengah berduka. Aroma dupa persembahan memenuhi udara bercampur dengan bau asap dari uang kertas yang dibakar.


Seorang biksu memimpin upacara terakhir untuk penyempurnaan. Masyarakat percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Dengan mengadakan pemakaman yang sempurna, orang yang meninggal akan dapat bereinkarnasi dengan cepat dan dilahirkan kembali menjadi seseorang dengan nasib yang baik.


Setelah seluruh upacara selesai dilaksanakan, peti msti ibu Suri diusung oleh empat orang pengawal yang memiliki tubuh tegap dan penampilan yang baik di atas rata-rata. Pakaian yang mereka gunakan meskipun masih berwarna putih, namun bahan yang digunakan jelas sangat berbeda jauh dari bahan yang biasa mereka gunakan.


Makam kerajaan berada di bagian paling belakang dari istana meskipun masih berada dalam ruang lingkup istana. Semua orang mengikuti ke makam tetapi tidak semua orang diizinkan untuk masuk ke dalam area makam.


Di dalam area makam, pemimpin biksu memimpin para biksu lainnya untuk melakukan upacara pelepasan dengan khidmat. Setelah selesai, peti mati ibu Suri dimasukkan ke dalam liang lahat yang cukup besar yang berada di salah satu ruang kosong. Di saat peti mati mulai diturunkan, air mata mulai mengalir kembali. Terutama para pelayan setia ibu Suri semasa hidupnya.

__ADS_1


Setelah kematian majikannya, para pelayan ini diberi hak untuk memilih mengabdikan diri di makam majikannya atau memilih majikan baru. Namun ada kepercayaan yang mempercayai jika seorang yang telah meninggal memiliki pelayan yang menjaga kuburannya, orang itu akan memiliki hidup yang makmur di alam baka. Tentu saja harga yang harus dibayarkan juga tidak mudah. Seorang pelayan yang memilih setia dan memilih melayani majikan mereka yang telah meninggal adalah bahwa setelah ini, mereka akan seperti orang mati. Mereka hanya diperbolehkan memakai pakaian serba putih sepanjang hidupnya, juga tidak akan bisa menikah dengan siapapun. Bahkan untuk makanan, mereka harus memakan makanan vegetarian seperti para biksu. Oleh karena itu sangat jarang ada pelayan yang bersedia menjalani sisa hidupnya dengan cara seperti itu. Itulah kenapa tidak jarang keluarga dari orang yang telah meninggal bersedia membayar banyak uang untuk membeli orang yang bersedia menjaga makam keluarga mereka.


Namun ibu suri adalah seorang majikan yang baik bagi para pelayannya semasa hidupnya. Bukan hanya pelayan tua yang memilih menjaga makam ibu Suri, beberapa pelayan lainnya juga bersedia melakukan hal yang sama. Hari ini, mereka semua telah bersiap untuk tinggal di makam selama sisa hidup mereka.


Lu Jing Yu tidak pernah menyangka akan melihat pemandangan yang begitu menyayat hati. Ia tidak tahu bagaimana menyikapi Masalah seperti ini. Kepercayaan sangat sulit dirubah. Lalu tiba-tiba muncul dalam hatinya, apakah nanti saat dia tiada juga akan ada yang bersedia menjaga makam nya seperti para pelayan ini? Jika dia tahu sebelumnya, dia pasti akan melarang siapapun untuk melakukan hal itu. Sangat bodoh untuk menghabiskan sisa hidup di dalam penjara. Akan lebih baik jika sisa hidup yang begitu berharga digunakan untuk melakukan banyak hal. Bukankah dengan begitu, majikan mereka yang telah meninggal bahkan akan lebih senang?


Namun eih... Ia tidak akan dengan mudah merubah arah pemikiran orang-orang di sini.


Pei Zhang Xi melihat Lu Jing Yu menghela napas dan mengerutkan keningnya. "Ada masalah apa?" Ia berbisik di telinga Lu Jing Yu.


"Hmmm. Tidak ada. Hanya sebuah pemikiran yang selintas lewat." Lu Jing Yu menggelengkan kepalanya..


Kali ini adalah pertama kalinya Lu Jing Yu memasuki aula leluhur. Biasanya, setiap pasangan yang baru saja menikah akan pergi mengunjungi aula leluhur untuk meminta berkah, namun karena hubugan antara dia dan Pei Zhang Xi yang buruk pada awal pernikahan, Pei Zhang Xi tidak pernah membawanya pergi. Jangankan membawa nya, berniat membicarakannya saja juga tidak pernah terdengar.


Menutup serangkaian acara pemakaman, semua anggota keluarga kerajaan datang dan berkumpul di dalam aula leluhur untuk memberikan penghormatan pada batu memori Ibu suri untuk pertama kalinya.


Setiap orang berdiri menurut status nya di dalam istana. Para pangeran akan membawa istri mereka, namun beberapa pangeran membawa selir mereka karena berbagai alasan.

__ADS_1


Lu Jing Yu sudah lama tidak bertemu dengan Yun Ying sejak terkahir kali ia mengunjunginya di kediaman Raja Wei karena kesibukannya. Ia hanya mengirim ramuan herbal padanya secara berkala. Pada hari kematian ibu Suri, ia juga tidak bertemu bahkan juga tidak melihat nya. Saat ini semua orang akan datang, jadi Lu Jing Yu ingin bertemu dengannya. Sekian lama tidak menemuinya, ia merasa khawatir. Namun karena anak buahnya yang ia suruh berada di sisi Yun Ying tidak memberinya kabar apapun, ia sedikit merasa tenang.


Lu Jing Yu sejak awal sibuk memperhatikan setiap detail upacara yang terlihat sangat menarik dan membuat nya penasaran sehingga ia tidak memperhatikan masalah lainnya. Saat ini upacara sudah selesai, ia mulai celingukan mencari keberadaan Yun Ying. Namun setelah ia menemukan Pei Wu Shan, Lu Jing Yu sangat kecewa karena yang berada sebelah Pei Wu Shan bukanlah Yun Ying seperti biasanya melainkan Ke Mei Jia....


Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa dengan Yun Ying? Kenapa dia membiarkan wanita itu menggantikannya menghadiri acara penting di istana?


*


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_272🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


__ADS_2