Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 130


__ADS_3

Sebuah kamar yang hangat penuh dengan  kasih sayang yang sempurna. Tangan seorang ayah menepuk-nepuk punggung putrinya yang berbaring di atas rankangya yang lembut. Dengan suara serak, sang ayah menggumamkan lagu pengantar tidur yang dulu sering ia nyanyikan saat putrinya masih kecil.


Sang ayah begitu khawatir saat melihat kening putrinya yang awalnya tenang mendadak berkerut. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Sang ayah pun dengan hati-hati mengelus kening berkerut putrinya yang terajut. Usahanya tidak mengecewakan hasil. Putrinya kembali tenang. Tapi itu hanya sementara karena sebentar kemudian putrinya yang tidur akhirnya membuka matanya dan terbangun dengan air mata yang menggenang di matanya tanpa sebab.


"Yu'er sayang katakan pada ayah apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?"


"Ada apa? Kenapa Yu'er Menangis?" Sang ibu yang ternyata sedang merajut di kursi santai yang ada di salah satu sudut kamar meletakkan benangnya dan menghampiri putri dan suaminya dengan cemas. Ia segera duduk di atas ranjang dan mengelus kepala putrinya yang tampak bersedih.


"Ayah, ibu. Aku tidak tahu kenapa aku sangat sedih. Sepertinya ada yang aku lupakan dan itu sangat penting bagi hidupku. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengingatnya." Air mata Lu Jing Yu terus menetes dari sudut mata nya. Ayah dan ibu Lu Jing Yu saling menatap sebelum memandang putri mereka dengan  sendu. Mereka bersedih karena tidak bisa membantu putri mereka.


"Jangan menangis sayang. Ibu dan ayah ada di sini." Ibu Lu Jing Yu langsung memeluk putrinya. Menepuk punggung putrinya.


"..." tangis Lu Jing Yu semakin keras. Bahunya naik turun dengan isakan yang terdengar menyedihkan.


"Yu'er... Yu'er... jangan menangis. Ibu merasa sedih melihatmu seperti ini." Ibu Lu Jing Yu dengan panik menghapus air mata dari pipi putrinya.

__ADS_1


"Ibu... apakah ibu pernah merasa melupakan seseorang yang sangat penting bagi ibu?"


"Sayang apa yang kamu maksudkan?"


"Aku merasa ada seseorang yang sedang menungguku di suatu tempat. Dan aku tanpa aku tahu ternyata juga ingin datang dan menemuinya." Lu Jing Yu menghapus air matanya tiba-tiba dan menatap ibunya dengan serius.


Ibu Lu Jing Yu menoleh dan meminta bantuan dari suaminya yang juga tampak cemas sebelum menghela napas.


"Yu'er.... apapun yang terjadi kamu tetaplah putri kamu yang sangat kami cintai. Namun kami tidak berhak menahanmu selamanya di sisi kami. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaanmu yang sesungguhnya."


"Yu'er...Yu'er... apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak? Mana yang sakit?" Lu Jing Yu mengernyitkan alisnya saat mendengar suara yang asing sekaligus familiar. Lalu sedikit demi sedikit ia membuka matanya yang sudah berlinang air mata.


"Yang Mulia, apa yang terjadi? Dimana ayah dan ibuku?" Lu Jing Yu melihat PEI zhang Xi yang cemas. Kantung mata Pei Zhang Xi terlihat jelas. Lalu bulatan mata yang hitam tadi bawah Kantung matanya membuat matanya yang biasanya tampak tajam kini terlihat cekung. Pei Zhang Xi pun secara otomatis terlihat sangat kurus. Seketika ia sudah mengabaikan kebingungannya mengenai apa yang terjadi padanya.


"Yu'er, akhirnya kamu bangun. Aku dan putra kita sangat merindukanmu." Pei Zhang Xi tidak menjawab tetapi memeluk Lu Jing Yu dengan hati-hati karena ia masih mengingat luka lebar di perut istrinya yang belum kering sepenuhnya.

__ADS_1


"Putra.... kita..." Secara reflek Lu Jing Yu menggerakkan tangannya untuk mengelus perutnya yang dalam ingatan terakhirnya ia sedang melahirkan.  "Yang Mulia, bagaimana dengan bayiku? Apakah dia dapat diselamatkan?"


"Tentu saja dia harus selamat. Kamu sudah melakukan banyak hal untuk melahirkan putra kita. Bagaimana dia tidak selamat." Pei Zhang Xi menarik tubuhnya. Mengelus kepala Lu Jing Yu dengan mata yang tidak berpaling dari Lu Jing Yu. Dalam matanya terlihat jelas bahwa ia sangat bahagia dengan perasaan yang lega. Seluruh cinta seperti terpancar di dalam mata itu meskipun mata itu mengeluarkan air mata yang tak dapat terbendung.


"Tunggu sebentar. Aku akan memanggil putra kita. Dia pasti sangat bahagia melihatmu bangun." Tanpa menunggu persetujuan Lu Jing Yu, Pei Zhang Xi melepaskan tangan Lu Jing Yu dan keluar dari kamar dengan senyum yang tidak dapat disangkalnya.ia menyela air matanya dengan senyum di bibirnya.


Lu Jing Yu yang ditinggalkan sendiri kembali menangis. Ia tidak tahu apa yang dia alami sebelum nya. Tetapi saat ia mengingat kebersamaannya bersama dengan ayah dan ibunya, ia menjadi semakin menangis. Mengingat bagaimana ayah dan ibunya yang sangat menyayanginya, ia mengkhawatirkan keduanya. Apa yang terjadi di dunia nyatanya selama ini? Apakah dia menghilang dari sana saat ia berpindah ke dalam dunia novel ini?


Jika dia menghilang? Bagaimana dengan ayah ibunya? Tetapi dia tidak bisa meninggalkan dunia novel yang dia lalui saat ini. Bukan hanya karena ia tidak akan bisa meninggalkan Pei Zhang Xi dan juga putra mereka yang baru saja ia lahirkan dengan susah payah. Tetapi ia juga yidak tahu bagaimana caranya agar dia bisa kembali...


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_130♡


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. ..


__ADS_2