
Sementara pesta baru saja berakhir di taman Kekaisaran, di paviliun Dao Ye yang merupakan salah satu halaman yang tidak jauh dari istana dingin Pei Liu Wen dan An Jia Yun sedang menunggu untuk diadili. Mereka dibawa ke tempat itu tanpa tahu alasan dan tujuannya. Berulang kali mereka meminta bertemu dengan Kaisar maupun Pei Zhang Xi, juga selir Qian yang merupakan ibu kandung Pei Liu Wen untuk membantu mereka. Namun tidak satupun dari orang yang mereka minta bertemu yang hadir.
Kali ini karena pertarungan antar saudara telah melibatkan satu-satunya cucu laki-laki yang dimilikinya, Kaisar Pei An Long akhirnya memberi mereka bahu dingin dan tidak bermaksud memberi maupun mencoba meringankan hukuman mereka. Hal ini membuat Pei Zhang Xi sedikit merasa lega. Setidaknya halangan terbesarnya untuk memberi orang yang disayanginya keadilan akhirnya tidak melindungi lagi orang-orang yang menempatkan orang-orang yang disayanginya ke dalam bahaya dan kekhawatiran. Meski pun selain kedua orang ini masih banyak lagi orang yang akan menjadikan keluarganya sebagai sasaran kelemahannya, namun dengan sifat Kaisar Pei An Long saat ini, mereka yang akan mencelakainya setidaknya akan berpikir berkali-kali jika ingin melaksanakan niat jahatnya.
Setelah acara perjamuan pemberian nama telah selesai dan para tamu undangan telah kembali ke tempat peristirahatan mereka, Pei Zhang Xi tidak pergi ke istana Timur menyusul Lu Jing Yu dan Pei Zhi Hui melainkan pergi ke halaman Dao Ye untuk menemui saudara tiri dan ipar tirinya. Ia akan menginterogasi keduanya secara pribadi.
"Yang Mulia Putra Mahkota tiba...." Kasim yang menunggu di luar memberi pengumuman. Pei Liu Wen yang sejak tadi sangat marah karena tidak dapat melakukan apa-apa mendongak dan berlari cepat menghampiri Pei Zhang Xi sebelum Mo Han memblokirnya dan bahkan mendorongnya pergi hingga jatuh terjungkal di atas lantai.
"Auch! Beraninya kau! Adik! lihatnya kelakuan anak buahmu yang kurang ajar ini. Sebaiknya kamu cepat usir dia pergi sebelum ia menghancurkan semua hal baik yang datang padamu di masa depan hemp!" Pei Liu Wen berkata saat ia kesulitan untuk bangun karena tidak ada yang datang membantunya, bahkan An Jia Yun karena semua penjaga dan pelayannya telah dibawa pergi sesaat setelah mereka dibawa masuk ke dalam paviliun Dao Ye.
"Benar adik ipar. Ia membawa kami ke paviliun Dao Ye ini saat kami akan menghadiri upacara pemberian nama Putra pertama mu. Lihatlah aku sudah memilihkan baju untuk masing-masing musim untuknya. Namun karena anak buah mu ini kami tertahan dan bahkan tidak dapt melihat betapa lucunya keponakan kami." An Jia Yun mengeluarkan keranjang berisi hadiah yang sengaja ia minta ditinggalkan sebelum para pelayannya dibawa pergi.
"Oh.... aku sungguh terharu melihat betapa perhatiannya kakak dan kakak iparku." Pei Zhang Xi tersenyum mengejek.
"Benar benar. Sebagai keluarga yang baik kita harus saling perhatian dan membantu. Kami selalu memikirkan hal baik untuk mu. Jangan khawatir selam masih ada aku tidak akan ada yang akan mengganggu kalian."
"Benarkah? Tapi Hal baik seperti apa yang kakak maksud? Apa seperti membayar pembunuh bayaran untuk menculik putra saudaramu sendiri?" Pei Zhang Xi menatap tajam Pei Liu Wen.
"Ah! Apa yang kamu bicarakan? Aku benar-benar tidak mengerti. Apakah ada yang berusaha menculik Putramu? Apakah kamu memberi perintah pada Mo Han untuk membawa kami kemari karena putramu diculik dan acara tidak dilanjutkan?" Pei Liu Wen bodoh dan tidak mengerti makna kata-kata dan gagal memahami nada bicara Pei Zhang Xi. Dia juga tidak dapat menangkap ekspresi wajahnya yang menggelap.
__ADS_1
Berbeda dengan suaminya yang tidak masuk akal, An Jia Yun melihat semuanya dan segera gemetar. Ia melakukannya dengan sangat baik. Ia telah memastikan tidak akan ada bukti yang tersisa yang akan mengarah padanya. Namun melihat ekspresi Pei Zhang Xi menatap dirinya dan Pei Liu Wen, jelas mengisyaratkan bahwa dia kemungkinan telah terekspos.
Dengan segera An Jia Yun gemetar ketakutan. Ia sudah tahu jika Pei Zhang Xi adalah seorang yang kejam dan sulit dihadapi. Tapi ia telah mempersiapkan sejak lama untuk ini dan yakin bahwa tidak akan ada masalah yang dapat menghancurkan nya. Ia menoleh Pei Liu Wen yang masih berbicara pada Pei Zhang Xi untuk menunjukkan kepeduliannya dengan bodoh dan merasa dia memang benar-benar telah memilih pria yang salah sebagai suaminya.
"Aku ingin tahu siapa yang memiliki nyali besar untuk menargetkan keponakan laki-lakiku? Mendengarnya saja aku merasa sangat marah. Jika aku mengetahuinya aku akan..." Pei Liu Wen masih tidak dapat memahami apa yang terjadi setelah sekian lama hingga An Jia Yun membekap mulutnya dengan keras.
"Diam! Berhenti bicara!" Teriak An Jia Yun dengan mata melotot. Wajahnya yang tampak tabah dan lembut telah lenyap digantikan dengan wajah yang mengerikan.
"Apa yang kamu lakukan! Setelah semuanya aku adalah seorang raja di kekaisaran ini. Apa hakmu memperlakukan ku dengan begitu kurang ajar di depan Putra Mahkota hah?!" Pei Liu Wen emosi. Ia segera menghempaskan tangan An Jia Yun dari mulutnya dan memarahinya karena di matanya adalah An Jia Yun sedang mengganggunya membuat muka Pei Zhang Xi agar dirinya tidak dituduh jika sesuatu yang buruk terjadi.
"Diamlah kau bodoh!" An Jia Yun kehilangan kesabaran dan berteriak memaki Pei Liu Wen.
"Benar. Kamu memang bodoh. Aku sudah salah sejak awal telah menerimamu menjadi suamiku."
"Kamu kira aku Sudi menikah dengan mu jika kamu bukan putri Menteri An yang memiliki pengaruh. Heh! Aku ragu akan ada yang mau menikahimu dengan wajahmu yang mengerikan itu. Bahkan seorang pelayan rendahan memiliki wajah yang lebih cantik darimu kau tahu! Jika bukan karena aku sudah lama kamu akan dihina dimana pun kamu berada!"
"Diam! Cuih!" Pei Liu Wen menyerang tepat pada kelemahan An Jia Yun dan membuat An Jia Yun menjadi snagat marah dan meludahi wajah Pei Liu Wen yang tepat berada di depannya.
"Kau! Beraninya kau. Biarkan aku tunjukkan siapa yang berkuasa di sini!" Selesai mengucapkan kalimatnya, Pei Liu Wen menampar An Jia Yun dengan keras hingga membuat wanita yang telah menjadi istrinya selama bertahun-tahun dan telah melahirkan seorang putri untuknya itu terpelanting dan jatuh ke samping. Pipi kirinya segera memerah dan bengkak setelah tamparan keras itu.
__ADS_1
Suara tamparan yang keras membuat semua orang terkejut. Mereka terkesiap melihat perkembangan yang terjadi. Pei Liu Wen bertindak sangat cepat dan tak teruga sehingga semua orang gagal menahannya karena tidak ada dari mereka yang menduga akan terjadi hal yang tidak pernah mereka perkiraan sebelumnya.
"Ahh! Ish. Kau berani menamparku hah? Aku akan berbicara pada ayahku untuk menghentikan bantuan yang selama ini rutin diberikan padamu untuk menjaga semua wanita rendahan yang kamu pelihara di halaman belakang mu. Aku ingin melihat wanita mana yang masih akan bertahan selama tidak ada sokongan dana dari keluargaku untuk menopang kehidupan mereka!"
An Jia Yun memegangi pipinya yang ngilu setelah ditampar dengan begitu keras. Air mata akhirnya lolos dari matanya. Selama ini ia selalu menahan diri dan bahkan ikut membantu merawat setiap kali suaminya pulang dan membawa wanita entah dari mana. Ia hanya berpikir selama dia masih menjadi istri utama, tidak penting semua wanita yang dibawa pulang suaminya itu asalkan mereka bersedia meminum ramuan kontrasepsi agar mereka tidak pernah mengandung anak dari suaminya.
"Hemp! Kau pikir kau begitu hebat? Tidak masalah. Bicara saja seperti itu. Lalu apa? Setelah aku menjadi putra Mahkota, tidak akan ada masalah jika aku bahkan membawa bahkan empat atau lima wanita lagi ke dalam halaman belakangku."
"Heh! Dengan kemampuanmu itu? Apa kamu tidak menyadari betapa bodohnya dirimu? Ingin menjadi putra Mahkota dengan otakmu yang dipenuhi pikiran mesum? Mimpi!" An Jia Yun semakin berani. Saat ini ia juga melupakan jika mereka saat ini sedang berada di depan banyak orang yang menonton mereka.
*
*
~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_178🍀~
Terima kasih sudah mampir 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟
__ADS_1