Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 180


__ADS_3

Lampu jalan menyala dengan semarak di sepanjang jalan di istana. Koridor-koridor yang bahkan jarang dilakui orang pun malam ini tampak terang dengan puluhan lentera yang berjajar di sisi kiri dan kanan. Suara musik yang merdu terdengar bertalu-talu membuat suasana hati menjadi terangkat bahagia. Bukan hanya suara musik yang bergema, suara tawa dan orang-orang yang sibuk berbicara juga semakin menambah semarak.


Para tamu berdandan dengan penampilan terbaik mereka. Jubah-jubah berkibar dengan pantasnya. Belum lagi penampilan para wanita yang berlomba untuk tampil menonjol di acara yang bersejarah itu. Gemerincing hiasan rambut seiring gemerisik merdu yang berasal dari angin yang bertiup di sela-sela ranting dan dedaunan.


Para penari melenggak-lenggok dengan tubuh mereka yang lentur di depan semua tamu. Dengan gaun yang indah dan warna cerah. Setiap mereka bergerak, suara gelang kaki akan terdengar. Mereka melambaikan tangan, menghentakkan kaki, memutar tubuh. Wajah mereka yang cantik terus tersenyum manis menyapa para tamu. Bukan rahasia lagi jika para penari ini juga memiliki niat untuk menggoda para tamu. Jika mereka beruntung, mereka mungkin menarik hati para tamu baik itu pangeran maupun para bangsawan yang akan membawa mereka pulang untuk dijadikan Selir. Jadi mereka menampilkan penampilan paling sempurna mereka.


Kasim yang berada di pintu masuk aula akan mengumumkan para tamu yang baru saja hadir dalam acara. Setiap kali Kasim berteriak mengumumkan kehadiran salah satu tamu, para tamu yang telah hadir lebih dulu dan berada di dalam segera menoleh dan memperhatikan mereka. Jika tamu itu mereka kenal dengan baik, mereka akan menghampiri mereka untuk sekedar salam sapa atau melakukan perbincangan.


Sementara suasana hati di dalam aula begitu hidup dan penuh bahagia, Xian Zi Xuan sedang dalam suasana hati yang buruk. Sejak ia meninggalkan taman kekaisaran, tempat peristirahatan nya tidak pernah sepi dari para pengunjung baik itu dari para bangsawan atau utusan dari Kekaisaran lainnya maupun para gadis yang entah berasal dari mana saja sehingga membuat niatnya untuk pergi ke halaman Bunga Mekar yang merupakan tempat tinggal Pei Shi Liang tidak terlaksana.


Karena hal inilah ia pergi ke aula utama dengan wajah yang gelap. Yang sangat berbeda dengan wajah tamu lainnya yang oenuh senyum kegembiraan. Membuat Xian Mu Xuan yang datang bersamanya pun tidak berani berkata sepatah katapun. Takut ucapannya akan menjadi racun baginya yang akan membuat kakaknya itu marah padanya.


Begitu pun saat ia ia masuk ke dalam aula utama. Udara di sekitarnya seakaan tersedot ke arahnya dan membuat semua orang tercekat dan sulit bernapas. Semua orang secara tidak sadar menarik keberadaan mereka daripada mencari perhatian seperti yang mereka lakukan sebelumnya saat orang-orang penting seperti dia masuk ke dalam aula.


Yang paling menonjol dari semua adalah ekspresi wajah para gadis. Jika sebelumnya mereka akan diam-diam mencuri pandang pada Xian Zi Xuan di mana pun dia berada, kali ini mereka justru seperti berusaha untuk menghindari kontak mata dengannya dengan ekspresi yang aneh.


"Apa kamu sudah dengar apa yang Putra Mahkota Shixian lakukan pada Putri ke Sembilan?" Seorang gadis berbisik dengan hati-hati pada gadis di sebelahnya.


"Ya. Aku dengar putri ke Sembilan sampai saat ini masih menangis di kamarnya dan menolak untuk bertemu siapapun. Bahkan Selir Hua gagal menemuinya."


"Sayang sekali. Aku tidak menyangka jika Putra Mahkota Shixian akan dengan terus terang mengusir dan bajkan menghina seorang putri yang dengan ramah mengunjunginya."


"Iya. Aku rasa Putra Mahkota Shixian memang keterlaluan dalam hal ini. Bagaimana pun ini adalah Kekaisaran Shao. Apakah ini yang dilakukan semua pemuda di Kekaisaran Shixian? Lagipula dia adalah seorang Putra Mahkota yang menjadi panutan semua orang. Bagaimana jika semua orang menirunya? Aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika semua orang bertindak seperti itu."


"Syuut. Jangan bicara lagi. Apa kalian tidak pernah mendengar jika Dinding dan lantai di istana memiliki telinga dan mulut? Apa kalian tidak takut akan mendapat masalah karena hal ini?" Kedua orang yang sedang bergosip itu terkejut dan segera menoleh ke belakang. Mereka mengenali suara orang yang telah memperingatkan mereka.


Pei Shi Liang baru saja masuk beberapa saat sebelum Xian Zi Xuan dan rombongannya masuk. Ia sedang menuju ke tempatnya sendiri ketika ia mendengar para gadis ini mulai bergosip. Ia cukup terkejut saat semua orang tiba-tiba tercekat dan mendengar jika Xian Zi Xuan adalah orang yang kejam ketika ia merasa jika Xian Zi Xuan adalah seorang yang tidak tahu malu dan menjengkelkan. Namun saat ia melihat ke arah pintu masuk, ia mengernyit melihat wajah Xian Zi Xuan yang memang lebih banyak terlihat aneh daripada menakutkan.


"Tuan Putri. Putri ke delapan. Mohon maafkan kami. Kami tidak bermaksud untuk bergosip di sini." Kedua gadis itu segera membungkuk kan tubuh mereka meminta maaf.


"Hari ini aku hanya mengingatkan kalian mengingat hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Kekaisaran Shao. Jika lain kali aku mengetahui kalian bergosip lagi mengenai anggota kerajaan ini atau kerajaan lain, aku tidak akan tinggal diam lagi. Aku tidak bisa membiarkan orang dari Kekaisaran lainnya menilai semua gadis akan sama dengan kalian yang suka bergosip dan menyebarkan berita yang tidak jelas kebenarannya." Pei Shi Liang melirik sinis kedua gadis itu.


"Terima kasih. Terima kasih atas kemurahan hati Putri."


"Kami akan mengingatnya dengan baik Putri."


Pei Shi Liang tidak menjawab lagi dan hanya terus berjalan menuju tempat di depan dimana tempat para putri dan pengeran berada.


Sementara para tamu berbincang sesuai dengan tamu lain, para selir Kaisar juga Melakukan hal yang sama. Namun mereka masih belum masuk ke dalam aula dan hanya menunggu di sebuah ruangan yang ada di dekat aula untuk menunggu Kaisar dan Ratu sehingga mereka dapat masuk bersama dengan mereka.


Seperti ratu Zhu, mereka juga melihat hiasan rambut Phoenix yang merupakan warisan leluhur Keluarga kerajaan Shao yang ada di atas kepala Lu Jing Yu. Sebagian dari mereka juga pernah bermimpi untuk memakai hiasan rambut itu karena jika mereka dapat mamakai nya, itu berarti status mereka akan meningkat.


"Dulu Aku mengira jika Selir Su yang akan menjadi pewaris dari hiasan rambut Phoenix emas mengingat Selir Su adalah keponakan Ibu Suri." Seorang selir berbicara dengan keras untuk mencoba memprovokasi Selir Su.

__ADS_1


"Benar. Lagipula Selir Su juga adalah selir kesayangan Kaisar. Bahkan ratu juga harus menunggu untuk dikunjungi Yang Mulia dibandingkan dengannya yang paling sering dikunjungi. Namun aku tidak menyangka bahkan hiasan rambut Phoenix emas juga tidak dapat dimenangkannya." Selir lainnya ikut berbicara setelah satu orang mengangkat pembicaraan.


Selir Su juga berada di dalam ruangan yang sama. Tentu saja ia mendengar dengan jelas setiap kata yang mereka ucapkan. Dia juga mengerti jika tujuan mereka adalah untuk memprovokasi nya. Selir Su menghela napas. Bukannya Ibu Suri tidak pernah berniat untuk memberikannya padanya, tetapi ia lah yang menolaknya.


Meskipun dengan memakai Hiasan rambut Phoenix emas bisa dikatakan memiliki status satu tingkat di bawah ratu, itu masih dapat menimbulkan bahaya untuknya. Belum lagi memakai hiasan rambut Phoenix emas di kepalanya di depan para wanita ini, menjadi selir kesayangan Kaisar saja sudah membuatnya menjadi sasaran amarah mereka.


"Selir Su. Bagaimana menurutmu? Selama ini kamu adalah kesayangan Yang Mulia. Tetapi kamu bahkan tidak memenuhi syarat untuk memakai Hiasan rambut Phoenix emas. Apakah kamu merasa pahit sekarang?"


"Memang Tidak dapat dipungkiri jika memakai Hiasan rambut Phoenix emas adalah suatu harapan dan mimpi setiap wanita yang tinggal di istana ini. Namun tidak sembarang orang dapat memakainya. Hiasan rambut Phoenix emas melambangkan kebijaksanaan dan keangunan pemakainya. Namun selain kedua hal itu, orang sering melupakan mengenai ketegasan dan keberanian. Mungkin karena aku yang memang tidak layak untuk itu jadi aku tidak memiliki kesempatan. Tetapi bisa melayani Yang Mulia di sisinya adalah yang paling penting bagiku. Apalagi saat ini menantu ku lah yang memakainya. Tentu saja aku merasa bangga. Entah itu aku atau menantuku yang memakainya, bukankah akan sama saja?" Jawab Selir Su dengan santai. Semua orang terdiam.


"Heem... Lagipula menurutku daripada kalian penasaran memikirkan bagaimana perasaanku, bukankah kalian seharusnya juga memikirkan bagaimana perasaan kalian? Setidaknya aku pernah menyentuhnya dengan tanganku sendiri. Bahkan memakaikannya di atas kepala Ibu Suri. Dan bahkan sekarang hiasan rambut itu telah dimiliki oleh menantuku. Sehingga jika aku bahkan ingin mencoba memakainya, aku memiliki banyak kesempatan di masa depan. Namun kalian, Sudah sejak lama kalian berada di istana ini namun hanya untuk memegangnya saja kalian tidak akan memiliki keberuntungan seperti itu. Jadi bagaimana perasaan kalian?" Selir Su tersenyum mengejek semua selir itu. Yang diam-diam mengepalkan tangannya dengan erat. Membuat kuku panjang mereka menancap dan hampir merobek kulit.


*


*


~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_180🍀~


Terima kasih sudah mampir 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟


Lampu jalan menyala dengan semarak di sepanjang jalan di istana. Koridor-koridor yang bahkan jarang dilakui orang pun malam ini tampak terang dengan puluhan lentera yang berjajar di sisi kiri dan kanan. Suara musik yang merdu terdengar bertalu-talu membuat suasana hati menjadi terangkat bahagia. Bukan hanya suara musik yang bergema, suara tawa dan orang-orang yang sibuk berbicara juga semakin menambah semarak.


Para tamu berdandan dengan penampilan terbaik mereka. Jubah-jubah berkibar dengan pantasnya. Belum lagi penampilan para wanita yang berlomba untuk tampil menonjol di acara yang bersejarah itu. Gemerincing hiasan rambut seiring gemerisik merdu yang berasal dari angin yang bertiup di sela-sela ranting dan dedaunan.


Para penari melenggak-lenggok dengan tubuh mereka yang lentur di depan semua tamu. Dengan gaun yang indah dan warna cerah. Setiap mereka bergerak, suara gelang kaki akan terdengar. Mereka melambaikan tangan, menghentakkan kaki, memutar tubuh. Wajah mereka yang cantik terus tersenyum manis menyapa para tamu. Bukan rahasia lagi jika para penari ini juga memiliki niat untuk menggoda para tamu. Jika mereka beruntung, mereka mungkin menarik hati para tamu baik itu pangeran maupun para bangsawan yang akan membawa mereka pulang untuk dijadikan Selir. Jadi mereka menampilkan penampilan paling sempurna mereka.


Kasim yang berada di pintu masuk aula akan mengumumkan para tamu yang baru saja hadir dalam acara. Setiap kali Kasim berteriak mengumumkan kehadiran salah satu tamu, para tamu yang telah hadir lebih dulu dan berada di dalam segera menoleh dan memperhatikan mereka. Jika tamu itu mereka kenal dengan baik, mereka akan menghampiri mereka untuk sekedar salam sapa atau melakukan perbincangan.


Sementara suasana hati di dalam aula begitu hidup dan penuh bahagia, Xian Zi Xuan sedang dalam suasana hati yang buruk. Sejak ia meninggalkan taman kekaisaran, tempat peristirahatan nya tidak pernah sepi dari para pengunjung baik itu dari para bangsawan atau utusan dari Kekaisaran lainnya maupun para gadis yang entah berasal dari mana saja sehingga membuat niatnya untuk pergi ke halaman Bunga Mekar yang merupakan tempat tinggal Pei Shi Liang tidak terlaksana.


Karena hal inilah ia pergi ke aula utama dengan wajah yang gelap. Yang sangat berbeda dengan wajah tamu lainnya yang oenuh senyum kegembiraan. Membuat Xian Mu Xuan yang datang bersamanya pun tidak berani berkata sepatah katapun. Takut ucapannya akan menjadi racun baginya yang akan membuat kakaknya itu marah padanya.


Begitu pun saat ia ia masuk ke dalam aula utama. Udara di sekitarnya seakaan tersedot ke arahnya dan membuat semua orang tercekat dan sulit bernapas. Semua orang secara tidak sadar menarik keberadaan mereka daripada mencari perhatian seperti yang mereka lakukan sebelumnya saat orang-orang penting seperti dia masuk ke dalam aula.


Yang paling menonjol dari semua adalah ekspresi wajah para gadis. Jika sebelumnya mereka akan diam-diam mencuri pandang pada Xian Zi Xuan di mana pun dia berada, kali ini mereka justru seperti berusaha untuk menghindari kontak mata dengannya dengan ekspresi yang aneh.


"Apa kamu sudah dengar apa yang Putra Mahkota Shixian lakukan pada Putri ke Sembilan?" Seorang gadis berbisik dengan hati-hati pada gadis di sebelahnya.


"Ya. Aku dengar putri ke Sembilan sampai saat ini masih menangis di kamarnya dan menolak untuk bertemu siapapun. Bahkan Selir Hua gagal menemuinya."


"Sayang sekali. Aku tidak menyangka jika Putra Mahkota Shixian akan dengan terus terang mengusir dan bajkan menghina seorang putri yang dengan ramah mengunjunginya."

__ADS_1


"Iya. Aku rasa Putra Mahkota Shixian memang keterlaluan dalam hal ini. Bagaimana pun ini adalah Kekaisaran Shao. Apakah ini yang dilakukan semua pemuda di Kekaisaran Shixian? Lagipula dia adalah seorang Putra Mahkota yang menjadi panutan semua orang. Bagaimana jika semua orang menirunya? Aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika semua orang bertindak seperti itu."


"Syuut. Jangan bicara lagi. Apa kalian tidak pernah mendengar jika Dinding dan lantai di istana memiliki telinga dan mulut? Apa kalian tidak takut akan mendapat masalah karena hal ini?" Kedua orang yang sedang bergosip itu terkejut dan segera menoleh ke belakang. Mereka mengenali suara orang yang telah memperingatkan mereka.


Pei Shi Liang baru saja masuk beberapa saat sebelum Xian Zi Xuan dan rombongannya masuk. Ia sedang menuju ke tempatnya sendiri ketika ia mendengar para gadis ini mulai bergosip. Ia cukup terkejut saat semua orang tiba-tiba tercekat dan mendengar jika Xian Zi Xuan adalah orang yang kejam ketika ia merasa jika Xian Zi Xuan adalah seorang yang tidak tahu malu dan menjengkelkan. Namun saat ia melihat ke arah pintu masuk, ia mengernyit melihat wajah Xian Zi Xuan yang memang lebih banyak terlihat aneh daripada menakutkan.


"Tuan Putri. Putri ke delapan. Mohon maafkan kami. Kami tidak bermaksud untuk bergosip di sini." Kedua gadis itu segera membungkuk kan tubuh mereka meminta maaf.


"Hari ini aku hanya mengingatkan kalian mengingat hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Kekaisaran Shao. Jika lain kali aku mengetahui kalian bergosip lagi mengenai anggota kerajaan ini atau kerajaan lain, aku tidak akan tinggal diam lagi. Aku tidak bisa membiarkan orang dari Kekaisaran lainnya menilai semua gadis akan sama dengan kalian yang suka bergosip dan menyebarkan berita yang tidak jelas kebenarannya." Pei Shi Liang melirik sinis kedua gadis itu.


"Terima kasih. Terima kasih atas kemurahan hati Putri."


"Kami akan mengingatnya dengan baik Putri."


Pei Shi Liang tidak menjawab lagi dan hanya terus berjalan menuju tempat di depan dimana tempat para putri dan pengeran berada.


Sementara para tamu berbincang sesuai dengan tamu lain, para selir Kaisar juga Melakukan hal yang sama. Namun mereka masih belum masuk ke dalam aula dan hanya menunggu di sebuah ruangan yang ada di dekat aula untuk menunggu Kaisar dan Ratu sehingga mereka dapat masuk bersama dengan mereka.


Seperti ratu Zhu, mereka juga melihat hiasan rambut Phoenix yang merupakan warisan leluhur Keluarga kerajaan Shao yang ada di atas kepala Lu Jing Yu. Sebagian dari mereka juga pernah bermimpi untuk memakai hiasan rambut itu karena jika mereka dapat mamakai nya, itu berarti status mereka akan meningkat.


"Dulu Aku mengira jika Selir Su yang akan menjadi pewaris dari hiasan rambut Phoenix emas mengingat Selir Su adalah keponakan Ibu Suri." Seorang selir berbicara dengan keras untuk mencoba memprovokasi Selir Su.


"Benar. Lagipula Selir Su juga adalah selir kesayangan Kaisar. Bahkan ratu juga harus menunggu untuk dikunjungi Yang Mulia dibandingkan dengannya yang paling sering dikunjungi. Namun aku tidak menyangka bahkan hiasan rambut Phoenix emas juga tidak dapat dimenangkannya." Selir lainnya ikut berbicara setelah satu orang mengangkat pembicaraan.


Selir Su juga berada di dalam ruangan yang sama. Tentu saja ia mendengar dengan jelas setiap kata yang mereka ucapkan. Dia juga mengerti jika tujuan mereka adalah untuk memprovokasi nya. Selir Su menghela napas. Bukannya Ibu Suri tidak pernah berniat untuk memberikannya padanya, tetapi ia lah yang menolaknya.


Meskipun dengan memakai Hiasan rambut Phoenix emas bisa dikatakan memiliki status satu tingkat di bawah ratu, itu masih dapat menimbulkan bahaya untuknya. Belum lagi memakai hiasan rambut Phoenix emas di kepalanya di depan para wanita ini, menjadi selir kesayangan Kaisar saja sudah membuatnya menjadi sasaran amarah mereka.


"Selir Su. Bagaimana menurutmu? Selama ini kamu adalah kesayangan Yang Mulia. Tetapi kamu bahkan tidak memenuhi syarat untuk memakai Hiasan rambut Phoenix emas. Apakah kamu merasa pahit sekarang?"


"Memang Tidak dapat dipungkiri jika memakai Hiasan rambut Phoenix emas adalah suatu harapan dan mimpi setiap wanita yang tinggal di istana ini. Namun tidak sembarang orang dapat memakainya. Hiasan rambut Phoenix emas melambangkan kebijaksanaan dan keangunan pemakainya. Namun selain kedua hal itu, orang sering melupakan mengenai ketegasan dan keberanian. Mungkin karena aku yang memang tidak layak untuk itu jadi aku tidak memiliki kesempatan. Tetapi bisa melayani Yang Mulia di sisinya adalah yang paling penting bagiku. Apalagi saat ini menantu ku lah yang memakainya. Tentu saja aku merasa bangga. Entah itu aku atau menantuku yang memakainya, bukankah akan sama saja?" Jawab Selir Su dengan santai. Semua orang terdiam.


"Heem... Lagipula menurutku daripada kalian penasaran memikirkan bagaimana perasaanku, bukankah kalian seharusnya juga memikirkan bagaimana perasaan kalian? Setidaknya aku pernah menyentuhnya dengan tanganku sendiri. Bahkan memakaikannya di atas kepala Ibu Suri. Dan bahkan sekarang hiasan rambut itu telah dimiliki oleh menantuku. Sehingga jika aku bahkan ingin mencoba memakainya, aku memiliki banyak kesempatan di masa depan. Namun kalian, Sudah sejak lama kalian berada di istana ini namun hanya untuk memegangnya saja kalian tidak akan memiliki keberuntungan seperti itu. Jadi bagaimana perasaan kalian?" Selir Su tersenyum mengejek semua selir itu. Yang diam-diam mengepalkan tangannya dengan erat. Membuat kuku panjang mereka menancap dan hampir merobek kulit.


*


*


~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_180🍀~


Terima kasih sudah mampir 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟

__ADS_1


__ADS_2