
Hamilnya Lu Jing Yu menjadi salah satu hal yang paling diperhatikan oleh semua orang di istana. Pada saat ini para pangeran masih belum ada yang memiliki putra. Mereka hanya memberi cucu perempuan pada Kaisar yang membuat Kaisar khawatir akan nasib garis keturunannya. Setiap pangeran selalu memiliki istri lebih dari satu untuk mematikan adalah keturunan laki-laki dalam keluar.
Masalah mengangkat Selir di kediaman Raja Rui kali ini mulai dibahas lagi. Sebelumnya karena mengkhawatirkan kondisi mental Lu Jing Yu yang akan mempengaruhi kehamilannya barulah Kaisar dan para menteri menyerah untuk mendesak Pei Zhang Xi. Tetapi saat ini, kabar yang menyebutkan bahwa kehamilan Lu Jing Yu mengalami keguhuran telah menyebar di setiap sudut di ibukota. Masalah ini pun lambat laun akan dibahas kembali.
"Tugas kalian hanya harus menyebarkan bahwa ini adalah bahwa permaisuri Rui sebenarnya tidak layak mengandung penerus kekaisaran. Maka dari itu dewa mengambil anaknya tidak lama setelahnya. Raja Rui yang hebat tidak pantas memiliki seorang istri yang bahkan tidak bisa menjaga kehamilannya. Apa kalian paham?" Seorang laki-laki berdiri di depan beberapa orang perempuan di sebuah gang di ibukota.
"Kami mengerti."
"Bagus. Semakin banyak kalian menyebarkannya semakin bagus. Kalian juga bisa menambah bumbu untuk semakin membuat semarak berita ini." Tambah laki-laki itu tersenyum puas.
"Itu hal mudah bagi kami. Anda tenang saja tuan."
"Hahahaha. Baiklah. Ini adalah upah kalian. Jika kalian berhasil kali ini aku akan menggandakan upah kalian ini."
"Terima kasih tuan. Anda tidak perlu khawatir. Tugas semudah ini akan kami lakukan dengan baik." Semua wanita tersenyum melihat bantalan koin di tangan mereka.
"Oke aku akan pergi." Laki-laki membuka kipas di tangannya dan berjalan dengan angkuh meninggalkan para wanita yang sedang sibuk menghitung uang mereka.
Dengan bantuan para wanita ini, sekali lagi 3ibukota panas dengan gosip. Setiap orang di kedai teh maupun restoran. Di setiap jalanan maupun di dalam rumah tidak ada yang tidak membicarakannya.
Namun saat ini tempat yang paling ramai adalah kediaman Raja Rui. Lu Qin Hao yang belum sempat mengunjungi putrinya setelah kembali dari perbatasan secara langsung segera bergegas untuk melihat keadaan putrinya. Du Mei dan Lu Jing Yi juga ikut datang berkunjung.
Lu Jing Yu sebenarnya menjalankan perannya dengan baik. Dengan kemampuan rias yang dipelajarinya di dunia asalnya, ia telah membuat dirinya sendiri tampak sakit dan terlihat pucat. Berbaring di atas ranjang dengan pakaian putih yang semakin menambah kesuraman.
"Ayah tahu kamu pasti sangat bersedih putriku." Lu Qin Hao melihat Lu Jing Yu yang pucat dan tanpa cahaya mulai menghela napasnya.
__ADS_1
"Suamiku keluarlah dulu. Yu'er pasti membutuhkan seorang ibu saat ini untuk menenangkannya." Du Mei menghampiri Lu Qin Hao yang duduk di ranjang Lu Jing Yu.
Lu Qin Hao ragu untuk sejenak. Tetapi setelah berpikir bahwa mungkin hanya persamaan seorang perempuan putrinya baru akan merasa kuat. Sesama perempuan akan saling mengerti.
"Baiklah. Ayah akan keluar dulu." Lu Qin Hao berjalan keluar ruangan dengan lesu. Saat ia sampai duit kurang ruangan ia bertemu dukungan seluruh Su yang langsung merengek pada Kaisar untuk diizinkan datang begitu mendengar kabar.
"Bagaimana keadaan Yu'er menteri Lu?" Tanya Selir Su dengan khawatir.
"Yu'er adalah gadis yang kuat. Dia akan pulih dengan cepat." Jawab Lu Qin Halo stabil berlalu dan duduk di kursi batu. Selir Su menghela napas. Kehilangan calon bayinya adalah pukulan terbesar bagi seorang ibu. Saat ini ia tidak tega melihat Lu Jing Yu yang baru saja kehilangan anaknya. Jadi dia tidak masuk ke dalam kamar Lu Jing Yu seenaknya seperti biasanya. Sebaliknya ia menunggu dengan tenang bersama Lu Qin Hao di luar ruangan.
Di dalam kamar, Du Mei dan Lu Jing Yi melakukan tugasnya sebagai ibu dan saudara tiri yang baik. Du Mei duduk di tempat Lu Qin Hao sedangkan Lu Jing Yi berdiri di sampingnya dan mulai menghibur Lu Jing Yu dengan semua perkataan manis. Semua perkataan dan tindakan Lu Jing Yu yang sangat berbeda di kediaman hari itu tidak lagi mereka ingat.
"Yu'er, kehilangan anaknya seorang wanita memamg sangat menyakitkan. Tetapi juga bukan menjadi akhir segalanya. Kamu masih bisa hamil lagi di masa depan. Jadi jangan terlalu khawatir. Yang perlu kamu khawatirkan saat ini adalah posisimu di kediaman ini. Jangan sampai putri dari Chu Timur itu menggantikan posisimu. Kamu harus bisa menjaga posisimu sebagai Permaisuri Rui dengan baik. Itu sebabnya kamu harus membiarkan Yi'er membantumu. Bujuk raja Rui untuk mengangkat Yi'er sebagai selir juga. Jangan biarkan putri Chu Timur itu menguasai kediaman ini di masa depan. " Ucap Du Mei sambil mengelus punggung tangan Lu Jing Yu. Jika tidak mengingat bahwa saat ini ia sedang bermain peran, ia sudah akan segera memberi apresiasi tepuk tangan kepada wanita berkepala dua ini.
"Ibu berkata benar kakak. Kami semua mengkhawatirkan keadaanmu jika sampai putri Chu Timur itu berkuasa di sini. Jika aku berada di kediaman ini bersamamu, aku akan membantumu memmempertahankan posisi permaisuri Rui padamu. Aku akan melindungi kakak dari putri Chu Timur yang keras kepala itu." Lu Jing Yi juga mulai memainkan perannya.
"Yang dikatakan Yi'er benar. Putri apa yang masih keras kepala padahal sudah ditolak di depan umum. Jika aku memiliki putri seperti itu, lebih baik aku sendiri yang membunuhnya dengan menenggelamkannya. Sungguh membuat orang malu."
Pada saat mendengar ucapan Du Mei, Lu Jing Yu hampir kehilangan kendalinya untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Jika memang seperti itu, kenapa tidak menenggelamkan putri yang ada di depanmu saat ini juga? Lu Jing Yu tidak bisa mengatakan ini di depan kedua orang yang sangat pandai bersandiwara ini.
"Terima kasih ibu, Lu Jing Yi, aku akan membicarakannya nanti dengan Yang Mulia saat Yang Mulia kembali dari istana." Lu Jing Yu menyerah untuk menemani kedua orang itu berakting. Melihat keduanya terlalu lama membuatnya mual. Jadi dia hanya bisa berpura-pura menuruti keinginan mereka sehingga mereka bisa secepatnya pergi dari hadapannya.
Du Mei dan Lu Jing Yi saling memandang dan tersenyum samar. Lalu mereka segera pamit untuk pulang. Lagipula tujuan mereka sudah terpenuhi. Jadi tidak ada gunanya lagi mereka masih bertahan di sini.
Setelah kedua orang itu keluar, Lu Jing Yu meminta Xiao Bei untuk segera membawakannya baskom. Setelah itu Lu Jing Yu kembali muntah. Inilah yang dilihat Selir Su begitu ia masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Yu'er apa yang terjadi? Mana yang tidak nyaman sayang? Katakan pada ibu." Selir Su berlari panik menghampiri Lu Jing Yu yang masih menguras isi perutnya yang dengan susah payah ia isi di pagi hari.
Lu Jing Yu masih tidak bisa bereaksi. Ia hanya bisa mengangkat tangannya memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.
"Terima kasih Xiao Bei." Ucap Lu Jing Yu setelah Xiao Bei membantunya mengelap bibirnya.
"Yu'er bukankah kamu keguguran. Kenapa kamu masih mual?"
Lu Jing Yu menatap Selir Su yang tampak bingung di depannya dengan rasa bersalah.
"Apakah kamu..." Lu Jing Yu mengangguk dan tersenyum lembut sebelum Selir Su menyelesaikan ucapannya.
"Berkah surga! Berkah surga!" Selir Su mengabaikan semuanya dan mulai melompat-lompat bahagia sebelum memeluk Lu Jing Yu dengan erat.
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_64♡
*
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .
__ADS_1